Cerpen Bunyi Klakson dan Asmara di Sekitarnya

Tinah menjadi magnet tersendiri baginya, hingga tak jarang ia harus rela melupakan pelanggan di kampung-kampung lain. Fokus menuju kompleks perumahan tempat tinggal Tinah.
Cerpen Bunyi Klakson dan Asmara di Sekitarnya
SOLOPOS.COM - Panduan Informasi dan Inspirasi

Pagi-pagi sekali, Leman mengendarai motornya dengan begitu santai. Kedua roda motor seakan menggelinding sendiri tanpa dikendalikannya. Seperti ada saluran yang menghubungkan otak Leman dengan mesin motornya. Kedua telinga Leman pun disumbat earphone yang meluncurkan koleksi lagu dari ponsel di sakunya, baik dangdut maupun lagu populer lain. Ia nampak tenang meski membawa barang dagangan cukup berat di belakangnya. Leman begitu menikmati, sejalan dengan alunan musik yang mengalun dari kedua telinganya. Meski setiap pagi buta harus meluncur ke pasar, belanja aneka sayur dan bahan makanan.

Selepas dari pasar, Leman keliling ke kampung-kampung dan gang-gang perumahan untuk mengedarkan dagangannya. Ia berkeliling menggunakan motor Supra yang begitu tenar karena iritnya itu. Apalagi bagi Leman, yang telah dipecat dari pabrik selepas sudah lima tahun bekerja sejak ia tamat dari SMP. Pertimbangan memilih motor dengan bahan bakar irit tentu menjadi alasan utama untuk menjalankan pekerjaannya sebagai pedagang keliling.

Hari-hari baginya kian menyenangkan, lebih-lebih saat Leman ditakdirkan berjumpa dengan Tinah, salah satu pelanggannya. Apalagi saat-saat ini, selepas Tinah ditinggal pergi selama-lamanya oleh suaminya, akibat sakit keras. Leman tak tahu sakitnya apa. Baginya yang terpenting adalah bisa menyambut senyum kedua matanya setiap pagi.

Sudah dua tahun Leman berdagang menjajakan aneka sayuran dan bahan makanan. Sudah dua tahun pula ia mengenal Tinah. Meski bagi Leman, pelanggan satu ini beda dengan pelanggan lain. Beda dengan ibu-ibu lain yang sama-sama setiap pagi mengerumuni kehadirannya, bak artis rupawan yang dikelilingi para penggemarnya.

Saat menghadapi pelanggan pun, earphone yang menempel di kedua telinganya sama sekali tak dilepas. Hanya, suara dipelankan, sayup-sayup terdengar syair Janda Kembang dari Sekarwangi. Aku janda kembang, cantik dan menawan. Walau bukan perawan, tapi menggoda iman. Jadi rebutan orang.

Tinah begitu menarik perhatian Leman, bahkan sudah sejak belum menikah. Saat Tinah sudah menikah pun tak pernah menyurutkan kekagumannya. Apalagi kini, saat suaminya telah meninggal sebulan lalu. Leman kerap diam-diam mencuri pandang kepada Tinah. Matanya, wajahnya, bahkan sekujur tubuhnya, begitu sulit disia-siakan begitu saja oleh Leman. Meski kerap ia diledek oleh ibu-ibu lainnya. Namun Leman tak menggubris. Tinah pun kerap menyambut sama, meski saat-saat ini ia nampak sedikit beda. Leman tahu, pasti ia masih sangat berkabung.

Bagi Leman, barangkali saat-saat ini akan menjadi hari-hari perjuangan untuk kembali meluruskan cita-citanya, agar sepenuhnya memiliki Tinah. Saat itu, dua tahun lalu, saat kali pertama Leman ketemu Tinah, hari masih pagi saat Leman tiba di kompleks perumahan. Tinah yang kali pertama datang, termasuk kali itu menjadi kali pertama pula kehadirannya begitu rupa telah menjatuhkan hati Leman. Baginya, Tinah juga menyambut, telah memberikan sinyal baik.

