Bukan Ecek-Ecek

Nilai perdagangan Indonesia dengan China pada lima bulan pertama tahun ini menembus US$50 miliar. Angka itu naik 27% daripada periode sama tahun 2021 lalu. Itu catatan Boy Thohir. Bahkan, merujuk data BPS secara keseluruhan, neraca perdagangan Indonesia surplus dalam jumlah yang terus pecah rekor baru. Hingga Junilalu, surplus dagang Indonesia telah mencapai US$24,89 miliar.

Jumat, 29 Juli 2022 - 14:26 WIB Penulis: Arif Budisusilo Editor: Syifaul Arifin | Solopos.com

SOLOPOS.COM - Arif Budisusilo (Istimewa)

Pekan lalu saya ke Jakarta untuk beberapa urusan. Salah satunya menghadiri perkenalan pengurus Kadin Indonesia Komite Tiongkok atau KIKT. Komite itu diketuai Garibaldi ‘Boy’ Thohir, taipan dari Group Adaro.

Banyak taipan hadir, termasuk konglomerat muda generasi kedua dan “wajah baru” yang mewarnai acara itu. Tampak hadir Tommy Winata, Aguan, Edwin Suryadjaya, dan sederet pengusaha lainnya.

Juga hadir Dubes China untuk Indonesia dan pejabat pemerintah. Ada Menlu Retno Marsudi dan Menko Marinvest Luhut Binsar Panjaitan. Serta sejumlah petinggi BUMN. Juga para pengurus Kadin.

Yang pasti, banyak catatan dari acara itu. Boy banyak memuji kondisi ekonomi Indonesia yang relatif baik setelah dua tahun dihantam pandemi. Tentu salah satunya karena keberhasilan penanganan Covid-19.

Catatan lain adalah rekor investasi yang mengalir masuk. Begitu pula perdagangan internasional, kendati situasi geopolitik global sedang sangat menantang sebagai dampak perang Rusia dan Ukraina.

Kabar baiknya, di tengah kondisi tersebut, nilai perdagangan Indonesia dengan China pada lima bulan pertama tahun ini menembus US$50 miliar. Angka itu naik 27% daripada periode sama tahun 2021 lalu. Itu catatan Boy Thohir.

Bahkan, merujuk data BPS secara keseluruhan, neraca perdagangan Indonesia surplus dalam jumlah yang terus pecah rekor baru. Hingga Juni lalu, surplus dagang Indonesia telah mencapai US$24,89 miliar.

Tampak jelas, Indonesia memiliki banyak “anomali positif” bila disandingkan dengan kondisi global hari-hari ini.

Bukan hanya perdagangan internasional yang moncer. Kinerja investasi Indonesia dan sejumlah indikator makroekonomi lainnya juga relatif kinclong. Padahal di luar sana banyak orang membincangkan resesi ekonomi. Juga tekanan inflasi di banyak negara, lantaran terkaman harga komoditas, pangan dan energi yang terbang tinggi.

Di tengah situasi seperti itu, Indonesia bukan sekadar beruntung, tapi mampu ambil untung. Dan saya tak heran dengan “anomali” itu.

Saya kira, hal itu bukanlah kebetulan semata. Yang pasti Indonesia memiliki banyak keuntungan komparatif dibandingkan dengan banyak negara lain. Negara ini kaya dengan sumberdaya alam, yang tiba-tiba saja sekarang ini menjadi sangat kompetitif. Dan membawa berkah.

Batubara yang semula “dijauhi” sebelum perang Rusia-Ukraina, tiba-tiba kembali menjadi primadona. Minyak sawit yang semula “diharamkan” ujug-ujug menjadi rebutan. Dan sederet hal lain termasuk kapasitas konsumsi domestik yang semula diremehkan, kini menjadi kekuatan.

Maka tak heran bila banyak permintaan dari banyak negara terhadap berbagai komoditas dari Indonesia. Anomali yang menyelamatkan. Hasilnya sudah kita  rasakan. Tatkala banyak negara mengalami hiperinflasi hingga ada yang mencapai 70% bahkan lebih, hari ini Indonesia masih di level 4%. Begitupula saat pertumbuhan ekonomi dunia banyak dikoreksi bahkan mencuat ancaman resesi, Indonesia masih tumbuh di atas 5%.

