Cerpen Sambal Tumpang Rusak

“Biasa itu, Mas! Orang kaya memang aneh, punya duit banyak nyatanya sarapan cuma nasi tumpang. Mas lihat kan, yang datang ke sini kebanyakan bermobil?”
Cerpen Sambal Tumpang Rusak
SOLOPOS.COM - Seorang pramusaji di Warung Pecel Laris Manis menunjukkan sambal tumpang khas di warung tersebut, beberapa waktu lalu. (Farid Syafrodhi/JIBI/Solopos)

Di bawah spanduk bertuliskan Sambal Tumpang Rusak, Janu mengamati mobil bersarung debu dan bertaburan daun waru; ia penasaran kenapa kendaraan itu tak bertuan di sudut kawasan pergudangan. Sebagai tukang parkir ia berpikir tak seharusnya mobil terparkir hingga berbulan-bulan lamanya—sementara yang berjejer di sampingnya setiap hari berganti wajah dan cerah seperti matahari pukul sebelas.

Dari awal ia bekerja, mobil putih yang menjadi cokelat di seberangnya selalu diam di tempat. Sebulan lalu ia bertanya pada orang-orang, tetapi hanya dijawab bahwa itu bukan urusannya. Janu pun memilih bungkam, ia terus menjalankan tugasnya dengan baik—memberi aba-aba kendaraan keluar masuk warung makan—ia sadar, roda-roda akan bergerak sesuai sebulan peluit dan gerakan tangannya, tetapi mobil putih di seberangnya tak berpindah sampai hari-hari berikutnya.

Di pagi yang dingin itu, Sumirah sudah tuntas menata baskom berisi sayuran, nampan berisi gorengan, toples berisi rempeyek teridan sambal kacang di atas meja tengah, lalu panci berkuah santan, bakul nasi hangat, cerek air panas dan rendaman serbuk teh di meja kanan, kemudian beberapa piring, gelas, dan sendok di atas meja sebelah kiri tempatnya berdiri.

Sumirah sesekali mencuri pandang Janu di bawah selembar kain yang bergoyang diterpa angin. Sudah lama ia memendam simpati pada tukang parkir itu, baginya lelaki itu tampan meski rompi dan topinya tak pernah ganti berhari-hari dan rambut ikalnya yang tak pernah basah mengambang di atas pundak, pandangan Sumirah terpusat pada ukuran mata, hidung, dan bibir Janu yang tampak unikseperti komposisi cabai, bawang, dan tempe yang digerusnya dan menciptakan ketagihan penikmatnya. Pemilik warung makan yang sudah setahun mempekerjakannya itu berpesan: “Bumbunya harus berjumlah ganjil dan sisakan satu cabai yang tangkainya tak dibuang! Lalu ulek mereka di atas cobek! Bukan blender!”

Sumirah menurut bagaikan beo yang diperintah majikannya—bukan karena bodoh—tapi ia bersyukur, secara tidak langsung Si Majikan telah membocorkan resep rahasia yang membuat warungnya dikerumuni pelanggan. Setiap hari Sumirah melakukan tugasnya dengan baik; menghaluskan bumbu-bumbu itu di atas wadah dari batu, tetapi hingga berhari-hari sesudahnya: Janu tetap tak peduli pada perasaannya.

“Kerja serius, Rah! Jangan banyak melamun!”gertak si majikan tiba-tiba.

“Eh, maaf, Bu!Saya sedang mengawasi Mas Janu,” timpalnya.

“Memang Janu kenapa?” Si Majikan menoleh ke arah lelaki bertopi biru laut itu.

“Ia selalu melihat kantor pergudangan, Bu, padahal di sana tak ada orang. Aneh kan?”

“Owalah, ia mungkin mengincar mobil putih di tepi halaman itu lho! Dasar Janu, bukan urusannya masih saja dipikirkan,” ucap Si Majikan, “kamu tak usah ikut-ikutan! Cepat tata kursi dan gelar tikar!”bentak Si Majikan lantas berjalan ke dalam rumah. Bagaikan adonan bakso yang meloncat dari genggaman ke air mendidih, itulah yang dirasakan jantung Sumirah; ia mengikuti suara majikannya yang lebih keras daripada sepeda motor butut Janu.

Sebentar lagi pukul enam, Sambal Tumpang Rusak lekas dibuka. Sumirah masih memikirkan yang dikatakan majikannya tadi, “Mungkinkah Mas Janu kepengin mobil itu?”

Angan Sumirah mengangkasa melebihi tinggi atap rumah majikannya yang di bagian depan dijadikan warung makan. Kini ia bernapas begitu damai sembari membayangkan Janu duduk di dalam mobil itu lalu keluar membukakan pintu untuknya; lalu mereka berkeliling kota dengan kendaraan yang sudah lusuh sedemikian rupa.

