Cerpen Noktah Hitam dan Lautan Perempuan

Sulastri dan pasangan kumpul kebonya kembali ke Jakarta. Penghasilan pemulung tak memuaskan. Subandi mencari akal. Digadaikannya Sulastri pada bandot tua kaya.
Cerpen Noktah Hitam dan Lautan Perempuan
SOLOPOS.COM - Panduan Informasi dan Inspirasi

Noktah hitam pertama tertoreh di diri Sulastri kala berusia 18 tahun ia hamil di luar nikah. Mandor Juling memberinya kasih sayang palsu. Tak lebih buruk daripada Angkara, sang ayah yang hobi poligami, si mandor Juling bersembunyi di ketiak istrinya.

Sulastri dilabrak Misih-perempuan beranak tiga-hasil buah pernikahan dengan mandor durjana. Angkara sangat murka hendak membunuh Sulastri. Trimah, sang ibu kandung membelanya, meski terjadi perang baratayuda. Angkara mencerca Trimah istri bodoh, seperti buaya bisanya hanya makan dan tidur. Trimah mengutuk Angkara lelaki tak bertanggung jawab, menelantarkan anak-istri, menghabiskan warisan Trimah.

Sulastri melahirkan bayi montok. Umur jabang bayi 40 hari ketika YuNgatmi, tetangganya, menawari. “Kau ikut aku ke Jakarta? Suamiku, Om Fendi ada kenalan orang Jepang. Mereka butuh tenaga kerja perempuan.”

Trimah mengizinkan. Daripada di kampung berkabung nestapa dan hinaan warga.

Naik bus dari Jepara, 12 jam pantat beradu bangku keras, pengap tanpa pendingin, akhirnya Subuh bus menepi di Terminal Pulogadung. Kemudian naik metromini jurusan Tanjung Priok, turun jalan kaki masuk gang ke gang, akhirnya tiba pada rumah petak.

Keesokan paginya Om Fendy mengajak Sulastri ke kawasan Pelabuhan Tanjung Priok. Sulastri disuruh menemani tidur seorang lelaki sipit bernama Nakamura.

Sulastri dikurung di kamar, dan Om Fendi riang berkipas uang. Sebulan setengah menjadi budak nafsu, Sulastri pada akhirnya bisa juga melarikan diri. Bertemu tukang sayur, ia lantas bersembunyi di rumahnya tiga hari.

Atas bantuan Zaetun-anak si tukang sayur-Sulastri bisa bekerja di pabrik. Sulastri menyogok, ijazah Zaetun diganti nama Sulastri, dan ia memberi uang Zaetun dan sang tukang sayur. Sulastri memilih indekos di dekat pabrik. Kerja enam hari dan libur saban Minggu, jalan-jalan seputar Jakarta, Monas, Taman Mini, Ancol, Ragunan, dan mal. Sulastri betah. Apalagi saat mengenal Acong, mahasiswa yang melakukan penelitian kehidupan buruh Jakarta. Sulastri memberikan uang, baju baru hingga celana dalam. Acong memberikan kenikmatan.

Seperti layang-layang diterbangkan tinggi di langit, kemudian benang diputus dan dihujamkan ke dasar bumi. Sulastri hamil, dan si mahasiswa tampan kabur. Sulastri pulang kampung. Trimah menyambut riang, meski hatinya guncang melihat perut Sulastri membuncit. Sulastri terisak mengarang cerita perihal seorang lelaki buruk rupa yang ditolak cintanya mengguna-gunainya.

“Sulastri disantet, dibikin busung, Mak. Apakah Emak mengenal dukun yang bisa menolong?”

Trimah mengantar Sulastri ke ‘orang pintar’, di perempatan keramik Mayong. Pada kamar berwangi dupa setanggi, sungguh Sulastri tak sanggup menatap mata si lelaki sepuh ampuh.

“Kau minumlah ramuan ini. Jaga dirimu. Biarkan bayi dalam kandungan tumbuh,” pesan si dukun.

