Cerpen Keluarga Bisu

Kepada ayah, aku melempar muka. Kepada ibu, yang mulai pulang larut dan setengah sinting karena gemar tersenyum kepada ponselnya, aku tak peduli.
Cerpen Keluarga Bisu
SOLOPOS.COM - Panduan Informasi dan Inspirasi

Nenek berpesan, bila aku masih ada, bapak berjubah hitam itu yang kelak menentukan dengan siapa aku tinggal. Orang-orang memanggilnya Yang Mulia. Aku tak memanggilnya apa pun karena tak ada urusan dengannya. Ayah ibu berurusan dengannya. Mereka cerai.

Kata nenek, aku terlalu muda untuk memilih. Kubilang, Yang Mulia terlalu tua untuk memutuskan. Tua bangka itu seperti pesakitan; serak suaranya seolah dekat dengan maut.

“Kau ingin tinggal bersama siapa seumpama Yang Mulia bertanya?” tanya nenek. Kerut-kerut di sekitar mulutnya bagai baju belum tersetrika.

Itu pertanyaan teraneh. Dalam hati aku bertanya, adakah anak lain berusia sembilan dapat menjawab keanehan itu? Mungkin aku akan berteriak, “tolong beri aku waktu memikirkannya, Yang Mulia!” Tapi itu mustahil, karena seluruhnya hanya seumpama.

Nenek mendesakku untuk menjawabnya segera. Aku tetap diam, tapi pikiranku malah menimbang keburukan ayah dan ibu, melenggang ke dua tahun ke belakang, saat mereka mengidap penyakit bisu; bermuka muram dan tak saling sapa, bagaikan lukisan rumah tua yang bergelantungan di ruang tamu kami.

Adakah seorang ahli menegaskan bahwa kebisuan itu menular? Karena inilah persoalannya. Kuamati, semula gejala penyakit itu munculnya dari ibu. Pertama dia membubungkan amarah kepada ayah, menyemburkan badai hingga serak, hingga nyaris meletus matanya dan cacing-cacing hijau merambat pada lehernya yang tegang.

“Kau masih berhubungan dengan perempuan pelacur itu!”

“Kami cuma makan siang.”

“Pendusta!”

“Kenapa kau selalu menuduhku pendusta?”

Setelahnya, dan ini adalah gejala selanjutnya, segala benda diraih ibu. Tak ubahnya angin puting beliung, ibu membuat piring-piring berterbangan, dan benda lain di meja makan—seperti gelas-gelas, mangkok dan sendok garpu—dibanting hingga berserakan di lantai.

Bangku-bangku terjungkir, ruang makan seperti neraka, dan sebagaimana lazimnya neraka, setannya banyak, ibu tak ubahnya orang kesurupan. Mungkin kerasukan setan.

Ayah berteriak-teriak. Di keningnya urat-urat mencuat, titik-titik keringat merajahi muka tak ubahnya dinding-dinding kloset. Pada akhirnya ibu menangis hebat.

Siapa itu pelacur? Kenapa hubungan ayah dengannya membuat ibu murka? Di kepalaku bintang-bintang berkeliling, membuatku pening. Terasa pedih bola mataku karena kilau sinarnya. Sekujur tubuhku beku di bangku ruang makan, dan mulutku menganga tak bersuara seperti tersumpal batu. Bagai terlilit tumbuhan berduri, dadaku sesak serta perih tiada kira.

Mimpi buruk itu berlanjut. Di lain waktu ayahlah yang kesurupan. Kepada ibu ia menyumpah-nyumpah, membanting laptop, menyamparnya seperti menyampar kecoa yang menyutubuhi lantai-lantai.

“Lebih baik kita cerai!” teriak ibu sambil menangis. Di hari-hari itu dia rajin menangis.

“Aku sepakat!” balas ayah. Dia lalu meninggalkan rumah.

Semenjak itu mereka tak saling bicara. Hanya meracau, dan aku tak paham yang mereka racaukan, dan mereka tak lagi sekamar. Kebisuan yang akut. Kami tak lagi sarapan bersama. Aku rindu sarapan bersama, karena dulu kami saling bercerita saat sarapan bersama. Ayah pernah bercerita tentang satpam kantornya yang tertangkap tidur di musala. Kami tertawa. Dan ibu mengabarkan bahwa kantornya mengadakan piknik di hari Minggu. Lalu mereka bertanya-tanya mengenai sekolahku. Kuceritakan kisah-kisah di sekolah sambil menyumpal mulutku dengan nasi dan lauk. Alangkah indahnya saat itu.