“Teh hangat pahit dan nasi tumpang mendoan seperti biasa ya?” Suara Janu mengagetkan, baru saja Sumirah merasa lelaki itu berdiri di bawah spanduk ternyata sudah mendekatinya. Ia mengangguk dan tersipu, wajahnya berkembang menjadi gerbera merah padahal Janu sedang tak memujinya—Sumirah senang kala mereka berada dalam jarak sedekat piring dan gelas, meski gelas di kepala lelaki itu berkelana sejauh piring terbang.

“Mas Janu tak suka manis ya?” Sumirah menyeduh the dalam gelas belimbing dan menutupinya dengan paying mini kuning.

“Hidupku selalu pahit, Rah!”

“Justru karena pahit, seharusnya sampeyan mencari yang manis!” Wanita yang rambutnya dikuncir samping dengan karet gelang itu mengambil piring bergambar jago merah, menjejali permukaannya dengan dua centong nasi, menaburkan rebusan bayam, kacang panjang, dan kecambah, mengguyurkan kuah cokelat kemerahan di atasnya, lalu menambahkan mendoan dan remahan rempeyek mengelilinginya. Ia lalu mengantar pesanan Janu yang duduk di ujung tikar pandan. Belum ada pembeli yang datang, suasana masih lengang ditambah pemilik warung belum lagi keluar, membuat muka gerbera Sumirah semakin semerbak menguar.

“Manis itu hanya buat orang kaya. Kalau kayak aku dapatnya pahit terus.”

“Bisa saja kamu, Mas?” Sumirah ikut mengempaskan pantatnya ke tikar.

“Kamu enggak tahu, Rah! Sebelum jadi tukang parkir aku bekerja untuk juragan yang tak mau menunggu rumahnya,” ungkap Janu sambil menyeruput minuman buatan Sumirah.

“Maksudnya?”

“Mereka hanya membangun rumah mewah—tapi tak pernah di rumah—lalu akulah yang setiap hari membuka pintu gerbang lalu membersihkan seisi rumah dan halaman sampai senja tiba. Kukunci kembali semua pintu dan jendela lalu kututup gerbang dan kubiarkan sebagian lampu menyala. Begitu seterusnya sampai aku bosan.” Sumirah tampak serius memerhatikan gestur lelaki di depannya. Sebulan lalu ia masih kikuk berhadapan dengan Janu, kini wanita berkaus jingga bola-bola itu mulai terbiasa. Bagaimanapun setiap hari mereka berjumpa dan Janu belum peka pada perasaannya. Sumirah berpikir mungkin ia harus bersikap lebih genit untuk menunjukkan simpatinya.

“Terus sampeyan berhenti?” tebak Sumirah.

“Tentu saja! Aku heran sama orang kaya. Kalau enggak mau pulang ke rumah, ngapain bikin rumah?”

“Mungkin mereka punya rumah lain, Mas!”

“Kalau memang ada rumah lain, kenapa rumah satunya tak dijual atau dikontrakkan atau disumbangkan sama orang tak punya? Tempat tinggalku saja cuma sekamar, lha mereka itu punya barang dibiarkan telantar. Tidakkah mereka pikir hantu-hantu berpesta setiap harinya? Itu juga mobil putih di sana! Tak pernah dirawat. Kenapa tak dijual saja atau diberikan sama yang membutuhkan?” Mata Janu menyala-nyala seiring lampu hijau yang berpijar di pinggir jalan raya—semua kendaraan melaju ke depan—belum ada yangberbelok kanan menuju warung makan.

“Biasa itu, Mas! Orang kaya memang aneh, punya duit banyak nyatanya sarapan cuma nasi tumpang. Mas lihat kan, yang datang ke sini kebanyakan bermobil?” Janu langsung menoleh sepeda motor bututnya yang ditaruh di bawah pohon rambutan.”

“Kamu ngejek aku, Rah?” Janu menghentikan satu suapan nasi yang tercelup kuah sambal itu.

“Enggak, Mas!” elak Sumirah, gerbera merah di wajahnya tiba-tiba pudar. Ia ingin menjadi teman bicara yang baik untuk lelaki pujaannya itu, tapi rupanya perkataannya keliru.

“Beneran juga enggak apa-apa! Nyatanya motorku memang bobrok. Tak ada yang mau sama orang miskin sepertiku!”

Mata Sumirah diserbu bayangan kunang-kunang. Seandainya saja ia bisa mengutarakan perasaaannya pada tukang parkir itu, tapi suara majikannya yang tiba-tiba datang menggugurkan niat yang sempat berada di pangkal lidahnya.

“Kalian ini!” Majikan mereka berkacak pinggang dan melemparkan tatapan sepedas sambal tumpangnya, “Cepetan kerja! Malah pacaran!”

Sepasang insan yang bukan pasangan suami-istri itu beradu pandang sekian detik, rahang keduanya menegang. Kulit mereka mengerut seperti jeruk purut. “Bu Lastri pesan lima porsi nasi tumpang telur dadar, minta diantar sekarang! Bungkuskan dulu, Rah! Biar diantar Janu!” sungut Si Majikan. Sumirah bergegas menuju ke meja tengah dan Janu tergesa menghabiskan makanannya tanpa tersisa—ia tak suka sesuatu yang mubazir. Bagi Janu dan Sumirah, perintah Si Majikan adalah kewajiban sebagaimana wanita paruh baya itu membayar gaji mereka di awal bulan.

