Cerpen Sumur di Dalam Hutan

Sebuah sumur di dalam hutan menyimpan misteri sekaligus masa lalu kelam Saliq saat membuang mayat ke dalam sumur itu.
SHARE
Cerpen Sumur di Dalam Hutan
SOLOPOS.COM - Panduan Informasi dan Inspirasi

Solopos.com, SOLO — Saliq terkejut tatkala kembali melongokkan kepala ke dalam sumur yang kemarin ia temukan di dalam hutan.

“Kenapa tercium bau busuk begini? Apakah ada orang yang menemukan, dan lalu membuang bangkai ke dalamnya?” batin Saliq bertanya-tanya. “Ah, mungkin hanya penciumanku saja yang bermasalah,” batinnya lagi, menenangkan diri.

PromosiTop! Bos Tokopedia Masuk List Most Extraordinary Women Business Leader

Sumur itu terletak di hutan Mbate paling ujung—dekat jurang yang jarang dirambah manusia. Kelihatannya buatan manusia purba, atas asumsi tak mungkin sebuah lubang bundar tercipta begitu saja. Saat pertama kali menemukan, Saliq sempat mengiranya sebagai lubang biasa—atas asumsi tanahnya yang padas.

Sebelum kemudian yakin akan bentuknya yang lingkaran sempurna. Saliq coba melemparkan beberapa batu. Terdengar suara kecipak air di dalamnya. Kecil, dan terasa jauh, mengisyaratkan kedalaman. Khas sumur pegunungan.

“Aaoo…!” Saliq mengujinya dengan suara. Dan bunyi itu pun lagi-lagi sampai ke telinganya dengan sempurna.

Selesai mendapatkan setundun pisang liar—kebiasaan Saliq tatkala menganggur, ia menyengajakan diri menunggui sumur itu. Siapa tahu ternyata sumur itu sudah diketahui orang lain. Namun, hingga hamparan langit berwarna jingga, tak seorang pun terlihat mendekati area tersebut, baik penggembala, penyadap karet Perhutani, maupun perambah hutan lainnya. Lagipula, kalaupun tahu keberadaan sumur ini, apa perlunya mereka?

Mungkin di sekitar sumur itu dulunya ada sebuah perkampungan. Bekasnya tak terlihat lagi, mungkin tertimbun tanah, dan hanya menyisakan sumur ini. Dan mungkin sumur ini pernah digunakan untuk mencukupi kebutuhan air satu atau beberapa keluarga. Bisa juga sumur ini adalah buatan orang sakti yang berniat menepi dari keramaian. Jika benar demikian, tentunya suatu saat nanti, atau mungkin kemarin-kemarin, sudah dilacak oleh para peminat sejarah.

Tapi, sejauh ini kelihatannya aman-aman saja. Hantu? Oh, Saliq sudah membuktikan, seumur hidup ia belum pernah bertemu hantu. Akhirnya Saliq pun memutuskan sebuah rencana yang tak seorang pun boleh tahu.

***

“Ke hutan mau apa, Mbah?” basa-basi Saliq kepada Mbah Marwoto.

“Pakan sapiku sudah habis,” jawab lelaki gaek itu sambil menyelipkan karung dan celurit ke boncengan sepeda kumbangnya.

Saliq hafal dengan kebiasaan Mbah Marwoto tiap pagi sampai petang. Pun juga Kang Harsono yang bertugas menjaga perkebunan karet Perhutani.

“Apa dirimu pernah menemukan benda-benda keramat di hutan, Kang?”

“Maksud Kang Saliq?” tetangganya itu balik tanya.

“Ya, semacam keris, petilasan, atau malah… sumur tua?”

Tertawa, “Wahaha… kalau bendot-bendot beginian,” dua telunjuknya bertemu dan bergerak bersama, “malah pernah. Beberapa kali.”

Saliq bernapas lega. Meski satu jalur, sumur tua itu memang lumayan jauh dari wilayah Perhutani. Selain keluarga Murni, yang paling diwaspadai Saliq adalah Maonah. Perempuan ini penghidupannya bersumber dari hutan. Apa pun hasil hutan bisa dijadikannya duit, dari mulai kayu bakar, daun jati, daun pisang, pisang liar, sawo, petai cina, bahkan rumput.

Sejak suaminya tiada, perempuan itu seolah telah menjadi penunggu hutan. Ia keluar dari hutan hanya saat hendak menjual semua perolehan dari hutan, dan tentu saja istirahat di rumah. Saliq tak bisa mengira-ngira sejauh mana jangkauan langkah kaki perempuan itu.

