Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca

Cerpen Orang-Orang Pabrik

Sepekan sekali seorang gadis mendatangi pabrik sambil membawa setangkai mawar. Orang-orang pabrik mencurigainya sebagai orang jahat, hingga sebuah rahasia kelam akhirnya terungkap.
SHARE
Cerpen Orang-Orang Pabrik
SOLOPOS.COM - Panduan Informasi dan Inspirasi

Solopos.com, SOLO — Satu pekan telah berlalu. Gadis itu datang kembali. Pohon-pohon bugenvil yang tumbuh di dekat gerbang sedang berbunga. Daun rimbunnya melindungi gadis itu dari terpaan gerimis. Menit demi menit berlalu dan gerimis pun bertambah tebal, tapi gadis itu belum beranjak dari tempatnya berdiri.

“Apa sih yang dia tunggu?” tanyaku sambil berdiri di samping jendela pos jaga. “Kalian tahu siapa dia?”

PromosiBorong Penghargaan, Tokopedia Jadi Marketplace Favorit UMKM

“Kami tidak tahu, Pak,” sahut Umar. “Tingkahnya aneh. Dia tak pernah mau bicara.”

“Aku pernah beberapa kali menegurnya, tapi tak digubris,” timpal Subhan. “Sepertinya dia bisu, Pak.”

“Menurutku, kita harus hati-hati,” ucap Umar. “Bisa saja dia sedang mengawasi tempat ini. Saat kita lengah, dia mencuri sesuatu. Niat jahat bisa tumbuh di kepala tiap orang. Tak terkecuali gadis lugu seperti dia.”

Subhan mengangguk, tapi aku tak setuju. Menurutku, Umar bukan pemerhati yang baik. Tuduhan itu terdengar berlebihan. Perawakan serta tingkah laku gadis itu tak menunjukkan jika dia seorang pencuri. Lagipula, pencuri seperti apa yang rutin menaruh bunga di tempat yang sama setiap pekannya?

Aku yakin gadis itu gadis yang baik—terlepas dari keganjilan tingkah lakunya. Aku juga tak ingin menudingnya membawa niat yang buruk. Pasti ada sesuatu yang mendorongnya seperti itu. Alih-alih mengawasinya, apalagi memerintahkan Umar dan Subhan menghalaunya, aku justru tertarik menyelidikinya.

Dari balik jendela, aku melihat gadis itu masih bergeming. Dia tak peduli pada butiran gerimis yang turun semakin tebal. Bibirnya memucat dan bergerak-gerak. Di sela jemarinya terselip setangkai mawar yang segar dan merona.

“Aku akan mengikutinya,” ucapku sembari keluar. Kulihat gadis itu menaruh bunga ke tanah dan beranjak pergi.

“Hati-hati, Pak,” Subhan berusaha menahanku. “Orang-orang di sana keras kepala. Mereka membenci kita. Banyak pekerja yang kena lemparan batu saat menggusur kampung itu.”

“Tenang saja. Aku bisa menjaga diri. Aku cuma ingin tahu, ke mana dia pergi. Mungkin ada seseorang yang bisa menjelaskan siapa gadis itu sebenarnya.”

Umar dan Subhan memandangiku dengan heran. Mereka menawarkan diri untuk menemani. Aku menolak. Aku sengaja ingin mengikuti gadis itu seorang diri agar tak menarik perhatian.

Gadis itu melangkah cepat, seolah sedang terburu. Dia sama sekali tak menoleh ke belakang, hingga tak menyadari jika sedari awal aku sedang membuntutinya. Dia kemudian berbelok ke gang kecil yang menjadi pintu masuk ke sebuah perkampungan—bekas perkampungan lebih tepatnya—dan menghilang.

Aku setengah berlari, memperpendek jarak agar tidak kehilangan jejak. Sebenarnya aku kurang yakin gadis itu berasal dari sana, sebab di sana hanya ada sedikit bangunan, selebihnya cuma puing-puing rumah bekas penggusuran.

Beberapa tahun yang lalu, kawasan ini masih dipenuhi rumah-rumah. Di sisi sebelah barat terdapat bentangan sawah dan kebun karet. Tapi sekarang, semua sudah berubah. Hampir seluruh kawasan ini menjadi kepunyaan orang-orang pabrik. Tanah dan rumah warga dibeli dengan nilai yang memadai.

