Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca

Cegah Kasus Kekerasan Terhadap Anak, KPAI hingga Sosiolog Minta Semua Terlibat

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) hingga sosiolog menilai pencegahan kekerasan terhadap anak perlu dilakukan dengan melibatkan banyak pihak.
SHARE
Cegah Kasus Kekerasan Terhadap Anak, KPAI hingga Sosiolog Minta Semua Terlibat
SOLOPOS.COM - Ilustrasi anak korban kekerasan (Freepik)

Solopos.com, SUKOHARJOKomisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) hingga sosiolog menilai pencegahan kekerasan terhadap anak perlu dilakukan dengan melibatkan banyak pihak. Hal itu disampaikan merujuk pada meninggalnya remaja putri E, 15 asal Desa Banaran, Grogol atas dugaan pembunuhan pada Selasa (24/1/2023) dini hari.

Komisioner KPAI asal Solo, Dian Sasmita, mengatakan pihak keluarga, sekolah, dan pemerintah harus semakin menguatkan program pencegahan dan pengurangan risiko kekerasan terhadap anak.

PromosiPromo Menarik, Nginep di Loa Living Solo Baru Bisa Nonton Netflix Sepuasmu!

Ia mengaku prihatin atas peristiwa pembunuhan terhadap remaja putri di Sukoharjo itu. Terkait peristiwa tersebut, dia mengatakan perlu melihat faktor penyebab dari segala sisi.

Kuis Solopos - Seru-seruan Asah Otak

“Keluarga apakah sudah cukup dalam pengasuhan yang baik kepada anak sehingga anak merasa aman dan nyaman. Apakah anak ada tempat berkeluh kesah, curhat,” jelas Dian saat dihubungi melalui pesan WhatsApp (WA), Selasa malam.

Terlepas dari kasus tersebut, dia meminta orang tua peka dan memperbarui pola pengasuhan anak. Anak pada usia remaja selalu mengalami perubahan baru, terutama secara hormonal.

Kesadaran tersebut menurutnya harus muncul dari orang tua. Mengingat keberhasilan hingga kegembiraan anak berasal dari orang tua.

Sementara pada level pendidikan, Dian mempertanyakan apakah cukup dalam mendukung literasi anak. Pasalnya kemampuan literasi ini tidak muncul seketika, namun perlu adanya stimulan sejak dini.

“Literasi ini kemampuan berfikir anak, mengolah informasi yang diterima anak. Apakah pendidikan sudah cukup memberikan pengetahuan yang cukup tentang reproduksi dan seksualitas. Tidak hanya menjelaskan tubuh dan fungsinya, tapi juga ada pengenalan kekerasan berbasis gender dan risiko-risikonya,” ujar Dian.

Sementara pada level pemerintahan, Dian menyebut harus ada keseriusan dalam mengintervensi pencegahan baik dari level keluarga dan pendidikan. Menurutnya, belajar dari kasus tersebut pihak keluarga, sekolah, dan pemerintah harus semakin menguatkan program pencegahan dan pengurangan risiko kekerasan terhadap anak.

Sosiolog UNS, Drajat Tri Kartono, mengatakan hal serupa. Dia meminta anak-anak usia remaja harus diberikan literasi jelas tentang identifikasi perkenalan dengan orang asing. Di antaranya bagaimana seharusnya merasa aman dan nyaman saat akan melakukan janji temu dengan orang asing.

“Orang tua dan sekolah jangan segan-segan menanyakan ke teman-teman anak sebagai kontrol. Orang tua juga harus memiliki media sosial yang dapat terhubung dengan media sosial anak sebagai kontrol komunikasi,” jelas Drajat.

Dia juga menilai akses kepolisan atau masyarakat dengan cara mudah harus lebih ditingkatkan. Jika tidak, risiko anak bertemu dengan orang asing menjadi rentan dan justru berbahaya.

Sementara itu, Direktur Yayasan Kakak Solo, Shoim Sahriyati, menilai selain peran orang tua, pemerintah, dan guru, rekan sebaya juga memiliki peran penting mengedukasi.

Dia juga menilai kasus EL masuk dalam ranah eksploitasi seksual. Mengingat riwayat pertemuan yang terjadi melalui aplikasi online maupun barang bukti kondom yang ditemukan.

“Berdasarkan kasus yang kami tangani, anak-anak yang jadi korban eksploitasi seksual biasanya diketahui teman-teman dekatnya. Masalahnya teman sebayanya merasa bingung untuk menolong jika hal buruk terjadi,” jelas Shoim.

Berangkat dari hal itu, Shoim menilai edukasi melalui teman sebaya perlu ditingkatkan. Anak-anak harus diberikan pengetahuan bagaimana mencegah teman sebaya untuk terjerumus ke hal-hal negatif.

Selain itu, jika hal tersebut terjadi pada anak lain tanpa mengakibatkan kematian, maka keluarga, sekolah, dan lingkungan wajib menerima sang anak kembali tanpa turut melakukan penghakiman.

Sebab menurutnya, rehabilitasi perlu dilakukan dari orang-orang terdekat dengan berupaya menjadi tempat yang aman bagi para korban.



Info Digital Tekno
Indeks
Berita Terkait
Indeks Berita
Berita Terpopular
Indeks Berita
Info Perbankan
Indeks
Interaktif Solopos
Berita Lainnya
Indeks Berita
      Promo & Events
      Kuis Solopos - Seru-seruan Asah Otak
      Emagz Solopos
      Berita Terkini
      Indeks Berita
      Interaktif Solopos
      Kuis Solopos - Seru-seruan Asah Otak
      Solopos Stories
      Part of Solopos.com
      ISSN BRIN
      Punya akun? Silahkan login
      Daftar sekarang...
      Support - FaQ
      Privacy Policy
      Tentang Kami
      Kontak Kami
      Night Mode