Selesai memasukkan bungkusan nasi ke dalam plastik, Sumirah menyerahkannya pada Janu. Lelaki itu menoleh ke kanan-kiri, memastikan jika Si Majikan sedang tidak berada di antara mereka. Lima menit lalu, wanita yang mengenakan kerudung rajut itu masuk lagi ke rumah untuk memandikan cucunya. Janu pun dengan leluasa berujar, “Rah, kok tiba-tiba aku kepikiran kenapa sambal tumpang ini dinamakan rusak? Tempo hari ada yang bertanya padaku dan aku jawab tidak tahu. Sebenarnya aku bisa saja menjawab itu bukan urusan mereka, tapi aku tak setega itu, Rah!”

“Memang Mas Janu belum tahu?” Lelaki yang bibirnya hitam bukan karena tembakau itu menggelengkan kepala, “kata Bu Majikan, ia tak mau pelanggannya kecewa kalau namanya tak sesuai rasanya. Kayak Bakso Super Lezat di samping pergudangan yang sepi itu, atau Soto Ayam Mak Nyus di perempatan yang kini hanya tinggal bangunan. Jadi biar saja namanya rusak yang penting rasanya mantap,” lanjut Sumirah.

Angin berembus lagi memainkan anak-anak rambut Sumirah hingga menutupi dahinya. Entah kenapa kali ini Janu melihat sesuatu yang berbeda di wajah wanita itu. Ia mengamati tahi lalat di atas mata kanan Sumirah yang mengingatkannya pada penyanyi tahun sembilan puluhan dan bibir tipis itu terus bergerak menjelaskan, “Kata Bu Majikan lagi, diberi nama rusak karena ia hanya manusia biasa yang tak luput dari dosa. Manusia harus menjadi lebih baik sebagaimana warungnya yang diharapkan terus berkembang ke depannya.” Janu menemukan sosok Sumirah yang manis dan bijaksana, “kasih tahu gitu, Mas, kalau ditanya.”

“Oh, begitu?” Tangan Janu masih membentuk sudut sembilan puluh derajat dengan menggenggam plastik hitam, “Baiklah, Makasih ya, Rah?” Seketika paras Sumirah kembali dipenuhi gerbera merah dan bunga itu terlihat mekar di mata Janu. Wanita itu dengan percaya diri mendekatkan bibirnya ke telinga Janu, membisikkan sesuatu sambil terkikik merdu. Kedua netra lelaki itu seketika membulat, ingin berteriak tapi tiba-tiba sebuah mobil kijang datang dan membuat Janu terbirit-birit menyambanginya.

Setelah menunaikan tugas sebagai tukang parkir, Janu langsung mengantar pesanan. Selama di perjalanan, kepalanya memikirkan sesuatu: Sumirah tadi mengatakan jika masih ada alasan kenapa sambal tumpang itu dinamakan rusak. Ia membayangkan hampir setiap hari menikmatinya tapi tak tahu bahan utama masakan tersebut yang tidak lain adalah tempe busuk. Ia bergidik, lebih tepatnya menghibur dirinya. Sebagaimana orang kaya yang masih lahap mengunyah makanan itu—terlepas mereka tahu atau tidak tahu bahannya—seharusnya ia juga bisa bersikap seperti orang kaya dan besok tetap menyantapnya tanpa diliputi kecemasan. Kata ‘rusak’ menari-nari di otaknya. Mendadak ia teringat mobil putih yang tak bertuan di pergudangan: “Mungkinkah mobil itu rusak?”

Janu menyimpulkan sendiri keingintahuan yang selama ini belum terpecahkan. Tapi, hingga ia selesai mengantar pesanan dan bebas dari pertanyaan yang sempat dikhawatirkan—tempurung kepalanya masih disesaki hal yang tak kunjung lenyap: wajah Sumirah yang sebulat kelapa muda dan tahi lalat di atas mata kanannya dan bibir tipisnya yang bergerak-gerak mengucapkan sesuatu tadi terus menghiasi benak. Angin pagi itu menyusup ke rongga dada Janu, searah dengan perasaan aneh yang tiba-tiba hadir membekukan laju kendaraannya di bawah pohon waru. (*)

 

Prima Yuanita, seorang ibu rumah tangga. Karyanya berjudul Beras Ceting menjadi juara 1 Lomba Karya Jurnalistik PKK tingkat Provinsi tahun 2020. Perempuan kelahiran Wonogiri, 10 Juni 1988 ini beralamat di Dukuh Winong RT 37/8, Desa Patihan, Kecamatan Sidoharjo, Kabupaten Sragen, Provinsi Jawa Tengah.

 

Kata Kunci : Cerpen Jeda Sambal Tumpang
Berita Terkait
    Promo & Events
    Berita Terkini
    Indeks Berita

    Apa yang ingin anda baca?

    :
    :
    Night Mode
    Notifications
    Support
    Privacy
    PasswordUpdated 15 days ago