Bunyi Sembunyi, Karya Hybrid Musik Wonosobo-Banyumas
Solopos.com|jateng

Bunyi Sembunyi, Karya Hybrid Musik Wonosobo-Banyumas

‘Bunyi Sembunyi’, karya yang dia buat juga dikatakan sebagai hasil inspirasi dari keberadaan alat musik tradisional yang semakin berkurang, baik pemainnya maupun peminatnya.

Solopos.com, WONOSOBO -- Musik etnik bisa dikatakan salah satu kategori musik yang tersegmentasi, namun aliran ini mendapat sorotan tajam dan penggiat-penggiat musik tradisional dari kalangan milenial juga mulai bermunculan. Salah satunya adalah Luqmanul Chakim, seorang etnimusikolog asal Wonosobo, Jawa Tengah.

Di usianya yang masih sekitar 27 tahun, pria yang akrab disapa Luqman ini  sudah menjadi seorang produser musik di Wonosobo dan dirinya berkonsentrasi untuk mengembangkan bunyi-bunyi unik yang dihasilkan dari instrumen khas daerah di Indonesia, salah satunya di Jawa Tengah.

luqmanul chakim memakai bundengan
luqmanul chakim memakai kowangan (Dokumentasi Lumanul Chakim)

Baca Juga : Pesona Perdesaan Swiss Seperti Apa yang Ada di Desa Ketenger?

Sebagai seorang etnomusikolog lulusan Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta pada tahun 2017 silam, dirinya ingin membawa musik tradisional ke  dunia anak muda. Selama menggeluti dunia musik etnik, dirinya telah melakukan pertualangan dengan menjelajah ke berbagai daerah di Indonesia untuk mendokumentasi, meneliti, dan menyusun karya-karya baru.

Melalui wawancaranya dengan Solopos.com melalui platform pesan instan WhatsApp, Luqman mengatakan bahwa dirinya memulai pertualangan musik  etno-nya dari kampung halamannya, yaitu Wonosobo.

Hasil penelitiannya ini dia tuangkan dalam sebuah karya musik yang dia buat pada tahun 2020 silam berjudul Bunyi Sembunyi yang sudah dirilis di berbagai platform digital, seperti Youtube dan Spotify. Bunyi Sembunyi ini terlahir dari sebuah program mentoring yang dia ikuti di Jakarta pada Januari 2020 silam.

Kesenian Jemblung Banyumas
Kesenian Jemblung Banyumas (Instagram/@agungwicaksono_jemblung)

Bunyi Sembunyi, karya yang dia buat juga dikatakan sebagai hasil inspirasi dari keberadaan alat musik tradisional yang semakin berkurang, baik pemainnya maupun peminatnya. Selain instrument Bundengan, Luqman juga memasukan unsur kesenian khas Banyumas, bernama  Jemblung.

Baca Juga : Empu Rizal, Satu-Satunya Empu Muda di Jateng Bagian Barat

Program itu diinisiasi oleh salah satu produk  teknologi unggulan yang bertujuan untuk mewadahi para content creator muda untuk membuat sebuah karya. Luqman saat itu mengikuti program music composing yang dimentori langsung oleh Speech Composer dan juga Music Arranger Indonesia, Eka Gustiwana.

“Lagu Bunyi Sembunyi ini adalah sebuah ekspresi kekhawatiran atas tren saat ini. Bahwa musik tradisional sepertinya mulai dilupakan oleh generasi sekarang. Project ini juga mengajak siapapun untuk berani berinovasi dan membuat karya yang berakar dari lingkungan sekitarnya,” kata Luqman kepada Solopos.com

Sebagai seorang etnimusikolog, dia sering mengunggah karya-karyanya di kanal sosial medianya, baik di Instagram @luq_music, Twitter @luq_music dan kanal Youtube Luqmanul Chakim. Salah satu karyanya selain ‘Bunyi Sembunyi’ adalah mengarasemen lagu Jawa ‘Lir-Ilir’ dengan memadukan suara Bundengan, Gamelan Jawa, Beat Box dan juga EDM.



Berita Terkait
Indeks Berita
Promo & Events
Terpopuler
Berita Terkini
Indeks
Berita Video
View All

Apa yang ingin anda baca?

:
:
Night Mode
Notifications
Support
Privacy
PasswordUpdated 15 days ago