Cerita Pasijah 11 Tahun Jadi Penjaga Desa Tenggelam di Demak: Dilindungi Mbah Mudzakir

Pasijah mengaku mendapat wangsit dan dilindungi sosok Mbah Mudzakir untuk menjadi penjaga desa yang tenggelam di Demak, Jawa Tengah.
Cerita Pasijah 11 Tahun Jadi Penjaga Desa Tenggelam di Demak: Dilindungi Mbah Mudzakir

Solopos.com, DEMAK — Kehidupan Pasijah dan sang suami, warga Dukuh Senik, Desa Bedono, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, Jawa Tengah, sangat memprihatinkan. Mereka adalah satu-satunya keluarga yang memilih bertahan hidup di dukuhnya di wilayah Demak yang tenggelam menjadi lautan.

Sudah 11 tahun Pasijah dan keluarganya bertahan hidup di rumahnya yang dikelilingi air laut. Dia ingat betul pada 2005 lalu warga desanya berunjuk rasa menunut relokasi. Pada 2006 warga mulai pindah sampai akhirnya 2010 tinggal dia dan keluarganya yang bertahan di sana.

"2010 wis resik tinggal aku tok," katanya dalam video di channel Youtube BBC News Indonesia, 26 Maret 2020.

Pasijah memilih tetap tinggal di sana menjaga kampung halamannya di Demak yang terus tenggelam diterjang air laut. Dia memenuhi kebutuhan hidupnya dengan mencari ikan di laut untuk dijual di Pasar Sayung.

Baca juga: Abrasi Pantura Menelan Jawa Tengah

Pasijah mengaku mendapat wangsit menjadi penjaga dusun yang tenggelam tersebut. "Kalau saya pindah, desa ini akan habis tidak tersisa. Rumah-rumah sudah menjadi laut," terang dia.

Pasijah juga berupaya terus meninggikan rumahnya agar tidak tenggelam dan bisa ditinggali bersama suami dan anak-anaknya. Setiap hari dia mengantarkan anaknya pergi ke sekolah menggunakan perahu sampai ke daratan.

Dia bersikukuh enggan pindah karena merasa tidak nyaman dan tidak ingin memicu keributan dengan tetangganya.

"Kalau saya pindah nanti malah ribut terus sama tetangga. Sudahlah mending di sini saja daripada nanti bertengkar terus," kata Pasijah dalam film dokumenter Jejak Kenangan Sayung.

Baca juga: Bukan Cuma Pekalongan, Semarang & Demak Juga Terancam Tenggelam

Meski kondisinya serba terbatas, Pasijah dan suaminya tetap bersyukur dan hidup bahagia. Saat air lut surut, dia akan meninggikan rumahnya berbekal puing-puing reruntuhan rumah tetangganya.

"Kalau surut saya cari-cari material nanti dibelikan semen. Wis rapopolah. Angger rob yo tenangke wae, kadung neng kene kok meh piye (Sudah tidak apa-apa. Kalau rob ya tenang saja. Sudah terlanjur di sini mau bagaimana)," sambung dia sambil tersenyum.

Pasijah dan sang suami juga membuat persemaian bibit mangrove. Hal itu dia lakukan agar desanya tidak terus tenggelam.

Pasijah mengaku tidak memiliki rasa takut tinggal hanya bersama keluarganya saja di dusun Demak yang tenggelam. Dia menyebut kawasan tersebut dilindungi oleh Mbah Muzakir, tokoh Islam asal Mranggen, Demak, yang makamnya terapung di lepas pantai dekat Desa Bedono.

"Mbah Mudzakir tasih ngaling-ngalingi mriki. Kulo alhamdulillah mboten wantun ten mriki, biasa wae. (Mbah Mudzakir masih melindungi wilayah ini. Saya alhamdulillah tidak takut di sini, biasa saja)," tandasnya.

Baca juga: Kisah 1 Keluarga Dapat Wangsit Jadi Penjaga Desa Tenggelam di Demak

Abrasi Demak

Abrasi yang mengancam Demak tenggelam memang sudah sangat parah dan semakin menjadi akibat reklamasi di Semarang. Dikutip dari lrsdkp.litbang.kkp.go.id, Rabu (26/5/2021), laju perubahan garis pantai di Kecamatan Sayung, Demak, selama 20 tahun terakhir terlihat memprihatinkan. Abrasi tersebut diperkirakan merupakan yang paling besar dan parah di Jawa, bahkan Indonesia.

Profil Kabupaten Demak di laman sippa.ciptakarya.pu.go.id menyebutkan bahwa laut Demak memiliki potensi luar biasa dalam bidang perikanan, namun dibayangi dengan daya rusak yang besar pula. Desa Bedono di Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, Jawa Tengah, menjadi wilayah yang terdampak abrasi paling parah.


Promo & Events
Berita Terkait
    Berita Terkini
    Indeks Berita

    Apa yang ingin anda baca?

    :
    :
    Night Mode
    Notifications
    Support
    Privacy
    PasswordUpdated 15 days ago