Cerpen A Pa dan Tarian Barongsai Merah Putih

Migrasi besar-besaran orang Tionghoa selatan ke Hindia Belanda turut membawa barongsai pada masa Kasunanan Kartasura.
Cerpen A Pa dan Tarian Barongsai Merah Putih
SOLOPOS.COM - Panduan Informasi dan Inspirasi

Singa Selatan. Peranakan Tionghoa di Hindia Belanda menyebutnya barongsai. Boneka singa bersisik naga itu sebenarnya adalah sepasang tarian yang bermula dari hikayat Tiongkok Kuno. Pasangannya, Singa Selatan yang tidak bersisik, tetapi memiliki bulu lebat disebut Pekingsai.

Bahwa, pada masa Dinasti Nan Bei di Tiongkok pernah terjadi perang antara pasukan Kaisar Song Wen dengan Kaisar Fan Yang. Ketika pasukan Song terdesak oleh serangan pasukan gajah Kaisar Fan, terciptalah strategi dari panglima perang Kaisar Fan bernama Zhong Que. Dia menciptakan singa-singa buatan untuk menakuti gajah-gajah Kaisar Fan. Strategi yang gemilang itu membawa kemenangan Kaisar Song. Terciptalah tarian singa untuk mengenang kehebatan singa-singa buatan Zhong Que.

Migrasi besar-besaran orang Tionghoa selatan ke Hindia Belanda turut membawa barongsai pada masa Kasunanan Kartasura. Menurut pengakuan A Pa, leluhur dari A Kong adalah orang yang kali pertama menarikan barongsai di kelenteng Tien Kok Sie. Ketika itu, kelenteng yang dibangun bersamaan dengan perpindahan pusat nagari dari Kartasura menuju Desa Sala setelah peristiwa Geger Pecinan, resmi dibuka pada perayaan Imlek, pergantian tahun yang merujuk hari kelahiran Kaisar Hung Di—Kaisar Kuning, leluhur bangsa Tiongkok Kuno yang berkuasa pada 2597–2697 SM. Sejak itulah leluhur A Pa dikenal sebagai penari barongsai yang piawai.

Tak banyak peranakan Tionghoa di Hindia Belanda yang bisa memainkan barongsai. Secara turun-temurun, tarian singa itu diajarkan oleh leluhur A Pa kepada anak cucunya. Dari cerita A Pa aku tahu, A Kong sempat berhenti menjadi penari barongsai setelah pemenang konflik politik pada tahun 1965 melarang segala hal yang berbau dengan budaya Tiongkok. Beruntung, A Kong masih bisa menarikan barongsai setiap Imlek ketika diundang ke Kelenteng Sam Poo Kong, Semarang. Satu-satunya tempat yang boleh mementaskan barongsai secara terang-terangan selama Orde Baru berkuasa.

Namun, berbeda dengan orang tuanya, A Pa yang meneruskan kecintaan terhadap barongsai dengan menjadi penari, tidak semujur A Kong. Sempat beberapa kali menggantikan A Kong jika ada pentas di Kelenteng Sam Poo Kong, justru setelah A Kong meninggal, tak ada lagi yang mengundang A Pa. Padahal, menurut cerita A Bu, gerakan tari barongsai A Pa lebih unik dan tangkas. Konon, A Pa adalah pengusung gaya musik baru pengiring barongsai yang sekarang banyak ditiru penari lain.

Meskipun mendapati nasib seperti itu, tak pernah terlihat tanda-tanda keputusasaan pada diri A Pa. Sering aku menjumpai A Pa sedang merawat barongsai-barongsai miliknya. Tak jarang pula kulihat ia sedang mencorat-coret lembaran kertas kosong. Ketika menanyakan hal itu kepadanya, A Pa mengatakan bahwa sedang menyiapkan sisik-sisik naga baru untuk tarian barongsai.

Barongsai dan A Pa tak ubahnya kemesraan persekutuan laskar Tionghoa dan Kartasura. Barongsai tanpa A Pa serupa gerakan orang-orang Tionghoa tanpa dukungan Sinuwun Pakubuwana II dan pasukan Mataram—timpang dan tak memiliki kekutan melawan VOC di Kartasura pasca-Geger Pecinan Batavia.

Ada banyak barongsai di rumahku. Satu warisan dari A Kong, sedangkan lainnya adalah buatan A Pa sendiri. Di antara barongsai-barongsai itu, ada satu yang menurut A Pa sangat diistimewakan keberadaannya. Barongsai yang dirancang dengan warna sisik merah dan putih. Barongsai yang dibuatnya sendiri ketika kali pertama A Pa mementaskan tarian itu.

“Nyo,” ucap A Pa. “Barongsai merah putih ini seharusnya kau anggap sebagai saudara tua,” sarannya ketika aku ikut menungguinya yang sedang merawat barongsai-barongsai miliknya. Begitulah A Pa, sering menjadikan barongsai koleksinya seperti anak sendiri. Bukan tanpa alasan A Pa berkata seperti itu. Barongsai yang dia miliki, sebagian adalah peninggalan orang tua dan leluhurnya yang turun temurun menjadi penari barongsai.