Terbukti, pada hari berikutnya, Tinah tersipu saat Leman sedikit menggoda dengan pertanyaan-pertanyaan kecil menjurus kepemilikan perasaan. Sebab kali itu, Leman merekam informasi dari ibu-ibu kompleks, bahwa Tinah masih perawan, tinggal seorang diri di rumahnya. Baru satu pekan ia menempati rumah, selepas pulang kerja sebagai pembantu rumah tangga di Singapura.

Sebagai perempuan, Tinah tak begitu rupawan. Namun dengan bentuk tubuh cukup berisi, gaya dandanan menor, dan pakaian ketat, tentu membuat Leman tergoda bukan main. Apalagi bagi pemuda yang hanya pernah pacaran sekali saja saat duduk di bangku SMP, itu pun hanya cinta monyet semata.

Meski hari kedua perjumpaan Leman dan Tinah itu belum kunjung ada percakapan sama sekali, namun senyum sipu Tinah memberi jawaban dan sambutan tersendiri bagi Leman untuk dapat mengarungi hari-hari pendekatan selanjutnya.

***

Hari berikutnya, Leman seakan menemukan energi besar saat harus menjajakan dagangannya. Bahkan kini tak lagi semata-mata energi untuk menjual aneka sayur dan bahan makanan saja, tetapi sudah jatuh pada niatan untuk melapangkan jalan asmaranya kepada Tinah. Leman seakan menemukan sesuatu yang sama sekali belum pernah ditemukan, apalagi dimilikinya. Tinah menjadi magnet tersendiri baginya, hingga tak jarang ia harus rela melupakan pelanggan di kampung-kampung lain. Fokus menuju kompleks perumahan tempat tinggal Tinah.

Tinah berjalan sendirian dengan langkah kaki sangat dikenali Leman. Bahkan Leman merasa, betapa sapuan angin akan membawa rambut Tinah tergerak hingga tergerai ke arah mana pun sudah sangat dipahaminya. Tinah lagi yang datang pertama mengunjungi dagangan Leman. Tinah seakan begitu akrab dengan kedatangan Leman. Ya, klakson yang dibunyikan Leman sebagai penanda kedatangannya pun bisa dibilang aneh. Suara itu keluar dengan bunyi tersendat dan tertahan, sulit ditiru klakson motor lain. Suara yang hendak dimuntahkan, tetapi seakan terasa berat, tersumbat dan sangat tertahan. Seperti perasaan Leman kepada Tinah saat itu.

“Mbak, masih tinggal sendiri saja di perumahan sini?” tanya Leman kepada Tinah. Meski Tinah masih sama seperti yang lalu-lalu, tak ada jawaban, senyum sipu semata yang membuat Leman semakin penasaran. Sesudah memilih belanjaannya, Tinah bertanya berapa uang yang harus dibayar. Leman menjawab sejumlah uang dengan hitungan asal, Tinah pun membayar. Sudah begitu saja, lalu Tinah pulang. Leman hanya menyaksikan dari belakang bagaimana lenggokan gaya berjalan dan lekukan tubuh Tinah yang padat berisi itu. Kian menggoda dan seakan terus mengerat pikiran Leman.

Namun suatu pagi, Leman tak menjumpai batang hidung Tinah menyambangi dagangannya. Ia bertanya-tanya, tetapi kali itu hanya dipendam saja. Leman seakan sungkan jika harus menanyakan kepada ibu-ibu pelanggan lain.

Ternyata hari-hari selanjutnya, sudah hampir sepekan Tinah tak juga nampak. Ia seakan lenyap, bahkan tidak hanya dari kompleks perumahan itu saja, tetapi dari kehidupan Leman pula. Padahal baru sepekan saja, seakan telah tiada selama-lamanya. Leman telah membawa diri Tinah jauh ke lubuk hatinya, meski tak tahu bagaimana dengan Tinah sendiri. Leman tak tahu.

Sudah sepekan lebih, Tinah sama sekali tak nampak. Leman kian gundah. Seakan energinya kian redup dan nyaris mati. Hari-hari Leman kian tak tenang, meski lagu-lagu dangdut bertema kegembiraan, godaan manja biduan, ditambah hentakan kendang koplo sedemikian rupa, diputar keras pula menampari kedua telinganya, tetap saja semua itu tak berarti apa-apa. Apalagi untuk menenangkan batinnya.