Bermalam-malam Saliq memikirkan Maonah. Bagaimana seandainya perempuan itu ternyata mengetahui letak sumur tersebut? Kapan waktu terbaik Saliq untuk melaksanakan rencananya? Ini tentang rencana itu, yang jelas akan berkait dengan rencana-rencana Saliq yang lain.

***

“Kapan Kang Saliq datang menghadap Bapak?” Rantini menggenggam tangan kanan Saliq. Rembulan separuh tertutup awan hitam.

“Sebentar lagi. Kalau proyek besarku sudah selesai, kita cari tanggal pasti,” Saliq tak menolak tangan hangat itu.

“Proyek apa sih, Kang? Aku bantu biar cepat selesai. Lima bulan lagi Bapak sudah bukan lurah lagi. Kalau Kang Saliq tidak cepat-cepat, Bapak akan kesusahan membantu. Beda cerita kalau sudah jadi anak mantu,” meraih wajah Saliq. Ada yang gelisah. Namun tertutupi temaram malam.

“Apa Bapak sudah menyiapkan tanggal?”

“Bapak inginnya bulan depan.”

“Bulan depan?” lumayan terkejut.

“Kang… mencalonkan diri sebagai lurah itu bukan perkara gampang. Mesti banyak main dan lobi sana-sini. Kalau posisimu masih seperti sekarang, apakah kau yakin bisa memengaruhi kelompok orang tua? Masak Bapak yang harus kerja, padahal dirimu belum resmi jadi siapa?”

Terdengar embusan napas berat.

“Kang Saliq sanggup enggak? Memangnya mau menunggu apa lagi?” semakin terdengar emosional.

“Ini juga demi masa depan kita.” Kalimat ini kemudian terus saja mengiang di telinga Saliq. “Dan juga demi…,” mengelus perutnya, “dia semakin membesar, Kang.”

Hingga malam merangkak ke puncak, Saliq masih belum bisa menjinakkan kegelisahannya. Kalimat yang terus mengiang itu telah melukai harga dirinya. Juga melukai cinta tulusnya kepada Rantini. Ataukah kadar cinta semua perempuan memang pada dasarnya bergantung pada khayalannya tentang masa depan?

***

Malam itu Saliq harus menggali masa lalu yang hampir satu tahun ia kubur di dalam kamar. Bukan saja demi Rantini, tapi juga demi mengosongkan kepalanya yang mulai terasa penuh dan berat. Ia tak bisa dan selalu tak kuasa saat membayangkan bercinta di atas dua mayat yang menatapnya penuh dendam. Dua pasang kerangka itu ia masukkan karung dalam kondisi campur baur.

“Aku juga bisa mendapatkan cinta. Jangan pikir cuma kau saja yang bisa!

Ini buktinya! Kamulah yang kopong!” suara Murni berpamitan sebelum pergi membawa kenangan-kenangan tentangnya. Lima tahun berumah tangga tanpa laba. Kata orang-orang, anak adalah laba dari sebuah transaksi bernama rumah tangga.

“Iya, sekarang cinta kalian akan menyatu selamanya. Bawalah labanya sekalian. Tidurlah dengan tenang, dan jangan ganggu aku lagi,” bisik Saliq sambil sesekali menyeka leleran air mata di dagu. Perih, dalam, dan sunyi.

Tiba-tiba ia teringat Maonah. Pada malam-malam yang dingin dan sunyi, Saliq kerap didatangi perasaan bersalah. Perasaan itu membujuknya untuk meminta maaf atau sekadar memastikan kondisi perempuan lugu tersebut.

Apakah ia sehat-sehat saja, apakah kebutuhan hariannya ada yang kurang? Rumah tangga memang kadang sulit dipahami. Meski begitu ada manusia seperti Maonah yang mau saja menyerahkan diri bulat-bulat ke dalamnya tanpa pikiran macam-macam.

Melakukan permintaan perasaan bersalah itu jelas bukanlah perkara gampang. Saliq juga tak berani berlama-lama membayangkan reaksi Rantini andai nanti mengetahui masa lalunya. Hubungannya dengan perempuan ini jelas sebuah transaksi. Meski Rantini selalu menutupinya dengan kata “cinta”. Seolah “cinta” bisa mengubah segala.

Saliq tahu bahwa laba yang dikandung Rantini bukanlah hasil perbuatannya. Kehamilan Murni adalah bukti. Kehamilan setelah ia melakukan transaksi terlarang—yang keberapa, dengan suami Maonah.