Angin mengembuskan hawa dingin. Aku berhenti sejenak di depan sebuah gapura. Aroma apak dan kecut menyambut. Bau tak sedap itu berasal dari tempat pembuangan sampah yang terbengkalai. Aku mengitari tempat itu dan menyadari satu hal, nyaris tak ada lagi kehidupan di sini. Rumah-rumah ditandai sehelai segel yang menempel di pintu, persis barisan tawanan yang menunggu waktu eksekusi.

Sebenarnya, sebagian warga kampung ini sudah direlokasi, namun sebagian lagi masih bertahan. Masyarakat yang enggan menjual rumah dan tanah mereka memilih untuk melawan. Sayangnya mereka lupa bahwa kota-kota akan terus tumbuh dan menjadi raksasa dengan cara melahap apa saja.

Aku kembali melihat gadis itu. Dia meniti jalan setapak yang kiri-kanannya ditumbuhi gelagah dan semak belukar, lantas kembali menghilang di balik tikungan. Sesaat aku bimbang dan berpikir untuk kembali, namun rasa penasaran menggelitik, menggoda kaki untuk terus melangkah.

Ujung jalan itu ternyata berakhir di sebidang tanah yang tak seberapa luas. Sebatang pohon randu tumbuh di halamannya. Rumah itu bercat hijau. Sebagian catnya mengelupas dan memudar. Di bagian teras, berjejer pot-pot tanaman yang tampak rapi dan terawat. Rumpun-rumpun mawar tumbuh di dekat pintu pagar. Aku mendekat dan melihat pintu itu bergoyang, membuatku yakin gadis tadi baru saja melewatinya.

Aku berdiri di muka pintu dengan perasaan ragu-ragu. Kuketuk pintu rumah itu beberapa kali sambil beruluk salam, tetapi tak terlihat tanda-tanda kehidupan. Aku setengah tergoda untuk mendorongnya, tapi niat itu batal. Sekali lagi, kuketuk perlahan-lahan, tetapi masih juga tak ada jawaban.

Kali ini aku mengetuk lebih bertenaga. Hanya beberapa detik saja, terdengar langkah kaki terseret-seret, bercampur suara batuk. Ketika daun pintu membuka, seulas wajah perempuan tua berkulit keriput, berambut salju, dengan bibir berkerut muncul di hadapanku.

“Assalamualaikum,” aku menyapa sambil mengangguk sopan.

Perempuan tua itu menunjukkan sikap tak peduli. Dia memandangiku dengan sorot mata curiga. “Cari siapa?” katanya sambil berjalan keluar rumah.

Perempuan tua itu duduk di amben bambu yang membujur di teras. Aku duduk di sampingnya dan langsung menjelaskan maksud kedatanganku. Wajah keriput itu menoleh.

“Apakah dia mencuri sesuatu?” tanyanya dengan suara serak.

“Ooh, tidak, tidak…” jawabku cepat dan merasa tak enak. “Dia tidak mencuri apa-apa. Saya cuma penasaran. Dia selalu datang dan meninggalkan mawar ini di depan pintu gerbang pabrik kami.”

Perempuan tua itu menerima setangkai mawar yang kuulurkan. Dia meletakkan bunga itu di pangkuan. Sepi merayap pelan, bersitingkah dengan gemericik gerimis yang terjatuh di atap rumah. Rumpun-rumpun lili paris dan keladi merah bergoyang ditiup angin pagi.

“Namanya Mirah. Dia cucuku satu-satunya,” ucap perempuan tua itu. “Dia bisu sejak lahir.”

“Di mana dia?” tanyaku sembari menoleh ke arah pintu yang terbuka. Aku mencoba melongok ke bagian dalam untuk mencari Mirah, tapi sepertinya tak ada siapa-siapa di rumah itu. “Boleh aku bertemu dengannya?”

Perempuan tua itu menggeleng, “Dia tak suka orang baru,” sahutnya dingin. Mata tua itu melirik tajam, “terlebih orang-orang pabrik sepertimu.”

“Baiklah,” kataku mengalah. Sepertinya kali ini Subhan benar, masih ada kebencian yang kurasakan pada nada suara perempuan tua itu. “Mengapa Mirah membenci kami, orang-orang pabrik?”

