Cerita Yayasan Pendidikan di Boyolali 33 Tahun Mengurusi Difabel hingga Mandiri

Yayasan Pendidikan Anak Luar Biasa (YPALB) di Cepogo, Boyolali, berulang tahun ke-33.
SHARE
Cerita Yayasan Pendidikan di Boyolali 33 Tahun Mengurusi Difabel hingga Mandiri
SOLOPOS.COM - Kegiatan ulang tahun ke – 33 YPALB di halaman gedungnya, Selasa (27/9/2022). Kegiatan peringatan HUT dengan jalan sehat, pembagian doorprize, bernyanyi, dan pemberian penghargaan. (Istimewa).

Solopos.com, BOYOLALI – Yayasan Pendidikan Anak Luar Biasa (YPALB) di Cepogo, Boyolali kini berusia 33 tahun. Yayasan ini awalnya didirikan pada 1989 atas semangat untuk mengajar anak berkebutuhan khusus yang berada di daerah pinggiran jantung kota Boyolali.

Ketua YPALB Boyolali sekaligus salah satu founder, Tri Mulyo, 55, mengatakan pada awalnya bersama tiga temannya sesama warga Boyolali berinisiatif untuk membuat sekolah selepas lulus Sekolah Guru Pendidikan Luar Biasa (SGPLB) Surakarta.

PromosiAngkringan Omah Semar Solo: Spot Nongkrong Unik Punya Menu Wedang Jokowi

Kemudian, lanjut Tri, bertambah jadi tujuh orang, tambah tiga dari Sukoharjo, dan satu dari Klaten. Lantas mendirikan YPALB di tahun yang sama.

“Alasan kami mendirikan di Cepogo sederhana, siapa  yang akan mendidik anak-anak [berkebutuhan khusus] di pinggiran ini? Kalau di pusat kota tidak masalah karena rata-rata fasilitas kota baik. Namun, untuk yang jauh di pinggiran, kan tidak semuanya mendapatkan akses,” terangnya saat dijumpai Solopos.com di kantornya, Selasa (27/9/2022).

Baca juga: Gandeng Anak Berkebutuhan Khusus, Re.juve Rayakan Hari Anak Nasional

Sejak 1989 hingga saat ini, Tri mengatakan telah banyak lulusan yang dicetak dari SDLB, SMPLB, dan SMALB YPALB yang berada di Dukuh Wates, Desa Cepogo, Kecamatan Cepogo, Kabupaten Boyolali tersebut.

Saat ini, ia menyebut terdapat 63 siswa di seluruh jenjang YPALB dan 12 guru yang mengajar di yayasan tersebut. Murid-muridnya juga berasal dari Cepogo, Musuk, Ampel, Selo, bahkan Kecamatan Boyolali.

“Murid kami ada yang tuna netra, tuna rungu-wicara [tuli], lambat belajar, autis, cacat tubuh, apapun tidak akan kami tolak kekhususan mereka,” kata dia.

Tri mengatakan yang terpenting bagi pendidikan ABK adalah kemandirian. Ia tidak ingin, saat anak didik YPALB telah lulus hanya dikembalikan ke masyarakat. Ia ingin anak didiknya dapat mandiri dan memiliki keahlian saat lulus sekolah dari YPALB.

Saat ini, lulusan YPALB, jelas Tri, menjadi wirausaha ataupun bekerja di industri menjahit atau pun industri lain seperti pengecoran.

Baca juga: Difabel Sukoharjo Capai 6.512, Baru 710 yang Gabung di Sanggar Inklusi

“Anak-anak yang SMALB kami bekali dengan keahlian. Di sini ada tiga vokasi, menjahit, tata boga, dan membatik. Batik kami ini pernah diproduksi dan digunakan sebagai baju tim HDI [Hari Disabilitas Internasional] di istana pada 2016,” kata dia.

Lebih lanjut, Tri mengatakan pada Selasa ini dirinya bersama guru, wali murid, dan murid berkumpul bersama untuk memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-33 YPALB.

“Tadi kami ada jalan-jalan bersama. Kemudian pembagian doorprize, sambil bernyanyi bersama. Ternyata mereka senang dan bangga menjadi bagian YPALB,” kata dia.

Sementara itu, salah satu guru, Etik Masfufah, 46, mendapatkan penghargaan dari guru lain dan murid sebagai pengajar dengan pengabdian terlama.

Guru pengajar agama tersebut mengaku telah mengajar sejak 1994. Saat itu, cerita Etik, dirinya baru saja lulus dari DII SGPLB Surakarta dengan fokus pembelajaran terkait tuna daksa.

Baca juga: PJJ, Guru SLB di Solo Ini Rela Datangi Siswanya Satu Per Satu

“Saat masuk di sini, saya bertemu dengan semua jenis anak berkebutuhan khusus. Dan saya harus belajar lagi, belajar terus untuk menjadi pengajar yang baik,” kata dia.



Berita Terkait
Indeks Berita
Berita Terpopular
Indeks Berita
Berita Lainnya
Indeks Berita
      Promo & Events
      Berita Terkini
      Indeks Berita
      Part of Solopos.com
      Punya akun? Silahkan login
      Daftar sekarang...
      Support - FaQ
      Privacy Policy
      Tentang Kami
      Kontak Kami
      Night Mode