Sulastri pulang dan menangis tersedu, mengaku. Trimah menangis, kejek-kejek.

Kowe ini wong wedok apa begenggek? Meteng meneh ogak ana bojo. Sapa sing metengi kowe?!” Tetangga berdatangan, aib tersebar dari mulut ke mulut, Sulastri hamil lagi tanpa suami!

***

Sulastri namanya. Usia 25 tahun memiliki dua anak. Keliling Jakarta. Berhari-hari mencari Acong. Malam berteman sepercik bulan Sulastri menelusuri perkampungan kumuh, banyak truk antarkota-antarprovinsi berlabuh. Sulastri termenung di bawah pohon, ketika tangan kekar membekap mulut, merebahkan, menggumulinya. Sulastri mencakar, lalu tetiba si lelaki terkapar. Di sisinya seorang lelaki kurus hitam memegang balok kayu. “Siapa kau…?”

“Namaku Subandi. Ayo kita pergi dari tempat berbahaya ini.”

Sulastri menurut, mengikuti, menyeberang sungai hitam, dan di bawah jembatan si lelaki hitam kurus, jelek rupa tinggal. Perkampungan kumuh, rumah-rumah kardus, tripleks. Barang bekas menggunung. Bau sampah menguar bikin sesak. Sulastri tinggal bersama lelaki penolong. Diajak mencari barang bekas, membalas memberikan utuh hati dan tubuh. Lebih baik mencintai lelaki bertampang jelek tapi berhati malaikat, pikir Sulastri. Kepada tetangga, Subandi mengaku Sulastri istrinya dari kampung.

“Aku berangan-angan seandainya memiliki uang banyak,” gumam Sulastri, malam hangat itu usai mereka bercinta.

“Tapi bagaimana caranya, Kang?” Subandi menebarkan rayuan gombal. “Kalau aku menemukan koper isi uang, takkan kukembalikan ke pemiliknya. Uang kuberikan padamu. Kubelikan rumah mewah, mobil, baju bagus, perhiasan, kalung emas…”

***

Sulastri mengajak Subandi pulang kampung. Pada keluarganya Sulastri membual bahwa Subandi, bernama Doni-pengusaha kaya raya. Kantornya megah di kawasan Sudirman Jakarta. “Sekretarisnya cantik, modis, bajunya mini, seksi. Sampai aku malu melihatnya. Hihihi.” Keluarganya menyambut riang. Subandi menyatakan melamar Sulastri. ”Kami nanti menikah di hotel, hiburannya artis dangdut dan band top Ibu Kota.”

Sulastro mendatangi bapak yang tinggal bersama istri muda, nun di kaki gunung Puncak Pandawa, daerah Keling, 40 km dari pusat kota Jepara.

“Mbak Lastri mau nikah, Pak. Mbak Lastri dapat suami orang kaya raya. Pengusaha sukses dari Jakarta. Mereka nikah di Jakarta, di hotel mewah. Nanti ada mobil jemputan dari Jakarta. Bapak wali nikah, harus ikut. Bawa pakaian secukupnya. Nanti di Jakarta, Mas Doni membelanjakan kebutuhan.”

“O, namanya Doni. Pengusaha apa dia?” Jumilah, istri muda Bapak nimbrung.

“Apakah aku diajak ke Jakarta?”

Sulastro menjawab sengak. “Kau istri bapakku tapi kau bukan ibuku!” Sulastro pulang membonceng bapak. Trimah terpaksa menemui suaminya, “Bapake di Jakarta nanti jangan banyak cerita, apalagi tentang istri mudamu yang tak ada gunanya. Kalau bukan demi Sulastri aku tak izinkanmu nginap di sini.”

Pagi hengkang, siang datang, sore berlalu, jemputan belum datang. Sulastri menenangkan. “Jalanan macet, mungkin mobil baru datang tengah malam.”

