Cerpen Surat Tanah

Aku sudah tua, Nak. Tidak mungkin aku mati sambil membawa surat tanah.
SHARE
Cerpen Surat Tanah
SOLOPOS.COM - Panduan Informasi dan Inspirasi

Solopos.com, SOLO — Di kepalaku, seakan tumbuh semak belukar berduri. Sulur-sulur batangnya menjalar memenuhi setiap ruang di otakku. Duri-durinya menusuk-nusuk urat saraf.

Kepalaku sering terasa nyeri dan kaku. Apalagi bola mataku, seperti bola bekel yang hendak memantul ke layar monitor, yang hampir seharian aku pandangi di meja kerja.
Tugasku, selain mendata barang yang masuk, maupun barang keluar, aku juga harus mengatur jadwal meeting atasan, menangani komplain dari perusahaan mitra, maupun mewakili atasan dalam sebuah pertemuan.

PromosiHari Keluarga Nasional: Kudu Tepat, Ortu Jangan Pelit Gadget ke Anak!

Merangkap tugas seperti ini sudah menjadi langganan karyawan pabrik. Setiap tahun perusahaan melakukan banyak pengurangan karyawan untuk mengurangi beban gaji.

Tetapi, setiap bidang harus tetap terisi tenaga kerja, agar semua target tercapai dan pemasukan laba stabil, bahkan kalau perlu pemasukan meningkat dengan beban pengeluran yang semakin sedikit.

Surat untuk Bunda Selvi Gibran

Sungguh, andai kepala ini buatan manusia, mungkin sudah sejak dulu mengalami eror, dan tidak bisa diperbaiki, mungkin sudah harus dibuang ke kali.

Untuk menyiasati agar tidak stres, aku meluangkan waktu menghirup udara pagi. Atau seusai kerja aku bersantai di warung kopi.

Selain itu, di hari libur aku kadang meluangkan waktu berkunjung ke tempat Wak Zainal, lelaki tua yang usianya mendekati angka 70 tahunan itu. Ia tinggal di sebuah desa yang tidak begitu jauh dari tempat tinggalku.

Kadang aku bersepeda ke tempat Wak Zainal. Membutuhkan waktu sekitar 15 menit untuk sampai di rumahnya. Suasana asri khas pedesaan kentara sekali. Suara-suara burung pagi. Angin sepoi-sepoi. Sepanjang mataku memandang penuh hijau pepohonan dan tanaman para petani.

Aku memilih duduk di balai bambu di samping rumah Wak Zainal. Nikmat rasanya merasakan angin semilir menyentuh kulit, memandangi hamparan padi yang mulai menguning.

Sesekali kulihat Wak Zainal membetulkan letak selang air yang menjulur ke sawahnya. Supaya tidak macet saat dialiri air, katanya.

“Sebentar lagi panen ya, Wak,” kataku.

“Alhamdulillah, Nak. Setelah sebelumnya gagal, akhirnya aku akan bisa makan dari hasil tanah sendiri.” Ada kebahagiaan yang memancar dari wajah keriputnya.

Aku sering merasa iba bila melihat Wak Zainal. Ia tinggal seorang diri di sebuah rumah yang hampir tidak layak huni. Gentingnya bocor kala hujan. Dindingnya mulai mengelupas.

Lantai plesternya penuh tambalan semen. Bila angin sedang kencang-kencangnya, aku khawatir rumahnya ambruk. Aku pernah mengajaknya tinggal bersama. Tapi Wak Zainal menolak. Ia terlihat lebih senang tinggal di rumah sendiri.

Istrinya sudah lama tiada. Setiap awal bulan, setelah gajian, aku sisakan beberapa uang untuk kebutuhan hidupnya. Ia juga suka sekali rujak lontong. Kadang aku bawakan satu bungkus untuknya. Meski awalnya, Wak Zainal enggan menerima setiap pemberianku.

“Tidak baik menolak rezeki, Wak,” kataku sambil tersenyum.

“Nak Ahmad pintar sekali merayu.” Wak Zainal menimpali.

