top ear
Rini Yustiningsingih (Istimewa/Dokumen pribadi)
  • SOLOPOS.COM
    Rini Yustiningsingih (Istimewa/Dokumen pribadi)

Butuh Kepastian

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 16 Desember 2020. Esai ini karya Rini Yustiningsih, jurnalis Solopos.
Diterbitkan Minggu, 20/12/2020 - 21:18 WIB
oleh Solopos.com/Rini Yustiningsih
4 menit baca

Solopos.com, SOLO -- Teman saya yang seorang master of ceremony (MC) kondang di Kota Solo tiba-tiba mengirim Whatsapp (WA). Saya kutipkan secar averbatim,”Event ku kadung [telanjur] dibatalin semua, jebul berubah lagi.”

Dia mengirim pesan disertai emoticon menangis. Pesan via WA ini menanggapi unggahan di status WA saya tentang berita Solopos.com yang berjudul Karantina Hanya Untuk Pemudik. Berita itu diunggah pada Jumat (11/12/2020).

Sepekan sebelumnya tak kalah seru. Teman dari Sumatra sampai Bali ada yang mempertanyakan soal karantina bagi warga yang akan masuk Kota Solo mulai Kamis (15/12/2020) ini. Pertanyaan itu disertai link berita seputar Masuk Solo Bakal Karantina dan potongan rekaman video hingga audio pernyataan Wali Kota Solo.

Ada juga yang bilang, “Ini aku dah telanjur pesen vila di Tawangmangu gimana? Apa aku naik kereta turun Jogja terus ke Solo pakai taksi online, lewatnya mlipir Solo bablas Tawangmangu, gak masuk ke Kota Solo. Gitu aman kali ya?”

Dia juga bertanya tentang rute dari Kota Solo menuju Tawangmangu, Karanganyar. Saya menjawab, “Kan itu kebijakan Pemkot Solo. Kalau dari Jogja lewat Kartasura langsung masuk tol ke arah Sragen lalu masuk ke Karanganyar naik ke Tawangmangu. Atau dari Kartasura masuk ke Ngasem lalu lewat Colomadu tembus Palur juga bisa. Intine lewate muter hehehe…”

Saya menjelaskan rute ke Tawangmangu tanpa melewati Kota Solo seperti yang dia minta, dua pekan lalu. Dalam dua pekan terakhir cukup banyak yang menanyakan perihal karantina di Kota Solo yang bikin heboh orang-orang luar Kota Solo itu. Kehebohan juga mengemuka di media sosial.

Komentar-komentar yang bertaburan tak kalah seru. Sudah pesan vila, sudah mau mengadakan acara di Kota Solo, sudah telanjur pesan kamar hotel untuk rombongan wisatawan, telanjur merencanakan pertemuan  atau rapat kantor, arisan keluarga, rencana jalan-jalan ke Kota Solo, hingga mau datang ke hajatan.

Berdasar berita di Solopos, wacana karantina pendatang yang masuk Kota Solo sebenarnya bergulir sejak 30 November 2020 lalu. Dimulai dengan pernyataan bahwa pendatang yang masuk Kota Solo akan dikarantina seperti saat Lebaran lalu. Kemudian berlanjut dengan pernyataan warga yang tak punya tujuan penting masuk Kota Solo akan dikarantina.

Tempat karantina di Benteng Vastenburg. Benteng yang berupa tanah lapang di bagian tengahnya benar untuk karantina? Pakai tenda? Kalau nanti masuk angin bagaimana? Muncul kekhawatiran datang sehat pulang malah sakit.

Belakangan rencana karantina pemudik ini dipindah ke Solo Techno Park (STP). Benteng Vastenburg akan dijadikan tempat karantina bagi pelanggar protokol kesehatan untuk mencegah persebaran Covid-19. Sejak Senin (30/11/2020) hingga Jumat (11/12/2020) tercatat ada 11 pernyataan soal karantina bagi siapa pun yang masuk Kota Solo.

