Cara Polisi Cegah Eks Napiter Kembali Radikal: Beri Pendampingan Pekerjaan
Solopos.com|soloraya

Cara Polisi Cegah Eks Napiter Kembali Radikal: Beri Pendampingan Pekerjaan

Masyarakat Jawa Tengah khususnya generasi muda, kaum milenial, diajak bersama-sama menolak paham radikalisme, terorisme, dan intoleran.

Solopos.com, SOLO — Sebanyak 200-an eks napiter dalam pengawasan Jajaran Polda Jawa Tengah. Kepolisian wajib mendampingi para eks napiter setelah bebas dari Lembaga Pemasyarakatan (LP) agar tidak kembali radikal.

Hal itu disampaikan oleh Dirintelkam Polda Jateng, Kombes Pol Jati Wiyoto Abadi mewakili Kapolda Jawa Tengah Irjen Pol Ahmad Luthfi, kepada wartawan di Solo, Selasa (4/5/2021). Menurutnya, di wilayah Solo ada 26 eks napiter dalam pendampingan kepolisan.

Pendampingan itu berkoordinasi dengan ketua lingkungan agar eks napiter bisa diterima di masyarakat. Lalu, setelah diterima kembali ke masyarakat, ujar dia, para eks napiter diberikan pendampingan pekerjaan agar tidak kembali radikal.

Baca juga: Tim Saber Pungli Polresta Solo Tak Proses Hukum Kasus Pungli di Gajahan, Ini Alasannya

Ia menyebut ada dua paguyuban para eks napiter yakni Persadani dan Yayasan Gema Salam.

“Pendampingan seperti membuka warung, kalau mas Jack atau Jack Harun membuka warung soto. Latar belakang ekonomi menjadi penyebab mereka masuk ke paham yang salah,” papar dia.

Menolak Paham Radikalisme

Menurutnya, 200-an itu eks napiter itu terhitung sejak Bom Bali I meliputi eks kelompok ISIS dan JAD.

Salah satu eks napiter, Mahmudi Haryono alis Yusuf, mengatakan saat ini menjabat sebagai ketua Persadani, Semarang. Ia mengajak masyarakat Jawa Tengah khususnya generasi muda, kaum milenial, bersama-sama menolak paham radikalisme, terorisme, dan intoleran.

Baca juga: Viral Video Innova Pelat Merah Halangi Railbus Batara Kresna Di Solo, Ternyata...

Ia mengajak seluruh pemuda bersinergi bersama jajaran kepolisian dan pemerintah dalam mencegah radikalisme.

Sementara itu, Joko Suroso alias Joko Padang, mengatakan kasus bom bunuh diri di Gereja Makassar oleh L, 26, dan penyerangan Mabes Polri oleh ZA, 25, pada beberapa waktu menjadi fenomena baru. Hal itu menjadi fenemona baru karena dua pelaku itu masih tergolong generasi milenial.

Ia menyebut orang tua memiliki peran besar sebagai pencegahan radikalisme pada generasi milenial. Anak milenial cenderung idealis        dan akan memperjuangkan pandangan itu hingga terwujud.

Baca juga: Lebaran Kian Dekat, Gibran Imbau Warga Solo Tahan Diri Jangan Mudik

Termasuk jika anak itu terpapar paham radikalisme. Lalu, sentimen agama sangat mudah dikaitkan untuk masuk ke dalam generasi milenial.

“Orang tua wajib memperhatikan berbagai aktivitas anak mulai pergaulan, sekolah, hingga tempat ibadah. Semua bisa menjadi sasaran, apapun latar belakang organisasi masyarakat (ormas) agama apapun,” papar dia.



Berita Terkait
Indeks Berita
Promo & Events
Terpopuler

Espos Premium
Berita Terkini
Indeks

Apa yang ingin anda baca?

:
:
Night Mode
Notifications
Support
Privacy
PasswordUpdated 15 days ago