“Bukan begitu, Wak. Aku kan, ingin menabung pahala untuk akhiratku kelak,” jawabku.

Terlihat berat tangan Wak Zainal meraih bingkisan maupun amplop uang yang aku berikan padanya. Tak terasa, kadang hampir seharian kami ngobrol.

Wak Zainal sering bercerita banyak hal tentang hidupnya, dan perjuangan mempertahankan tanah tempat tinggalnya. Ya, lahan-lahan milik warga banyak yang dijual, dan pembelinya membangun pabrik-pabrik industri, katanya.

“Nak Ahmad apa sudah dengar kalau akan ada penambangan fosfat di banyak daerah di kota ini?”

“Sudah, Wak. Bukankah dampaknya baik buat APBD, dan orang-orang sekitar?”

“Apakah kelak, krisis air akibat penambangan itu dampaknya baik bagi masyarakat, dan generasi-generasi setelah kita, Nak?”

Kemudian hening. Kami seperti masih berada dalam pikiran kami masing-masing. Bila sudah begitu, Wak Zainal biasanya akan mengalihkan pembicaraan mengenai hasil tanamannya. Sebelum tanaman padi ini, sudah dua kali ia gagal panen.

Sejak hujan sulit diprediksi, para petani kerap cemas, katanya. Seperti tanaman jagung yang kering karena kekurangan air. Belum lagi binatang sawah seperti tikus, burung dan babi. Bukan hanya tidak balik modal, tapi Wak Zainal tidak mendapatkan hasil apa-apa.

Belum lagi urusannya dengan Mak Narti, tetangga jauhnya, tempat biasa Wak Zainal dan para petani lainnya mengambil bibit tanaman, seperti bibit jagung bisi atau bibit padi, juga pupuk ponska. Dan semua itu akan dibayar setelah musim panen tiba.

Bila telat membayar sampai tanggal jatuh tempo, maka pembayarannya berbunga dua puluh persen setiap bulannya.

“Meski begitu, kita tidak boleh lupa bersyukur, apalagi sampai kufur sama Allah,” kata Wak Zainal.

Wak Zainal juga kerap bercerita tentang istrinya yang sudah tiada. Seorang istri yang sangat dicintainya sampai saat ini. Sampai ia enggan menikah lagi. Setelah itu, wajahnya akan terlihat sendu dan mata tuanya berkaca-kaca.

Bila hujan turun dan aku sedang sendirian di rumah, aku memikirkan Wak Zainal di rumahnya. Hidup sebatang kara, jauh dari sanak saudara. Hidup mengandalkan hasil bertani yang tidak seberapa. Sejenak aku berpikir, bagaimana nasibku kelak kalau sudah tua?

***

Ia seorang pemuda yang baik. Nak Ahmad, aku memanggilnya. Usianya mungkin 27 tahun. Entahlah. Ia bekerja di sebuah perusahaan di kota ini.

Nak Ahmad sering berkunjung ke rumah ini. Kadang, ia membawa rujak lontong dan bertanya bagaimana kabarku? Ia kerap menyuruhku tidak usah banyak bekerja. Jagalah kesehatan Wak, pintanya. Mungkin, kalau kau masih ada, Nah, istriku, kau juga akan menyukainya.

Aku sangat malu ketika ia menyodorkan amplop berisi uang dan memaksaku untuk menerimanya. Apalagi, ketika ia pamit pulang, ia bersalaman sambil mencium tanganku dan berkata, kalau ada apa-apa aku harus segera mengabarinya.

Setelah ia berjalan agak jauh meninggalkan tempat ini, aku menangis. Ternyata, masih ada pemuda sebaik itu, Nah.

Kadang, kalau aku sendirian dan merasa sedih karena menunggu ajal yang tidak kunjung datang agar aku bisa cepat bertemu denganmu, aku memikirkan pemuda itu. Ia sudah aku anggap seperti cucu sendiri.