Transaksi yang kemudian Saliq pergoki di pinggir hutan, yang tanpa pikir panjang kemudian ia hadiahi kapak. Dan selanjutnya adalah cerita-cerita bohong yang harus ia karang di depan keluarga Murni—bahwa istrinya hilang di hutan.

Rantini membutuhkan bapak atas benih yang ia kandung. Sementara Saliq membutuhkan posisi setelah transaksi perkawinan dengannya berhasil dilakukan. Janin yang dikandung itu adalah alat transaksinya.

Tentu saja Saliq tahu betul siapa bapak Rantini—yang orang nomor satu di kampung. Dengan posisi sebagai lurah, ia gampang saja mengumpulkan kekayaan pribadi. Dari sekadar mengeruk tanah bengkok desa, memanfaatkan warga yang lugu, sampai menarik proyek-proyek yang keuntungannya akan masuk kantong pribadi.

Aib lelaki itu sudah banyak diketahui umum, hanya saja tak ada yang berani menyeret ke ranah hukum. Bukan saja lantaran keluarga dan kaki tangannya banyak, tapi kekayaannya telanjur membuat banyak orang jadi segan.

Sebagai orang baru, Saliq ingin tak punya aib di mata siapa pun. Aib adalah bau busuk yang akan menjauhkanmu dari orang-orang, sekaligus menguarkan omongan-omongan mematikan. Aib harus dikubur dalam. Dan malam itu dirasanya sebagai waktu yang tepat.

Entah sudah berapa jam Saliq menggali. Saat istirahat sejenak, ia tak berani mengikuti kembara lamun. Cukuplah tubuh yang bekerja. Pun saat akhirnya keluar dari rumah.

Burung hantu, anjing hutan, jangkrik, tonggeret, sunyi, dan dingin. Saliq lebih rela mendengarkan suara mereka daripada suara-suara dalam kepala. Ia sudah pernah dan cukup sering melawannya. Sangat berisik dan berat dirasa!

Oleh karenanya harus dibuang dan dikubur ke dalam tempat jauh yang tak diketahui siapa pun. Saliq sudah hafal jalur untuk sampai ke sumur itu. Sudah sepekan lebih ia mengamati sekaligus merencanakan ini. Itulah mengapa ia kaget sekali ketika ternyata menemukan sosok Maonah yang semula ia kira hantu.

“Aku mendengar Kang Parjo memanggil-manggil dari sana,” Maonah menunjuk jalur ke arah sumur tua. Wajahnya kusut sekali. “Tapi orangnya tak juga kutemukan,” suaranya terdengar lelah.

“Aku antar pulang ya?” ujar Saliq, setelah menepis pikiran kiranya harus ada yang disingkirkannya lagi.

“Aku bisa pulang sendiri, Kang,” dengan langkah gontai. “Kang Saliq kok ada di sini?”

“Mm, oh, aku mau buang ini ke jurang. Blumbang rumah sudah enggak muat. Baunya bikin susah tidur, dan aku juga khawatir kalau sampai mengganggu tetangga,” berusaha menguasai kegugupan. Untunglah hingga Maonah lenyap dalam kegelapan, tak terlihat sedikit pun gelagat mencurigakan.

Begitu sampai di bibir sumur, Saliq lekas saja melemparkan karungnya hingga terdengar bunyi “byurr!” tanda bahwa kegelapan akan menyimpannya untuk selama-lamanya. Meski ternyata dugaannya keliru…

“Kau takkan pernah bisa mengubur kami!” sebuah suara tiba-tiba terdengar dari dalam sumur itu.

Demi memastikan kesalahan pendengaran, Saliq rela kembali ke bibir sumur.

“Sampai kapan pun kau takkan pernah bisa mengubur kami!” suara itu membuat Saliq melompat ke belakang.

Saliq lari lintang pukang. Dalam kondisi dibuntuti suara yang terus bergema di dalam kepala, Saliq masih bisa berpikir untuk sebuah rencana. Besok, sumur di dalam hutan itu juga akan ia kubur!

 

Adi Zam-Zam
Penulis, tinggal di Desa Banyuputih RT 011/RW 003 Gg. Masjid Baitush Shamad Kalinyamatan Jepara, Jateng. Cerpen dan puisinya banyak dimuat di media cetak dan online.



Berita Terkait
Indeks Berita
Berita Terpopular
Indeks Berita
Berita Lainnya
Indeks Berita
Promo & Events
Berita Terkini
Indeks Berita

Apa yang ingin anda baca?

:
:
Night Mode
Notifications
Support
Privacy
PasswordUpdated 15 days ago