Cerpen Penyebab Listrik Padam

Dua orang mandor dari kantor PLN turun dari mobilnya. Kontan mereka mendekati galian dan melihat orang-orang berkumpul dengan muka-muka bercelemot penuh lumpur.
Cerpen Penyebab Listrik Padam
SOLOPOS.COM - Panduan Informasi dan Inspirasi

Siang itu terik matahari membakar tubuh tiga penggali kabel listrik di pertigaan Desa Cidunak yang menghubungkan ke Desa Jombang. Binatang kaki seribu melata-lata keluar dari lubangnya, jalannya lamban bagaikan kura-kura, tak ubahnya awan-awan serupa kapas-kapas putih yang tak bergerak di atas langit.

Salah seorang penggali lubang, Udin tiba-tiba berteriak histeris memanggil kedua temannya, “To, Rip… besar banget… ya Allah, gede banget! Ke sini, cepetan!”
Minto dan Surip segera menghambur menuju sambungan galian yang agak melebar dan dipenuhi oleh genangan air dan lumpur. Udin terengah-engah sambil menggulung celananya hingga paha. Wajahnya tegang dan kesal karena tadi sempat memegang ekor ikan itu, namun seketika meluncur dengan gesitnya. “Besar banget, Rip,” kata Udin meyakinkan Surip, “Mungkin sebesar anak kamu di kampung.”

Surip dengan rambutnya yang keriting agak gimbal tiba-tiba melompat ke atas lumpur setelah ekor matanya menangkap adanya tanda-tanda. “Pegang kepalanya, Rip, pegang kepalanya, tolol!” teriak Minto.

Wajah Surip penuh dengan keringat setelah ia menggali lubang sejak pagi, untuk menghubungan galian kabel bekas kemarin sore. Minto, yang kepalanya lonjong dan matanya agak sipit seketika melompat-lompat di atas genangan. Keduanya mengenakan kemeja yang sudah kumal dan lusuh. Sementara Udin mengenakan kaus lengan panjang bergambar partai politik, serta celana yang sudah tak terlihat warnanya karena dipenuhi lumpur tebal.

Setelah satu jam lebih di atas genangan air, ketiga sekawan itu mulai membiru dan kedinginan. Dari arah selatan muncul Pak Majid, tukang pangkas rambut, bersama Tohir si marbot yang bertugas di Masjid Darl Muttaqin, kampung Jombang. Keduanya bergegas menuju galian setelah melihat adanya kegaduhan di sekitar itu.

“Ada apa, Mas?” tanya Pak Majid.

“Ikan, Pak, ikan… besar banget… entah dari mana dia datang…”

“Mungkin dari arah Perumahan Griya Indah yang pekan lalu terkena banjir,” kata Tohir.

“Nah, itu dia Pak… itu, Pak, lari ke sana… ya, ya, gede banget!”

Tohir ikut menyingsingkan lengan bajunya, kemudian setelah melingkis celananya hingga lutut, ia pun ikut menceburkan diri.

“Jangan dipegang ekornya, Mas… harus kepalanya… harus kepalanya… begini nih,” Pak Majid pun turut serta terjun ke dalam genangan air.

“Kamu bloon banget tadi, Din. Sebenarnya sudah kepegang kepalanya, tapi kenapa bisa lepas lagi… dasar nggak becus… gembel… gembel…,” ejek Surip kesal.

“Sudah saya bilang tadi, tahan… tahan… jangan sampai lepas… pegang yang keras, tutup insangnya, tapi kenapa sampai melompat juga, To?”

Tak berapa lama muncul Pak Salim si pemilik warung kopi, menanyakan ada apa gerangan ramai-ramai di sekitar itu. Melihat kelima orang berkumpul di tengah genangan air, Pak Salim tertawa terbahak-bahak. “Emangnya ada apa, Pak Majid?” tanya Pak Salim sambil membetulkan gulungan sarungnya yang nyaris kedodoran. Badannya tambun, wajahnya bulat dan tembem seperti kue apam. Setelah melihat Tohir yang menangkap badan ikan yang licin itu, Pak Salim penasaran juga. “Kalian semua nggak becus… sepertinya itu arwana, bukan jenis ikan yang gesit, tetapi jinak… ikan jinak itu…”

Pak Salim melepas sarungnya, hingga yang tersisa hanya celana kolor dan kaus oblong menutupi tubuhnya yang gendut. Lalu, terdengarlah bunyi “byur!” Tubuhnya yang besar memecah genangan air. “Lari ke mana tadi… lari ke mana tadi,” katanya.

“Bentar, sebentar… sepertinya saya memegang kepalanya, ssst, diam semuanya…,” kata Udin, “Aduuuh, setan doang! Dia menggigit jempol tangan saya, aduuuh sakit banget!”

