Cerita dari Bontang

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 7 April 2021. Esai ini karya Suwarmin, wartawan Solopos.
Cerita dari Bontang

Solopos.com, SOLO -- Hidangan gami bawis yang lezat mengantarkan kami melewati suasana senja di Bontang Kuala, Kecamatan Bontang Utara, Kota Bontang, Provinsi Kalimantan timur, Minggu (4/4/2021). Sore itu angin seperti enggan bertiup, tetapi itu tak mengurangi keasyikan menatap panorama kawasan wisata maritim di belahan timur Kota Bontang, salah satu kota penting di Kalimantan Timur itu.

Bayangan hutan mangrove di kejauhan, kecipak air laut yang mengitari kawasan, gemeratak jembatan kayu ulin yang dilindas sepeda motor, lalu aroma masakan khas kampung pantai yang sedap. Itulah Bontang Kuala pada senja itu.

Hari itu adalah hari terakhir Solopos Institute menggelar Uji Kompetensi Wartawan (UKW) bekerja sama dengan Forum Jurnalis Bontang (FJB), Bisnis Indonesia, dan Pupuk Kaltim. UKW berjalan lancar dan ditutup Pelaksana Harian Wali Kota Bontang Aji Erlinawati.

Saya tak hendak bercerita tentang UKW, yang menurut para pesertanya ngeri-ngeri sedap, mereka antusias sekaligus ketar-ketir selama dua hari ujian. Saya lebih tertarik merangkai bauran nukilan cerita. Sebuah rangkaian mozaik yang mewakili fenomena sosial budaya, ekonomi, politik, dan tata kehidupan baru alias kenormalan baru. Dan inilah ceritanya.

Saya dan rombongan berangkat dari Kota Solo menuju Yogyakarta International Airport (YIA) di Kulonprogo, Daerah Istimewa Yogyakarta, pada Jumat pagi (2/4/2021). Ini sudah menjadi rutinitas yang menjengkelkan dalam beberapa penerbangan pada masa pandemi ini.

Kami harus menempuh perjalanan darat kurang lebih tiga jam menuju bandara.  Setelah sekitar satu jam 45 menit penerbangan, kami tiba di Bandara APT Pranoto Samarinda, Jumat menjelang sore waktu setempat. Bandara ini diresmikan Presiden Joko Widodo pada 14 Oktober 2018.

Saat mengunjungi Kalimantan Timur sekitar lima tahun lalu, saya terbang dari Solo ke Balikpapan, baru kemudian melalui perjalanan darat dari Balikpapan menuju Samarinda. Bandara APT Pranoto cukup megah dan ”hidup”.

Antrean penumpang lumayan panjang. Itu artinya mobilitas penduduk mulai terasa, meskipun pandemi Covid-19 belum berakhir. Sayang, beberapa menit setelah lepas dari bandara, laju mobil yang saya tumpangi terhenti karena macet. Rupanya jalan raya dari dan ke arah bandara rusak berat.

“Ini sudah beberapa bulan seperti ini. Enggak tahu ini akan diperbaiki atau enggak?” kata Ibnu, sopir yang membawa rombongan kami. Terdapat beberapa lokasi di jalur jalan yang rusak selepas bandara sehingga lumayan mengganggu.

Ibnu berasal dari Nganjuk, Jawa Timur. Dia sudah lama memboyong keluarga besarnya merantau ke Bontang. “Istri saya orang Kediri. Anak-anak saya sekolah di sini,” tutur dia.

Ibnu bercerita dengan bahasa Indonesia. Kadang-kadang dia menjawab dengan bahasa Jawa kalau kami ajak bicara dengan bahasa Jawa. Anak-anaknya tidak bisa berbahasa Jawa. Kalau ngomong bahasa Jawa terdengar lucu dan aneh.

“Bukan hanya anak Pak Ibnu, anak-anak kecil di Solo juga banyak yang nggak bisa berbahasa Jawa,” kata saya menyahut omongannya. Kami pun tertawa, entah tertawa getir karena peradaban yang makin berubah dan ketidakberdayaan mempertahankan kultur asli warisan nenek moyang, atau karena menganggap biasa situasi ini.