Selain aku, Mbok Darti satu-satunya manusia yang tidak bisu di rumah. Itupun tak muncul saat sarapan pagi. Pernah kutarik tangannya agar mau sarapan bersamaku, tetapi dia tak mau. Dia ngotot melanjutkan tugasnya yaitu mengamankan dapur. Mungkin khawatir seorang pencuri menggondol dapur kami lengkap dengan semua perangkatnya.

Tentu aku tak memaksa. Guruku berpesan, bahwa memaksakan kehendak itu jelek, setara dengan memperkosa. Aku bukan pemerkosa. Meski kuakui jantungku terpacu melihat kawan wanitaku bawahannya tersingkap saat bermain lompat tali di sekolah. Celana dalamnya merah jambu. Tetapi mustahil aku memperkosanya atau Mbok Darti. Aku bukan anak berengsek. Kalaupun berniat, tak mungkin kulakukan pada Mbok Darti. Tubuhnya berhektare-hektare, dia bisa mencekikku dengan mudah.

Lambat laun rumah hanyalah tempat singgah seperti losmen murah. Ayah pulang pergi semaunya dan tingkahnya menyebalkan. Keliru sedikit, misal air minumku tumpah, tangannya bergegas menyampar kepalaku sambil meracau seperti burung. Aku memutuskan berkandang di kamar, khawatir kepalaku peyok.

Sedangkan ibu setengah sinting. Di kamar, di ruang tamu, di teras, bahkan mungkin di gorong-gorong, dia tertawa-tawa menghadap ponselnya. Dan melenggang cantik pada malam hari, menghampiri mobil yang mampir di samping pagar rumah. Seorang lelaki membukakan pintu untuknya.

Berbungkus-bungkus mainan baru diberikan ibu kepadaku esoknya sambil tersenyum. Selalu seperti itu, hingga kamarku tak ubahnya toko mainan.

Kurasa dia hendak menguburku hidup-hidup dengan benda-benda itu. Maka di hadapan ibu dan lelaki bermobil itu, semua mainan kusuntak ke selokan, warna-warninya menyelimut seluruh comberan. Semenjak itu ibu tak hanya bisu, tetapi juga murung kepadaku.

Aku seperti tinggal di kuburan; sunyi, seram dan suram. Ayah ibu melirikku seperti melirik onggokan sampah tiada arti. Aku merasa tak ada karena mereka tak lagi mengajakku bicara. Saat kurasakan sepi di dalam kamar, nenek tiba-tiba muncul dalam gelap.

“Kau tak perlu takut kepada kuburan,” katanya, seolah dapat membaca pikiranku.

Aku takut dengan kuburan. Selain gelap, aroma anehnya mengangkat bulu romaku saat melintas di jalan depannya. Menurut cerita yang kudengar, mayat-mayat di sana acapkali bangkit pada malam-malam tertentu, menemui siapa pun yang mau mereka temui. Dan malam itu nenek menemuiku setelah sekian lama mati.

Aku tak takut kepada nenek. Aku malah gembira karena ada kawan bicara. Di ranjang kami duduk dan berbincang. Di pangkuannya, kepala ini kupasrahkan, lalu terisak sejadi-jadinya dan dia membelai rambutku seperti dulu. Semenjak itu nenek rutin berkunjung, terutama pada malam Jumat dan saat bulan bundar penuh.

***

Keinginanku tidak muluk-muluk, hanya melihat ayah dan ibu kembali tersenyum, bicara, menikmati teh di teras sambil memandang senja yang merah keemasan. Aku ingin mereka pulih dari penyakit bisu dan setiap penyakit tentu ada obatnya, maka suatu malam di apotek terlengkap, aku mengantre untuk mencari obat itu.

“Aku mencari obat untuk penyakit bisu!” kataku. Lelaki di balik etalase pergi ke belakang, lalu kembali muncul.

“Ini!” katanya, sambil memberiku dua salep. “Kujamin mereka dapat segera duduk dan melihat senja. Oleskan pada sumber lukanya!”

Saat ayah terlelap, aku mengendap. Aku tak mau tidurnya terganggu. Begitulah yang dilakukan ibu saat kusakit dulu, mengendap-endap, lalu mengompres kepalaku. Sebenarnya tidurku terganggu, hanya saja aku terlampau ngantuk untuk mengaku.