“Usianya lima tahun lebih tua darimu,” lanjut A Pa.

A Pa memainkan barongsai merah putih yang dipegangnya dengan gerakan seolah-olah mengajakku menari.

Dari pengakuan itu, aku tahu bahwa alasan A Pa menganggap barongsai merah putih sebagai saudara tuaku adalah waktu pembuatannya. Seperti halnya perlakuan kepada barongsai yang lain, putih kuning, A Pa menyuruhku menghormatinya sebagai A Pek. Sebab ia dibuat oleh A Kong sebelum A Pa lahir.

“Kenapa A Pa lebih menyukai barongsai merah putih dibandingkan lainnya?”

A Pa menghentikan gerakan tari singa, “Banyak orang yang menganggap kita ini bangsa asing, sebab leluhur kita adalah migran dari Tiongkok. Tetapi, meskipun kita bermata sipit dan berkulit terang, kita lahir, tumbuh, dan kelak akan berpulang di bumi pertiwi ini. Barongsai merah putih adalah simbol kecintaan kita kepada tumpah darah. Tak peduli anggapan miring orang-orang kepada etnis kita, jika bumi pertiwi sudah memanggil, kita harus pertaruhkan nyawa untuk membelanya.”

Aku ingat, kata-kata itu diucapkan A Pa suatu siang menjelang upacara hari kemerdekaan negeri ini. Dua minggu sebelumnya, bendera, penjor warna-warni, dan umbul-umbul dipasang di halaman rumah kami.

“Kapan A Pa boleh mementaskan tari barongsai lagi?”

“Kelak jika sudah besar, kaulah yang harus meneruskan menjadi penari barongsai, Nyo.” A Pa tersenyum, “Menari lagi atau tidak, bagiku tak penting. Bisa merawat boneka-boneka singa ini, sudah menjadi kepuasan tak ternilai bagiku.”

A Pa memainkan barongsai lagi. Gerakan yang dia bawakantak ubahnya seekor singa yang sedang menjelajahi padang luas. A Pa memperagakan langkah kaki yang tak bisa ditebak lewat setiap tarian yang dibawakannya. Setiap kali kedua kaki dan tangannya bergerak selaras dalam gerak mulut dan kelopak mata singa, setiap kali itu pula seakan A Pa mengajarkan bahwa takdir kehidupan tak bisa ditebak. Kita hanya bisa menyikapinya dengan bekerja keras. Ringan kaki dan tangan.

Dari A Bu aku tahu, bahwa barongsai yang dimainkan A Pa itu serupa tarian singa menentang penindasan Raja Tiran. Melawan diskriminasi kepada ras kami. Menurut A Bu, Raja Tiran adalah penguasa negeri yang rakus. Tak segan menghilangkan nyawa siapa saja yang berani melawannya. Mendengar cerita itu, terkadang aku ketakutan, khawatir jika A Pa kalah melawan Raja Tiran. A Pa ditangkap, lalu disakiti. Dipenjara. Berpisah dengan kami.

Akan tetapi, nyatanya A Pa selalu baik-baik, tak pernah disakiti, tak pernah hilang. Justru A Bu yang meninggalkan kami, terbang bersama dewi-dewi penjaga surga.

Kematian A Bu adalah awal dari kesedihan A Pa. Berhari-hari A Pa mengurung diri di dalam kamar, enggan makan dan minum. A Pek Tan dan istrinya yang mengurusi kebutuhanku selama berminggu-minggu. Mereka yang menyiapkan sarapan pagi, mengantar jemput sekolah, hingga memberiku uang saku. Aku lupa, kejadian itu berlangsung berapa lama.

Aku juga belum bisa merasakan, kepergian A Bu adalah awal dari kemalangan yang kelak menimpaku.

“Kematian adalah kebenaran yang menyakitkan. Sedangkan kehidupan adalah dusta yang indah. Jangan berlama-lama kau tenggelam dalam kesedihan. Lihatlah Nyo yang masih kecil. Dia membutuhkanmu untuk meneruskan perjalanan hidupnya yang masih panjang,” tutur A Pek Tan ketika akhirnya A Pa sudah mau berkumpul makan malam bersama kami.

“Tapi, kenapa kematiannya datang begitu mendadak? Aku masih belum bisa percaya ini akan terjadi,” sanggah A Pa. Kulihat perlahan air matanya kembali menetes.

“Kelahiran, jodoh, rezeki, dan batas umur adalah rahasia semesta. Tak ada manusia yang bisa menguak skenario Tuhan itu.” Suara A Pek Tan terdengar begitu jernih.

Aku hanya terdiam. Bagiku, ucapan-ucapan A Pek Tan adalah hal aneh. Sulit dipahami oleh anak sekolah dasar seusiaku.

Hari-hari setelah malam itu, A Pek Tan dan istrinya tak lagi tinggal di rumah kami. Mereka kembali pulang ke Solo—kota kelahiran A Pa, berjualan di Pasar Gede, juga menjadi pengurus Kelenteng Tien Kok Sie. Sementara A Pa juga sudah bisa bekerja lagi, berjualan di pasar kota ini.

