Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca

Bukan Hanya Jenjang SD, 46 SMPN di Ponorogo Juga Kekurangan Murid Baru

Puluhan SMP Negeri di Kabupaten Ponorogo kekurangan murid baru pada PPDB tahun 2022.
SHARE
Bukan Hanya Jenjang SD, 46 SMPN di Ponorogo Juga Kekurangan Murid Baru
SOLOPOS.COM - SMPN 3 Ponorogo adalah salah satu sekolah yang belum terpenuhi pagunya Rabu (29/6/2022). (Istimewa)

Solopos.com, PONOROGO — Sekolah negeri di Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, yang kekurangan murid baru pada saat PPDB tahun ajaran 2022-2023 bukan hanya jenjang sekolah dasar (SD) saja. Tetapi, jenjang SMP juga mengalami hal serupa, kekurangan murid baru.

Setelah pendaftaran Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) online jenjang SMPN ditutup, ternyata hanya ada 10 SMP Negeri di Ponorogo yang memenuhi kuota murid baru. Sedangkan 46 SMP Negeri lainnya kekurangan murid baru. Total SMPN di Ponorogo ada sebanyak 56 sekolah.

PromosiRekomendasi Merek Jeans Terbaik Pria & Wanita, Murah Banget!

Sekretaris PPDB Dinas Pendidikan Kabupaten Ponorogo, Soiran, mengatakan saat ini PPDB online untuk jenjang SMP memang telah rampung. Namun, karena masih banyak sekolah yang kekurangan murid baru, akhirnya PPDB dilanjutkan untuk offline. Dijadwalkan PPDB offline dibuka hingga 11 Juli 2022.

Soiran menyampaikan dengan dibukanya PPDB secara offline ini harapannya bisa mengisi kekosongan murid di sejumlah sekolah tersebut. Sebab, masih ada beberapa murid yang tidak diterima di pilihan satu maupun dua.

Baca Juga: Miris! 578 SD Negeri di Ponorogo Kekurangan Murid Baru

‘’Contohnya yang tidak diterima di SMPN 1 dan 2 Ponorogo, bisa masuk ke SMPN 3 yang masih kosong,’’ ungkapnya, Rabu (29/6/2022).

Soiran mengatakan kekurangan murid ini bukan hanya fenomena di daerah pinggiran. Melainkan menyeluruh di wilayah Ponorogo. Sebab, angka kelahiran secara statistik menurun jika dilihat dari peserta ujian setiap tahunnya.

Selain itu, mulai banyak lembaga baru, baik swasta maupun sekolah di bawah naungan Kementerian Agama (Kemenag). Maka, sudah bisa dipastikan tidak ada keseimbangan antara jumlah anak dan sekolah yang berdiri.

‘’Memang program KB [keluarga berencana] berhasil, tapi di satu sisi jumlah anak berkurang,’’ ujarnya.

Baca Juga: Ditipu Makelar Tanah, Warga Ponorogo Rugi Ratusan Juta Rupiah

Untuk itu, Soiran berharap ke depannya setiap sekolah berlomba-lomba dalam pengembangan program dan inovasi Pendidikan. Sebab, masyarakat butuh inovasi pendidikan yang menarik mereka untuk mendaftar ke sekolah tersebut.

‘’Sekolah ke depannya harus menonjolkan inovasi agar bisa bersaing dengan lembaga lain,’’ pungkasnya.



Berita Terkait
Indeks Berita
Berita Terpopular
Indeks Berita
Berita Lainnya
Indeks Berita
      Promo & Events
      Berita Terkini
      Indeks Berita
      Part of Solopos.com
      Punya akun? Silahkan login
      Daftar sekarang...
      Support - FaQ
      Privacy Policy
      Tentang Kami
      Kontak Kami
      Night Mode