Pada bibir ayah kuoleskan salep itu, kubelai kepalanya dan tak lupa berdoa kepada Tuhan agar dia dipulihkan; sama seperti yang dilakukan ibu dulu. Tiba-tiba ayah membuka mata dan menatapku heran. Setelah menyeka mulutnya, dan mungkin bibirnya terasa aneh, lalu dia bangkit dengan otot-otot yang mengencang, matanya merah seperti setan. Aku merayap mundur dengan mata menyalang menatapnya. Kakiku kendur kencang, kurasakan keringat dingin berlipat-lipat di keningku.

Ayah lalu meraung seperti singa, Menakutkan. Dadaku seakan tergencet batu besar dan aku terengah-engah. Digamparnya kepalaku hingga terpelanting membentur lemari.

“Aku cuma ingin kau sembuh!” teriakku sambil terisak. Kulempar salep itu tepat ke mukanya dan dia menggamparku bertubi-tubi hingga kepalaku pening. Aku bangkit, lalu terbirit-birit seperti anjing dan mengurung diri di kamarku.

Di sudut kamar yang gelap, aku meringkuk, tubuhku berlimpah keringat dan air mata.

“Kau kenapa?” tanya nenek. Aku ingin mengadu kalau anaknya bodoh dan menyebalkan. Tapi mulutku hanya bungkam. Di hari-hari yang lalu kami berbincang apapun, tetapi malam itu aku tak bisa bicara. Pikirku saat itu, mungkin aku telah tertular penyakit bisu.

Aku tak mau bisu di sisa hidupku. Aku ingin bicara. Maka kuraih salep yang semestinya untuk ibu. Kuoleskan ke mulutku dan membiarkannya beberapa waktu.

Kepada ayah, aku melempar muka. Kepada ibu, yang mulai pulang larut dan setengah sinting karena gemar tersenyum kepada ponselnya, aku tak peduli. Kepada nenek, kubenamkan mukaku ke bantal; dia lalu lenyap dengan sendirinya. Berhari-hari, kebisuanku tak kunjung pulih. Kusadari kemudian kalau aku tertipu.

Sungguh biadab lelaki apotek itu, menipu anak yang dilanda bencana tiada akhir. Di dalam kamar, aku mondar-mandir karena tak terima dengan penipuan itu. Lalu kuputuskan untuk pergi.

Di depan apotek, aku ingin berteriak “kau penipu!” Yang keluar hanya salak seperti anjing dan aku terkejut mendengarnya. Orang-orang di apotik terpingkal-pingkal sambil memegang perutnya. Mereka mengelilingku, menunjuk-nunjuk ke mukaku sambil terpingkal-pingkal.

Bongkahan batu di tepi jalan kupungut, kulempar ke muka lelaki apotek itu dan meleset; suara kaca etalase yang pecah membuat orang-orang berhenti tertawa. Obat-obat berserakan di lantai, bersama puing-puing beling. Suasana pun gaduh.

Tak ubahnya maling, aku digelandang oleh orang-orang hingga ke rumah. Lelaki apotek itu mengadu kepada ayah. Di teras, kerumunan orang memandang ayah dengan mata marah.

Ayah meraung begitu kencang, membuat mereka gemetaran dan terbirit-birit setelah ayah masuk ke rumah, dan kembali muncul dengan tongkat di tangan.

Dengan luapan amarah, ayah menjambak rambutku, menyeretku, melemparku ke kamar mandi seperti melempar anjing buduk, mengunciku di dalamnya dan aku pun berkaing-kaing sambil menangis dan menggedor pintu hingga habis tenaga.

Entah berapa lama aku terkurung di kamar mandi gelap itu, dan apakah ayah dan ibu nanti akan menangisiku? Entahlah. Tapi tadi pagi, setelah ayah dan ibu pergi, Mbok Dartilah yang membuka pintu kamar mandi dan meratapi jasadku pertama kali.

Aku ingin meratapi jasadku sendiri, tetapi nenek mengajakku ke ruangan buruk ini. Kulihat ayah dan ibu meraung-raung di hadapan Yang Mulia.

“Aku memilih tinggal bersamamu, Nek,” jawabku.

 

Baron Yudo Negoro
Penulis adalah seorang buruh yang lahir di Semarang, 14 Mei 1985.

Berita Terkait
    Promo & Events
    Berita Terkini
    Indeks Berita

    Apa yang ingin anda baca?

    :
    :
    Night Mode
    Notifications
    Support
    Privacy
    PasswordUpdated 15 days ago