Aku juga meminta pada Nak Ahmad, kelak kalau aku sudah meninggal, sudilah kiranya ia mengirimi aku doa. Setelah mendengar kalimat itu, kulihat wajah pemuda itu menjadi sendu.

Tetapi, ia pemuda yang pintar. Setelah ia mengiakan permintaanku, ia cepat mengalihkan pembicaraan untuk menghiburku.

Suatu ketika, aku juga bercerita padanya, bagaimana aku sangat mencintaimu. Bagaimana juga kau meninggal dalam keadaan hamil tua dan aku kubur di pekarangan belakang rumah ini.

Kuburanmu yang sekali waktu aku taburi kembang dan aku sirami air pakai kendi. Ya, seperti sekarang ini. Sehingga aku merasa, kau seperti tidak pernah pergi dan masih setia mendengar kisahku, meski aku juga merasa sedih selama ini.

***

Malam ini aku hendak berkunjung ke tempat Wak Zainal. Aku juga berniat menginap di rumahnya. Sudah dua hari ini ia demam. Mungkin, karena ia bekerja terlalu keras, memanen padinya.

Sebetulnya, aku merahasiakan sesuatu dari Wak Zainal. Mengenai kedatanganku ke rumahnya, mengenai kebaikanku, juga kedekatan yang aku bangun dengannya, tidak lain sudah direncanakan.

Aku merupakan salah satu kaki tangan dari sebuah perusahaan yang ingin membeli tanah Wak Zainal yang dari dulu tidak pernah mau dijual.

Tetapi seiring berjalannya waktu, aku mulai merasa jalan yang aku tempuh ini keliru. Dan kepedulianku terhadap Wak Zainal murni adanya. Aku ingin berterus terang padanya. Tetapi, aku khawatir dapat melukai hatinya. Jadi, aku biarkan mengalir apa adanya. Entah sampai kapan.

Tidak lama kemudian aku sudah tiba di kediamannya. Wak Zainal membukakan pintu dan mempersilahkan aku masuk. Saat bersalaman, tangannya terasa panas sekali. Tubuh ringkih yang dibalut sarung itu juga terguncang menahan dingin.

“Obatnya sudah diminum, Wak?” tanyaku.

“Alhamdulillah sudah, Nak Ahmad,” jawabnya.

“Kata dokter, kalau besok masih demam tinggi, Wak harus diopname,” lanjutku.

“Tidak usah, Nak. Besok pasti sudah sembuh,” katanya sambil berjalan menghampiri lemari kayu.

Wak Zainal meraih stopmap lusuh dari lemari itu.

“Simpanlah, Nak,” katanya sambil menyodorkan padaku.

“Apa ini, Wak?”

“Surat tanah, untukmu.”

“Aku tidak bisa menerimanya, Wak.”

“Kenapa?”

“Aku merasa tidak berhak, Wak. Itu surat berharga.”

“Aku sudah tua, Nak. Tidak mungkin aku mati sambil membawa berkas sialan ini, kan?!”

“Tapi Wak?”

“Tidak baik menolak rezeki. Siapa tahu, ini bisa jadi tabungan amalku di akhirat kelak.”

Wak Zainal menirukan kata-kataku sambil tersenyum. Kemudian, lengan lemahnya merangkul tubuhku, “Aku juga sudah tahu semuanya, Nak, tetapi tidak apa-apa,” tambahnya lirih.

Deg! Jantungku terasa berhenti berdegup. Aku masih mematung. Kata-kataku seperti tercekat di tenggorokan. Badanku seperti tak ada daya. Dan mataku terasa panas menahan tangis.

Sidoarjo, 2019-2022

Faruqi Umar, kelahiran 9 April 1993 Sumenep, Madura. Alumni UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.



Kata Kunci : Cerpen Surat Tanah
Berita Terkait
Indeks Berita
Berita Terpopular
Indeks Berita
Berita Lainnya
Indeks Berita
Promo & Events
Berita Terkini
Indeks Berita

Apa yang ingin anda baca?

:
:
Night Mode
Notifications
Support
Privacy
PasswordUpdated 15 days ago