“Apakah pertanyaan bodoh itu perlu kujawab?” perempuan tua itu menoleh dan tersenyum sinis. “Kau sudah tahu jawabannya. Bukankah kalian telah merenggut apa saja yang kami punya?”

“Tidak. Itu tidak benar…” tiba-tiba aku tak mampu melanjutkan penjelasan. Hanya suara di dalam hati yang berujar, “kami hanya pekerja dan pebisnis yang sedang mencari peruntungan. Sama sekali tak ada niat menghancurkan desa ini. Itu hanya mekanisme alam. Kami memiliki modal.”

Aku menghela napas, dan tersenyum untuk mencairkan suasana. “Mengapa Mirah melakukannya?” tanyaku lebih hati-hati. “Dia selalu datang membawa setangkai mawar dan meletakkannya di depan pintu gerbang pabrik kami.”

Perempuan tua itu terdiam beberapa lama. Raut wajahnya berubah murung. Matanya menerawang.

“Aku ingin hidup. Aku ingin hidup lebih lama untuk memastikan Mirah bahagia. Ah, kalau saja ayah-ibunya masih ada.” Suara perempuan tua itu mendadak bertambah pelan.

“Tapi umur manusia, siapa yang tahu? Apa yang dapat kulakukan dalam keadaan seperti ini? Pelan tapi pasti, kami yang tersisa juga akan terusir.”

“Bukankah semua sudah diberi ganti rugi?” tanyaku lembut. “Dengan uang itu, warga di sini bisa mencari rumah baru yang lebih baik.”

Terdengar dengus mencibir dari mulut perempuan tua itu. Dia menoleh dan tertawa pendek, “Kaupikir uang bisa membeli segalanya?” Sorot mata kelabu itu menusuk tajam. “Saat kau sudah menjejaki usia setua aku, kau akan tahu jika uang tak bisa membeli waktu.”

Walau tak mengerti maksud jawaban itu, aku mengangguk setuju. Aku tahu bahwa perempuan tua itu adalah bagian dari warga kampung ini yang bersikeras mempertahankan hak milik mereka. Aku menanggapi perkataannya dengan perasaan mendalam. Perempuan tua itu hanya tak mengerti, jika dalam dunia bisnis, semuanya bisa terjadi. Akan selalu ada pihak yang kalah dan orang-orang yang tersingkir.

“Kau tadi bertanya tentang Mirah, kan?”

Aku mengangguk.

“Di bawah pabrik itu terkubur jasad ayah dan ibunya. Mirah datang untuk berziarah. Apakah itu salah?”

Aku terdiam, bersandar lemah di dinding rumah. Perempuan tua itu mengusap kelopak mawar yang tadi kuberikan. Ketika menatap matanya, hatiku terasa pedih. Meruntuhkan ego materialistik yang kubangun atas nama keuntungan dan bisnis.

Bunyi nada panggil memecah keheningan. Tertera nomor kantor di layar ponsel. Aku berdiri dan berpamitan. Perempuan tua itu tak menjawab. Dia memandangi rumpun-rumpun mawar yang tengah berbunga. Suara mesin-mesin pabrik terdengar di antara gemerincik hujan yang gugur. Aku melangkah meninggalkan halaman rumah itu dengan segenap rasa bersalah.

 

Adam Yudhistira

Saat ini bermukim di Muara Enim, Sumatra Selatan. Cerita pendek, cerita anak, esai, puisi dan ulasan buku yang ditulisnya telah tersiar di berbagai media massa cetak dan daring di Tanah Air. Selain bersastra, ia juga berbahagia mengelola sebuah Taman Baca untuk ikan-ikan kecil di akuariumnya. Buku kumpulan cerpennya Ocehan Semut Merah dan Bangkai Seekor Tawon (basabasi, 2017).



Berita Terkait
Indeks Berita
Berita Terpopular
Indeks Berita
Berita Lainnya
Indeks Berita
      Promo & Events
      Berita Terkini
      Indeks Berita
      Part of Solopos.com
      Punya akun? Silahkan login
      Daftar sekarang...
      Support - FaQ
      Privacy Policy
      Tentang Kami
      Kontak Kami
      Night Mode