Jempol tangan Udin sedikit berdarah, tapi justru ia tidak kapok sebelum berhasil menangkap ikan itu. Ia kembali mengejar-ngejar ikan itu, “Giring dia ke sudut galian… kurang ajar, ayo giring ke sudut!” teriak Pak Salim.

Ketika ikan itu berenang ke salah satu sudut galian, keenam pemburu itu mengepung ikan itu secara bersamaan. “Pak Salim, bawa sarungnya ke sini… kita bisa tangkap dengan sarung Pak Salim,” kata Tohir.

“Itu sarung buat salat!”

“Tapi kita menangkap pakai apa?”

“Pakai kopiah kamu aja.”

“Pak Salim kan tenaganya kuat… pegang saja kepalanya pakai tangan… nanti dia nggak bakal lepas…,” kata Bi Siti pedagang kelontong, yang sejak tadi berdiri di ambang galian. Rupanya ia menyaksikan adegan enam pemburu itu, menyusul Taufik si seniman, ikut pula menonton di samping Bi Siti.

“Pak Majid tuh, telapak tangannya lebar, saya kira bisa untuk memegang kepala ikan itu keras-keras,” ujar Taufik.

“He, kamu jangan banyak cingcong. Buktikan kamu sendiri sanggup nggak menangkapnya, ayo turun ke sini!” tantang Pak Majid.

Taufik akhirnya terpancing juga. Ia ikut melingkis celananya hingga paha, kemudian sambil menarik tangan Bi Siti, keduanya ikut terjun ke dalam galian.

“Dasar kenapa saya dibawa-bawa juga… ayo kalau begitu, siapa yang paling becus menangkap ikan itu hidup-hidup!” teriak Bi Siti sambil tertawa terbahak-bahak.

“Tadi saya melihat ikan itu melompat ke arah situ,” kata Taufik menunjuk salah satu sudut galian, “Apakah di sekitar itu airnya dalam?”

“Nggak, paling-paling sampai dada,” jawab Udin si penggali.

”Kalau airnya dalam kenapa? Bilang aja kamu nggak bisa renang!” bentak Pak Majid.

Bi Siti mengikuti Taufik dari belakang. Air dan lumpur membasahi sekujur tubuhnya hingga dasternya menempel dan melekat pada tubuhnya yang gemuk.

“Iya benar, Fik… saya juga tadi melihat dia lari ke arah situ… ayo kita tangkap. Sepertinya itu ikan mahal.”

Bi Siti meraba-raba lumpur dengan telapak kakinya. Setelah dirasa betisnya menyenggol sesuatu, ia pun segera berjongkok sambil berjaga-jaga agar air tidak memasuki hidungnya yang pesek. Ia berusaha berpegangan pada ambang galian, dengan tangan kiri terus meraba-raba lumpur genangan.

”Ini dia, hahaha… akhirnya kena juga kau,” kata Pak Salim menyeringai. Tangannya yang kekar mencengkeram kepala ikan. Wajahnya menguakkan senyum kemenangan, tapi kemudian kaki kanannya menginjak batu licin hingga tergelincir dan hilanglah keseimbangan. Ikan itu lepas dan melompat lagi dari cengkeraman tangannya. Bi Siti berusaha menolong dan menangkap ikan itu pada bagian tubuhnya tetapi dengan gesitnya ia melepaskan diri dari genggamannya.

“Taufik! Kenapa kamu diam saja! Ikan itu tadi melompat ke arahmu? Dasar seniman gembel…,” ujar Pak Majid kesal.

“Saya nggak lihat, Pak Pak Majid… sumpah, nggak lihat….”

“Masak, ikan segede itu nggak kelihatan?”

“Lagian, mata kamu nggak sipit-sipit amat!”

“Demi Allah, saya nggak lihat sama sekali….”

Beberapa saat kemudian, air genangan mulai menghangat. Matahari meninggi dan cuaca mulai panas. Suasana itu menandakan waktu sudah menjelang tengah hari. Kegaduhan di sekitar galian terdengar juga dari pabrik batako milik Bang Jali. Ia bertanya-tanya pada Bi Marfuah, lalu keduanya menuju tempat keramaian itu.

“Astaghfirullahaladzim! Kenapa semuanya pada kumpul di tengah galian kabel? Bi Siti…masya Allah… kenapa ikut-ikutan nyebur ke situ, ada apa!” teriak Bi Marfuah dengan suaranya yang melengking.

“Ini, Bi Marfuah, ada ikan gede banget. Mungkin sebesar paha Bi Marfuah…”

Tanpa disadari, Bi Marfuah meremas-remas pahanya yang gemuk dan bulat, “Tapi sekarang sudah ketangkep belum?” tanyanya kemudian.