Leman sama sekali tak lagi berkeliling ke kampung-kampung lain selain kompleks perumahan Tinah saja. Ia sudah tak peduli dagangannya akan habis atau tidak, akan dapat laba atau tidak. Leman sudah tak memikirkan semua itu. Yang ada di pikirannya hanya kabar tentang Tinah.

Suatu pagi saat menjajakan dagangannya, Leman memberanikan diri bertanya kepada salah seorang ibu-ibu. “Maaf Bu, Tinah kok nggak pernah kelihatan ke mana ya?” Tanya Leman dengan sangat sungkan dan menahan malu.

Seorang ibu itu malah terdengar mengejek, “Oh, Mas Leman selama ini nampak murung itu ternyata risau memikirkan Mbak Tinah? Pantesan, kami sudah curiga,” ibu itu menghentikan ucapannya, ia mendekati Leman dan berbisik, “Mas Leman, sudah sepekan lebih ini Mbak Tinah menikah, kini sedang berbulan madu dengan suaminya.”

Sejak saat itu, hati Leman remuk tak terkira. Meski tak lama setelah Tinah pulang dan kembali berbelanja, Leman awalnya canggung, tetapi kian hari semua jadi cair. Leman kembali menggoda Tinah, lebih-lebih saat ia tahu jika perempuan yang dipujanya itu kerap ditinggal suaminya berlayar. Kerja di sebuah kapal pesiar. Pulang hanya setengah tahun sekali, itu pun dua-tiga hari saja.

Tentu saat-saat ini akan menjadi hari-hari perjuangan untuk kembali meluruskan cita-citanya, agar sepenuhnya memiliki Tinah. Bagi Leman, kini suaminya telah meninggal, ia punya kesempatan penuh untuk memilikinya. Syair lagu Janda Kembang terus mengalun, kian kencang. Ia menatapi Tinah dalam-dalam, meski sungguh kali ini sama sekali belum terjawab apa-apa. Selepas mengambil belanjaannya dan membayar, Tinah kemudian lekas pergi.

Meski begitu, Leman sudah sangat senang. Seakan ada angin segar yang merasuk di sekujur tubuhnya. Selepas ibu-ibu lain sudah selesai berbelanja, ia pulang, tentu dengan energi besar seperti saat awal-awal ia menjumpai Tinah.

Hari berikutnya, selepas dari pasar, Leman langsung menuju kompleks perumahan Tinah. Ia siap menanti kehadiran perempuan yang dikaguminya itu. Masih sama, lagu Janda Kembang diputarnya pelan, menyasar kedua telinganya melalui earphone. Tinah tak kunjung datang. Hanya dihampiri beberapa ibu-ibu saja, menghabiskan dagangannya.

Leman bertanya-tanya, di mana Tinah? Kenapa ia tak datang? Penantian Leman ternyata berujung pada hari-hari berikutnya pula. Tinah sama sekali tak menampakkan batang hidungnya, meski klakson khas darinya dibunyikan berkali-kali. Lagu Janda Kembang pun diputarnya keras-keras. Aku janda kembang, cantik dan menawan. Barulah satu bulan, selesai perceraian. Gantian bawa lamaran.

Pada bagian itu, sontak lagu dari ponselnya dihentikan. Leman kepikiran sesuatu, “Akankah aku kalah cepat lagi dan Tinah sudah dilamar orang?”

 

Kendal, April 2020

Setia Naka Andrian. Lahir dan tinggal di Kendal sejak 4 Februari 1989. Pengajar di Universitas PGRI Semarang. Buku puisi terbarunya Mendaki Dingin (Pelataran Sastra Kaliwungu, 2020). Buku puisinya Kota yang Mukim di Kamar-Kamar (Pelataran Sastra Kaliwungu, 2019) memperoleh Nomine Antologi Puisi Terbaik Penghargaan Prasidatama 2020 dari Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah.

Kata Kunci : Cerpen Kisah Cinta Jeda
Berita Terkait
    Promo & Events
    Berita Terkini
    Indeks Berita

    Apa yang ingin anda baca?

    :
    :
    Night Mode
    Notifications
    Support
    Privacy
    PasswordUpdated 15 days ago