[ X ] CLOSE

Cerita Kegigihan Warga Ngerangan Klaten Tetap Merantau Jualan Angkringan di Tengah PPKM

Para sesepuh desa Ngerangan, Bayat, Klaten. merupakan perintis angkringan atau yang kerap disebut dengan nama hik.
Cerita Kegigihan Warga Ngerangan Klaten Tetap Merantau Jualan Angkringan di Tengah PPKM
SOLOPOS.COM - Pengunjung mendatangi Museum Angkringan yang dirintis warga Desa Ngerangan, Bayat, Klaten. (Istimewa-Gunadi)

Solopos.com, KLATEN — Pembatasan aktivitas warung makan selama penerapan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) tak menghalangi warga Desa Ngerangan, Kecamatan Bayat, Klaten, untuk membuka warung angkringan mereka.

Ratusan warga Ngerangan tetap keluar desa, merantau ke berbagai penjuru daerah di Indonesia membuka angkringan.

Ngerangan merupakan desa di perbatasan dua provinsi yakni Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa Tengah dan Kabupaten Gunungkidul, Provinsi DIY. Para sesepuh desa tersebut, merupakan perintis angkringan atau yang kerap disebut dengan nama hik.

Menjadi pedagang angkringan ditekuni warga Ngerangan secara turun temurun sejak 1930an. Hingga kini, mayoritas warga Ngerangan memiliki mata pencaharian sebagai pedagang angkringan.

Baca juga: Kawanan Maling Bermobil Gasak Palem Sikas di Karanganom Klaten

Founder Desa Wisata Angkringan Ngerangan, Gunadi, mengatakan pembatasan yang diberlakukan untuk warung makan selama masa pandemi termasuk selama PPKM tak lantas membuat warga Ngerangan loyo bahkan berganti pekerjaan lain.

“Tidak ada yang beralih ke usaha lain. Apa pun yang terjadi, tetap jualan angkringan. Namun, semua dilakukan sesuai protokol kesehatan pencegahan Covid-19,” kata Gunadi saat berbincang dengan Solopos.com, Rabu (8/9/2021).

Tak Bisa Buka Dini Hari

Sama halnya dengan usaha kuliner lain, Gunadi menjelaskan para pedagang angkringan asal Ngerangan tetap terdampak ketentuan pembatasan. Warung mereka sepi terlebih tak bisa buka hingga dini hari.

“Kalau pas jualan tidak ramai, biasanya pulang ke rumah dulu [Ngerangan]. Nanti kalau sudah ramai baik lagi [merantau],” ungkap dia.

Baca juga: Desa Bonyokan Klaten Dikukuhkan Jadi Kampung Tangguh Narkoba

Ada 700an warga Ngerangan yang tercatat berjualan angkringan. Sekitar 30 orang berjualan angkringan di Ngerangan. Sisanya, berjualan di luar desa menyebar ke berbagai wilayah di Klaten hingga merantau ke berbagai kota di Indonesia seperti Jakarta, Jawa Barat, hingga Kalimantan.

Sugeng Riyadi, 35, menjadi salah satu warga Ngerangan yang merantau ke wilayah Jawa Barat untuk berjualan angkringan. Selepas dua tahun kerja di salah satu pabrik, Sugeng menjadi pedagang angkringan seperti warga Ngerangan kebanyakan.

“Biasanya seperti itu. Warga sini setelah lulus sekolah kemudian kerja di pabrik nanti keluar ujung-ujungnya jadi pedagang angkringan,” kata Sugeng saat ditemui Solopos.com di rumahnya pada akhir Agustus 2021 lalu.

Sekitar lima tahun Sugeng berjualan di Indramayu, Jawa Barat, sebelum pindah ke Majalengka, Jawa Barat. Dua bulan sekali, Sugeng pulang kampung menengok keluarganya. Setelah seminggu hingga dua pekan di rumah, Sugeng balik lagi ke perantauan.

Baca juga: Tertabrak Truk di Karangdowo Klaten, Pembonceng Motor Asal Pedan Meninggal

Pilihan Sugeng berjualan angkringan di luar kota lantaran warung yang dia kelola berpeluang lebih ramai didatangi pengunjung ketimbang berjualan angkringan di kampung halaman.

“Di sana kan terkadang warga belum tahu, warung apa itu kemudian penasaran dan datang. Jadi peluangnya usaha lebih besar,” kata Sugeng saat ditemui sebelum berangkat ke Majalengka.

Nasi Kucing dan Tes Oplosan

Meski jauh dari kampung halaman, model jualan tetap sama. Sugeng mengatakan inti dari warung angkringan yakni ada gerobak, nasi kucing, serta aneka minuman terutama teh oplosan serta jahe.

Aneka perabotan yang digunakan warga Ngerangan berjualan di berbagai kota mayoritas dipasok dari wilayah Ngerangan dan sekitarnya seperti gerobak, cerek, hingga arang.

Baca juga: Alhamdulillah! Dana Nasabah Bank Jateng Klaten Korban Skimming Sudah Dikembalikan

Disinggung pembatasan yang diberlakukan sejak ada pandemi, Sugeng mengatakan sempat membuat warga Ngerangan di berbagai kota kesulitan mengais rezeki. Angkringan identik dengan warung yang buka saat sore dan tutup pada dini hari.

Sementara, ada pembatasan aktivitas warung yang dibatasi beroperasi hingga pukul 20.00 WIB-21.00 WIB. Namun, kondisi itu tak menyurutkan minat warga Ngerangan untuk membuka usaha sebagai pedagang angkringan.

“Selama PPKM ada yang biasa saja, ada yang sama sekali tidak terdampak, tetapi ada juga yang tidak bisa jualan karena kondisi di setiap daerah berbeda. Sempat banyak yang libur akhirnya pulang kampung. Tetapi saat ini sudah mulai lagi [merantau berjualan angkringan],” kata Sugeng.



Berita Terkait
    Promo & Events
    Ekspedisi Ekonomi Digital 2021
    Berita Terkini
    Indeks Berita

    Apa yang ingin anda baca?

    :
    :
    Night Mode
    Notifications
    Support
    Privacy
    PasswordUpdated 15 days ago