Dia lantas bercerita tentang Bontang. Ada nada kebanggaan dari ucapannya. Kata dia, Bontang adalah kota dengan tingkat kriminalitas yang rendah.

”Kalau kita menaruh sepeda motor di depan rumah berhari-hari, meskipun tidak dikunci, motor itu tetap aman, tidak akan diambil orang,” kata dia.

“Kenapa, Pak?” tanya teman saya.

“Ya, karena orang-orang Bontang tidak ada yang menganggur. Semuanya bekerja,” kata dia.

Kami lantas mengobrol tentang pemilihan kepala daerah atau pilkada, tentang orang-orang Jawa yang sering tidak bisa kompak saat ada pilkada, atau tentang ekonomi yang macet selama pandemi, dan lain-lain.

Ibnu berkisah baru pekan ini dia kembali menerima order jasa travel. Saya ikut senang, ada harapan ekonomi benar-benar mulai bergeliat. Jalur Samarinda yang membentang kurang lebih 116 kilometer, melintasi jalur tanjakan dan turunan yang kadang curam dan tajam.

Kadang-kadang saya merasa waswas saat di depan kami ada truk pengangkut alat berat melaju terseok-seok. Truk terguling karena tak kuat menanjak bukan cerita baru di jalur ini. Sebelum Kawasan Bukit Menangis dilandaikan, truk terguling lebih sering terjadi.

Ibu Kota Baru

Selama beberapa hari di Bontang, saya menangkap rencana pemerintah pusat memindahkan ibu kota ke daerah tetangga mereka, yakni di Penajam Paser Utara dan Kutai Kartanegara, akan membuat Bontang makin menggeliat.

“Kalau nanti IKN [ibu kota negara] terwujud, kami bisa menjadi wartawan ibu kota,” kata seorang wartawan media lokal. Dia tidak sedang bercanda, dia serius. Sangat menarik dan menantang.

Begitu juga dengan beberapa pengelola warung makan yang banyak di antaranya berasal dari Jawa. Mereka antusias menyambut ibu kota negara baru.

“Ya, semoga benar-benar terwujud, jadi warung saya makin ramai karena Bontang menjadi penyangga ibu kota,” kata seorang pemilik warung makan yang menyajikan banyak menu masakan ikan laut.

Di Bontang tidak sulit menjumpai makanan khas Soloraya. Di depan hotel tempat kami menginap ada sega liwet ala Solo. Masih di jalur yang sama ada Warung Makan Prasaja yang katanya legendaris, milik warga Sukoharjo. Ada pula bebek goreng Kartasura, hik milik warga Boyolali, dan lain-lain.

Cerita Pak Ibnu tentang angka kriminalitas dan pengangguran di Bontang ada benarnya, meskipun tidak semuanya. Setidaknya menurut keterangan tertulis dari humas Polres Bontang, selama pandemi angka kriminalitas kota industri itu menurun.

Bukan berarti Bontang tidak mempunyai warga yang menganggur. Seperti diberitakan insidekaltim.com, mengacu data Badan Pusat Statistik Kota Bontang pada 2017, tingkat pengangguran 12,44%. Pada 2018, pengangguran turun menjadi 9,61% dan pada 2019 turun lagi menjadi 9,19%.

Bontang beruntung ada beberapa perusahaan besar seperti Pupuk Kaltim dan PT Badak NGL yang mampu menyerap warga lokal atau warga pendatang dari berbagai daerah. Lalu lalang kendaraan berat di jalan raya dan bandara yang makin ramai saat kami pulang ke Solo meniupkan optimisme bahwa bisnis mulai menggeliat.

Ada pemandangan ganjil ketika seorang mahasiswa mendengarkan kuliah online sambil mengisi ulang baterai gadgetnya di box charger. Ini juga menjadi penanda bahwa hidup mungkin tak pernah sama lagi. Semua harus siap menjadi new normal.

Promo & Events
Berita Terkait
    Berita Terkini
    Indeks Berita

    Apa yang ingin anda baca?

    :
    :
    Night Mode
    Notifications
    Support
    Privacy
    PasswordUpdated 15 days ago