Subuh malah Subandi yang datang berkaki pincang. Berkabar mobil jemputan mengalami kecelakaan di jalan tol. Dua kerabatnya tewas. Sulastri pura-pura menangis tersedu, memeluk Subandi. Sulastri berakting pingsan. Trimah kebingungan. Tetangga berdatangan, memberi sumbangan. Bapak beristighfar.

Saudara-saudara Sulastri urunan, memberikan uang. Mereka mendoakan keluarga Subandi tabah mendapat cobaan. Rencana pernikahan pun diundur.

***

Sulastri dan pasangan kumpul kebonya kembali ke Jakarta. Penghasilan pemulung tak memuaskan. Subandi mencari akal. Digadaikannya Sulastri pada bandot tua kaya. Sulastri dipaksa ‘melayani’ si bandot tua dan lelaki hidung belang yang dibawa Subandi. Rupiah menumpuk. Semuanya disimpan Subandi. Sulastri hamil, Subandi marah menuduh bayi dalam kandungan hasil melacur. Tahun-tahun berlalu, lima kali Sulastri hamil dan semua bayinya dijual ke orang. “Mengapa kakang menjual anak kita?”

“Kau masih bisa beranak selusin lagi!”

Sulastri hamil muda ketika Subandi menyuruhnya mengantar narkoba ke sebuah tempat. Berbulan-bulan sebagai kurir berjalan lancar, hingga jelang malam, semobil polisi menggerebek kontrakan Subandi, meringkusnya. Sulastri yang sedang di warung, mencoba minggat. Namun belum enam langkah dua orang polisi menangkapnya.

Tak lama, Subandi berhasil melarikan diri dari penjara. Saat polisi memberi tembakan peringatan, Subandi menyerang polisi. Malang nasibnya. Subandi tewas di ujung pistol, bersamaan di dalam bui Sulastri terjatuh di kamar mandi, dan janin di kandungan luruh.

***

Usianya 51 tahun ketika bebas dari jeruji penjara. Tak ada lagi Subandi yang mencengkeramnya. Sulastri lega, tapi betapa hidupnya hampa. Senja redup Sulastri berdiri pada tengah rel kereta api, ingin mengakhiri hidupnya, ketika seorang perempuan muda menghalangi niatnya.

“Mbak masih punya keluarga?”

“Akutelah menyia-nyiakan mereka.”

“Pulanglah, Mbak. Mohon maaf pada mereka sebelum terlambat.”

***

Sulastri termangu dan berurai air mata mendapati kampung halaman tertimbun tanah longsor. Trimah menemani Sulastri berdoa di pemakaman jelang senja. Sulastri bersimpuh di kaki sang bunda, mendamba sejuta maaf.

“Untuk apa kau pulang? Sudah lama kau melupakan keluargamu dan kampung ini. Kami tak membutuhkan orang-orang sepertimu. Tuhan sangat menyayangi anak-anakku, keponakanku, cucu-cucuku, hingga mengambilnya. Aku sudah ikhlas.”

“Semua salah Lastri. Lastri banyak berbuat dosa.”

Ora perlu bangke sing koeleg nok kutha kowe muntahke nok kene. [Tidak perlu bangkai yang kau telan di kota, kau muntahkan di sini]. Seorang ibu adalah lautan maaf. Berapa pun sampah yang diberikan, ombak kan membawanya ke tepian.”

***
Kota Ukir, 11 Mei 2021

Kartika Catur Pelita, prosa dan puisi dimuat di puluhan media cetak dan daring. Founder dan mentor di komunitas Akademi Menulis Jepara (AMJ). Buku terbarunya jelang terbit: ‘Perempuan yang Ngidam Buah Nangka”

Berita Terkait
    Promo & Events
    Berita Terkini
    Indeks Berita

    Apa yang ingin anda baca?

    :
    :
    Night Mode
    Notifications
    Support
    Privacy
    PasswordUpdated 15 days ago