Pernyataan ini disampaikan bukan hanya oleh Wali Kota Solo, F.X. Hadi Rudyatmo. namun ada juga oleh otoritas di Dinas Pariwisata Kota Solo dan Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Kota Solo. Intinya karantina di Kota Solo masih maju mundur, tarik ulur.

Rencana yang semula akan diterapkan mulai Kamis (17/12/2020) masih menunggu peraturan Wali Kota Solo dan surat edaran yang katanya akan keluar dalam waktu dekat. Pemerintah Kota Solo kemudian mengeluarkan pernyataan karantina hanya bagi pemudik.

Bagi beberapa hotel, event organizer (EO), pengisi acara, agen travel, jasa bus pariwisata dan lainnya, rencana kebijakan terbaru ini tak terlalu berarti. “Tamuku sudah kabur, lari ke Jogja. Tetangga yang panen ini,” ujar salah seorang public relations officer hotel berbintang di Kota Solo.

Belasan rombongan wisatawab yang akan menginap di Kota Solo akhirnya batal. Mereka mengalihkan tujuan menginap di Jogja. Ada beberapa instansi di Jakarta dan Surabaya yang sedianya menggelar pertemuan di Kota Solo juga dialihkan ke Jogja.

Itu baru satu hotel. Bagaimana dengan hotel yang lain? Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Solo mengemukakan data yang sama di hotel-hotel lainnya.

Pelajaran

Jika ditelisik lebih jauh pula, ratusan juta rupiah pendapatan dari momentum Natal dan perayaan tahun baru yang seharusnya diraup hotel menjadi menguap. Mereka yang terkait langsung maupun tidak langsung dengan bisnis pariwisata juga tak bisa panen pada Desember 2020 ini.

Maju mundur kebijakan karantina pendatang yang masuk Kota Solo berimbas juga ke pariwisata dan hotel di wilayah Soloraya lainnya.  Ini karena brand  Kota Solo yang begitu kuat. Bagi orang luar Kota Solo—khususnya Jakarta, kota-kota besar lain di Jawa, dan luar Pulau Jawa--lebih mengenal wilayah di Soloraya sebagai ”Solo”.

Cukup banyak pelajaran yang bisa diambil dari sini. Pariwisata wisata leisure (rekreasi, hiburan) maupun wisata business (bisnis) dalam hal ini MICE atau meeting, incentive, convention, dan exhibition (pertemuan, insentif, konvensi, pameran) terpengaruh.

Keduanya sangat sensitif sedikitnya terhadap tiga hal, yakni keamanan, kenyamanan, dan kepastian. Bagi wisatawan, keamanan dan kenyamanan pasti menjadi salah satu penentu memilih/melakukan perjalanan ke daerah/tempat yang dituju atau tidak.

Keamanan meliputi banyak faktor, biasanya terkait aksi terorisme, tingkat kriminalitas, bencana, maupun ada tidaknya wabah penyakit. Sedangkan kenyamanan meliputi infrastruktur daerah/tempat, kemudahan akses transportasi, biaya hidup, hingga pelayanan.

Pada masa pandemi Covid-19, kepastian menjadi hal yang dibutuhkan masyarakat. Kepastian ini bisa meliputi kepastian informasi dan kepastian kebijakan. Fungsi pemerintah pada masa pandemi ini ibarat pengemudi mobil yang mengambil peran kapan saatnya menginjak rem dan gas.

Kapan saat rem diinjak untuk menurunkan angka kasus Covid-19 dan kapan saat gas diinjak untuk menggerakkan laju ekonomi. Pastilah untuk menentukan kapan menginjak rem atau gas akan berdampak ke sektor kehidupan lainnya dan butuh diskusi bersama untuk bisa mendapatkan kepastian. Yang terpenting, warga pun mengharapkan kepastian kapan pandemi Covid-19 berakhir?


Editor : Profile Ichwan Prasetyo
LIKE di sini untuk lebih banyak informasi terbaru di Solopos.com

berita terpopuler

Iklan Baris

berita terkini


Cek Berita Lainnya