“Belum… tadi sudah ketangkep, tapi lepas lagi…”

“Ah, bloon amat, kenapa sampai lepas lagi?” ia pun mulai mengangkat dasternya hingga paha. Tak peduli dengan kerudung barunya yang berenda-renda, Bi Marfuah melompat juga ke kubangan langsung bergabung bersama mereka.

“Sebelah mana, sebelah mana… biar saya yang nangkap…”

“Itu, di belakang Bi Marfuah!” teriak Tohir si marbot, dan ia pun melompat dan menangkapnya, namun yang terpegang justru lehernya Bi Marfuah. Kontan ia terbatuk-batuk sambil melontarkan sumpah serapah, “Setan kamu Tohir! Masak leher saya disamakan dengan pantat ikan? Dasar gembel kegatelan!”

Bang Jali dan Haji Mahmud, yang sejak tadi melihat kegaduhan dari ambang galian, akhirnya tertarik juga setelah melihat besarnya ikan di pelupuk mata mereka. Keduanya terjun ke kubangan lumpur, sampai-sampai Haji Mahmud lupa melepas serbannya seusai melaksanakan Salat Zuhur.

“Tenang dulu bapak-bapak, ibu-ibu sekalian… sabar dulu… kita biarkan air supaya tenang dulu. Nanti ikan itu akan muncul ke permukaan… kita harus menangkapnya dengan cara yang benar…”

Selama beberapa waktu mereka terdiam, dan air genangan menjadi tenang. Namun tiba-tiba bunyi kecipak air membuyarkan ketenangan itu. Mereka saling mendorong satu sama lain, sikut kiri kanan, saling adu kaki dan lutut, berdesakan di kubang galian. Sementara ikan itu bersembunyi entah di sebelah mana. Pak Salim yang berbadan tambun, tergelincir untuk ke sekian kalinya, mulutnya penuh lumpur yang menyebabkan ia terbatuk dan muntah-muntah.
“Apa itu? Suara apa itu? Siapa yang teriak-teriak di dalam galian?”

Dua orang mandor dari kantor PLN turun dari mobilnya. Kontan mereka mendekati galian dan melihat orang-orang berkumpul dengan muka-muka bercelemot penuh lumpur.

“Siapa yang bertugas di sini? Siapa yang melakukan penggalian di sini? Kenapa muka kalian sama semuanya?”

Ketiga anak buah mereka, Udin, Surip dan Minto segera naik ke atas berpegangan pada ambang galian. Dengan penuh amarah, salah seorang mandor berteriak,” Apa yang kalian lakukan di sini? Kalian ngerti nggak, beberapa hari lagi mau Lebaran! Sejak semalam listrik satu kecamatan padam, lalu PLN mengumumkan bahwa sore ini akan segera menyala. Tapi kenapa sampai saat ini belum kelar juga? Apa yang kalian lakukan? Siapa orang-orang yang berkumpul di galian itu, he?”

Sementara para penggali itu kena damprat, Pak Majid dan Haji Mahmud berhasil menangkap ikan besar itu, lalu mengikat kepalanya dengan seutas tali.

“Berhasil… kita berhasil… alhamdulillah… subhanallah…”

“Kenapa mereka berteriak-teriak di tengah galian itu?” tanya mandor yang satu lagi.

“Pak… ke sini, Pak… kami berhasil menangkap ikan besar dari galian PLN…!” teriak Bi Marfuah sambil menjulurkan kepalanya.

Melihat besarnya ikan itu, kedua mandor itu mendekati mereka yang satu per satu mulai naik ke atas. Tetapi, setelah ikan itu digelontorkan, tenyata bukan ikan arwana yang mereka harapkan, melainkan hanya ikan lele jumbo yang terhanyut dari balong milik Nyi Hindun di kampung seberang.

“Ooh, jadi kerja kalian mangkrak hanya gara-gara ikan lele ini… kalian ngerti nggak, listrik satu kecamatan masih padam hingga sore ini, hanya karena kalian memperebutkan ikan brengsek ini… kalian paham nggak!”

“Iya, Pak,” jawab mereka serempak.

Mandor itu menghempaskan ikan itu kembali ke lubang galian. Semuanya diam, saling berpandangan dengan tatapan terbengong-bengong.

***

Chudori Sukra

Penulis adalah Pengasuh Pondok Pesantren Riyadlul Fikar, Serang, Banten. Tulisan-tulisan saya bisa dijumpai di sejumlah media, klipingsastra.com, kabarmadura.id, kawaca.com, simalaba.net, Jurnal Toddoppuli, Ahmad Tohari’s Web dan lain-lain

Kata Kunci : PLN Cerpen Listrik Padam
Berita Terkait
    Promo & Events
    Berita Terkini
    Indeks Berita

    Apa yang ingin anda baca?

    :
    :
    Night Mode
    Notifications
    Support
    Privacy
    PasswordUpdated 15 days ago