Sejak hari itu, setiap pagi A Pa yang menyiapkan sarapan pagi. Memandikan aku, mengantar sekolah, lalu membelikan kembang gula setiap pulang dari pasar petang harinya. A Pa benar-benar menjadi pengganti A Bu. Satu-satunya pekerjaan A Bu yang tidak dilakukan A Pa adalah menjemputku pulang sekolah. Ada Pak Karto, pengayuh becak yang setiap hari diminta A Pa menjadi langgananku.

“Sepulang sekolah, kunci semua pintu rumah. Makan siang ada di dapur. Jangan membuka pintu dan pagar halaman sebelum A Pa pulang.” Begitu pesan A Pa setiap kali selesai mengenakan seragam dan sepatu sekolahku.

Aku mengiyakan dengan mengangguk saja.

“Oh, ya. Nanti sore kita berlatih lagi barongsai. Imlek tahun depan kita ke Kelenteng Sam Poo Kong seperti tahun kemarin.”

Mendengar pesan A Pa, dadaku terasa meletup-letup. Iya, aku memang bercita-cita ingin menjadi penari barongsai seperti A Pa, A Kong, dan leluhur kami.

 

***

 

Hari ketika A Pa tidak pulang sampai larut malam adalah hari di Minggu kedua bulan Mei. Aku ingat, seminggu lebih sebelum peristiwa itu, di sekolahku diperingati Hari Kebangkitan Nasional.

Seperti hari-hari sebelumnya sejak kepergian A Bu, A Pa yang mengantarkan aku ke sekolah menggunakan sepeda kayuh, memberi pesan, “Jangan pernah bermain di luar rumah. Situasi sedang tidak aman untuk orang Tionghoa seperti kita.”

Aku hanya mengangguk. Tak pernah mengerti maksud kata-kata tidak aman untuk orang Tionghoa yang diucapkan A Pa.

Petang harinya, aku mulai gelisah. Tidak seperti biasanya A Pa terlambat pulang sampai dua jam. Televisi yang kunyalakan di ruang tengah terus menyiarkan berita unjuk rasa besar-besaran. Ada juga berita kebakaran di beberapa tempat. Aku tak tertarik dengan siaran-siaran itu. Lebih tepatnya aku belum mengerti, kecuali sebuah tayangan yang memperlihatkan teriakan orang-orang yang kesetanan, “Bakar China … Bunuh China … Usir China!”

Mendadak aku ketakutan. Mendadak pula aku mengkhawatirkan A Pa. Bagaimana jika A Pa bertemu gerombolan orang-orang itu? Bagaimana jika mereka membakar dan membunuh A Pa?

Sudah tengah malam. A Pa belum juga pulang.

 

***

 

Aku terjaga dari tidur. Mengucek mata berkali-kali. Mencoba menemukan kesadaran. Apakah ini mimpi? Aku beranjak dari kamar. Rumah sepi. Sebatang lilin merah menyala di atas altar persembahyangan. Beberapa batang hio masih mengepulkan asap, menebarkan aroma wangi cendana.

“A Pa?”

Kulihat pintu rumah terbuka. Kenapa A Pa berdiri di halaman rumah? A Pa tersenyum, lalu melambai-lambaikan tangan, seperti pamit hendak pergi lagi, entah ke mana. Aku hanya membalas lambaian tangan itu dengan senyum malas. Aku masih mengantuk. Buru-buru aku masuk ke kamar, melanjutkan tidur lagi. Aku yakin ketika terbangun besok pagi, A Pa sudah berada di rumah.

A Pa yang mendongengi aku kisah pelayaran Laksamana Cheng Ho, seorang muslim Tiongkok yang menjelajahi bumi, jauh sebelum penjelajahan samudera Magellan. A Pa yang mengantar aku ke sekolah dengan mengayuh sepeda, lalu membelikan kembang gula. A Pa yang tekun mengajariku gerak tarian barongsai merah putih. Tarian yang dijanjikannya beberapa bulan lagi akan kami lihat di Kelenteng Sam Poo Kong. Seperti Imlek di tahun sebelumnya, sebelumnya, dan sebelumnya. (*)

 

Heru Sang Amurwabumi,

Pendiri Komunitas Pegiat Literasi Nganjuk. Tahun 2019 terpilih sebagai emerging writer di Ubud Writers & Readers Festival.

 

 

Catatan:

A Pa (bahasa Hokkien) = Ayah.

A Kong (bahasa Hokkien) = Kakek.

A Bu (bahasa Hokkien) = Ibu.

A Pek (bahasa Hokkien) = Kakak laki-laki dari orang tua.

Hio = Dupa.

Berita Terkait
    Promo & Events
    Berita Terkini
    Indeks Berita

    Apa yang ingin anda baca?

    :
    :
    Night Mode
    Notifications
    Support
    Privacy
    PasswordUpdated 15 days ago