Cerita Unik Pasar Janglot Sragen: Sempat Beberapa Kali Pindah Lokasi

Ada 66 kios dan los Pasar Janglot Sragen yang terbakar pada Sabtu-Minggu lalu, perinciannya tujuh kios dan 59 los.
Cerita Unik Pasar Janglot Sragen: Sempat Beberapa Kali Pindah Lokasi
SOLOPOS.COM - Kondisi salah satu kios Pasar Janglot, Tangen, Sragen, yang terbakar pada Minggu (26/9/2021) pagi. (Solopos/Tri Rahayu)

Solopos.com, SRAGEN — Puluhan los dan kios Pasar Janglot, Tangen, Sragen, habis dilalap api kebakaran pada Sabtu (25/9/2021) pukul 23.30 WIB hingga Minggu (26/9/2021) pukul 03.30 WIB.

Kebakaran Pasar Janglot Sragen yang berlangsung sekitar empat jam itu diduga karena korsleting. Kepala Pengelola Pasar Janglot, Tangen, Sragen, Jumali, menjelaskan ada 66 kios dan los yang terbakar pada Sabtu-Minggu itu. Perinciannya tujuh kios dan 59 los.

Ia menerangkan kios dan los itu ada yang rusak berat dan rusak sedang. Jumali berharap dalam waktu dekat ada alokasi anggaran untuk perbaikan ringan terhadap 66 kios dan los tersebut.

Baca juga: Waduh, Mayoritas Pasar di Sragen Ternyata Rawan Kebakaran

“Kebakaran itu diduga karena korsleting pada instalasi listrik di pasar yang kurang standar. Selain itu untuk fasilitas darurat seperti hidran air tidak ada. Yang ada hanya APAR [alat pemadam api ringan] sebanyak tiga unit,” kata Jumali saat ditemui Solopos.com di pasar setempat, Minggu.

Dukuh di Kecamatan Tangen

Nama Pasar Janglot cukup unik karena pengucapannya mirip dengan kata jenglot. Jenglot adalah figur hominoid yang berukuran kecil berkulit gelap dengan tekstur kasar berwajah seperti tengkorak dan bertaring.

Namun Janglot ternyata nama sebuah dukuh di Kecamatan Tangen, Sragen. Nama Janglot itu juga digunakan sebagai nama pasar di Kota Kecamatan Tangen, yakni Pasar Janglot.

pasar janglot
Sejumlah warga beraktivitas di pintu masuk Pasar Janglot yang dikelola Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Sragen yang terletak di wilayah Desa Katelan, Kecamatan Tangen, Sragen, Minggu (5/7/2020). (Solopos/Tri Rahayu)

Berdasarkan catatan Solopos.com, Janglot atau ejaan lama Djanglot ternyata sudah muncul pada peta buatan Belanda pada tahun 1920-an. Penjual jamu tradisional yang membuka kios di sebelah timur Pasar Janglot, Yohanes Soetomo, 72, merupakan orang tua yang cukup mengerti tentang sejarah pasar itu.

Baca juga: Sebelum Membakar, Pria Sragen Hantam Kaca Mobil Tetangga Pakai Cangkul

Pensiunan pengawas sekolah itu masih ingat awalnya Pasar Janglot terletak di sebelah timur Lapangan Tangen yang kini menjadi Alun-alun Sentono Tangen. Pada tahun 1948, Belanda mengebom wilayah Tangen.

“Pengeboman Belanda itu dikenal warga Tangen sebagai peristiwa Ampalan. Pengeboman itu dilakukan dari markas Belanda di Gondang,” kata Soetomo saat berbincang dengan Solopos.com di depot jamunya, Minggu (5/7/2020).

Kemudian pada Agustus 2019, warga di timur Alun-alun Tangen itu sempat menemukan mortir yang masih aktif. Mortir itu diduga sebagai sisa-sisa pengeboman Pasar Janglot pada 1948.

Dulu Wilayahnya Luas

Setelah peristiwa itu, Soetomo melanjutkan, Pasar Janglot dipindah ke sebelah barat Jembatan Broemel, Dukuh Bugel, Desa Dukuh, Tangen. Nama jembatan itu diambil dari nama pejabat Belanda setingkat dengan camat bernama Van Broemel.

“Kemudian pada tahun 1951, Pasar Janglot itu dipindah lagi ke sebelah barat simpang empat Tangen yang sekarang ada sisa bangunan kios yang mangkrak itu. Kemudian pada 1992, oleh Bupati R. Bawono dipindah ke lokasi yang sekarang. Kalau nama Janglot itu apa, saya tidak mengetahui secara pasti,” ujarnya.

Menurut Soetomo, dulu Dukuh Janglot itu luas dari simpang empat Tangen sampai Alun-alun Tangen. Sekarang Dukuh Janglot tinggal satu RT, yakni RT 001 karena RT 006 lebih memilih menggunakan nama Dukuh Gilis.

Baca juga: Brankas Berisi Rp300 Juta Selamat dari Kebakaran Pasar Janglot Sragen

Nama Gilis itu diambil dari cerita dua orang telik sandi Pangeran Mangkubumi yang mengintai di wilayah itu.

“Setelah mendapat informasi tentang Belanda, salah satu telik sandi itu meminta temannya segera melapor ke Pangeran Mangkubumi dengan Bahasa Jawa gelis-gelis kemudian istilah itu menjadi nama Dukuh Gilis. Dua telik sandi itu akhirnya salah paham dan perang hingga akhirnya keduanya meninggal dan dimakamkan di tempat itu. Lokasi seputar makam itu dikenal dengan sebutan Sentana karena dua makam itu dianggap sebagai sentana Pangeran Mangkubumi,” terangnya.

Sementara itu, dari penelusuran Internet, nama Janglot itu ternyata merupakan nama sebuah spesies pohon langka yang tumbuh di wilayah Jawa dengan nama latin Saccopetalum horsfieldii. Jenis pohon keras ini memiliki buah. Pohon jenis ini bisa ditemukan sekarang di Kebun Raya Purwodadi, Pasuruan, Jawa Timur, dan wilayah Kebumen.

Berita Terkait
    Promo & Events
    Berita Terkini
    Indeks Berita

    Apa yang ingin anda baca?

    :
    :
    Night Mode
    Notifications
    Support
    Privacy
    PasswordUpdated 15 days ago