***

Dan tak perlu heran bila posisi kita diuntungkan. Saya melihat, ini juga berkat ikhtiar yang tidak sepi. Apalagi Presiden Indonesia Joko Widodo tampak proaktif memanfaatkan keunggulan komparatif sekaligus kompetitif tersebut.

Bahkan dalam situasi perang di Rusia dan Ukraina, Presiden sempat berkunjung langsung ke dua negara yang sedang berkonflik tersebut. Demi misi perdamaian sekaligus misi “penyelamatan” krisis pangan dan energi dunia. Terlebih pula, Indonesia memegang posisi Keketuaan G-20 tahun ini.

Bukan cuma itu, Presiden Jokowi pekan ini juga mengunjungi tiga negara “serumpun”, yakni China, Jepang dan Korea Selatan dalam rangka misi ekonomi.

Kata orang Solo, langkah Jokowi seperti nge-gas poll, memanfaatkan momentum bullish dalam sentimen ekonomi lokal maupun anomali geopolitik global.

Presiden Jokowi bertemu Presiden China Xi Jinping dengan protokol ketat di gedung tamu negara Diaoyutai di Distrik Haidian pada 26 Juli. Setelahnya, Presiden Jokowi langsung bertolak dari Beijing ke Jepang.

Jokowi menjadi kepala negara pertama yang diterima Presiden Xi Jinping sejak Olimpiade Musim Dingin di Beijing pada Februari tahun ini. Presiden Jokowi juga menjadi Kepala Negara pertama yang melakukan kunjungan kenegaraan pasca pandemi Covid-19 di China.

Jelas ini bukan sesuatu yang kebetulan. Terlebih, rangkaian kunjungan berlanjut ke Tokyo menemui Perdana Menteri Jepang Fumio Kishida, serta ke Seoul menyambangi Presiden Korea Selatan Yoon Suk-yeol.

Tujuan ikhtiar tersebut jelas, untuk meningkatkan hubungan dagang, investasi, relasi politik, serta membangun kerja sama ekonomi model baru. Bukan cuma soal industri hijau, dukungan terhadap G20, serta sejumlah isu strategis lainnya.

Salah satu hasil pembicaraan dari Beijing adalah protokol ekspor nanas, yang dipelesetkan menjadi diplomasi nanas. Dengan diplomasi nanas itu, Indonesia bisa mengekspor nanas ke China. Perjanjian ini sempat ngadat sejak tahun 2016 silam.

Kata Menteri BUMN Erick Thohir yang menyertai kunjungan Presiden ke China, banyak produk pertanian yang segera diborong dari Indonesia. Termasuk tambahan permintaan 1 juta ton minyak sawit Indonesia.

Hasil produktif juga diperoleh dari lawatan ke Jepang. Dalam pertemuan Jokowi dengan Perdana Menteri Jepang Kishida, mereka bersepakat untuk memperkuat kerja sama perdagangan dan investasi.

Bahkan, Jokowi menawarkan kepada sektor swasta Jepang untuk mendapatkan peluang investasi terbaik di Indonesia. Tak lupa, Jokowi menyambut baik sejumlah investasi baru Jepang di Indonesia. Presiden juga mengapresiasi proyek-proyek yang diselesaikan tepat waktu, juga mengundang investasi baru Jepang lainnya di berbagai bidang.

Di sektor perdagangan, Presiden Jokowi meminta agar Jepang menurunkan tarif beberapa produk Indonesia seperti tuna, pisang dan nanas. Juga diminta akses pasar untuk produk mangga.

Presiden Jokowi juga mendorong dukungan ilmu pengetahuan dan teknologi baru Jepang untuk mendukung beberapa proyek strategis Indonesia. Terutama untuk hilirisasi komoditas sumberdaya alam, pengembangan mobil dan motor listrik, serta sektor kesehatan dan pangan.

***

Maka jelas, semuanya jadi tidak lagi serba kebetulan. Ada ikhtiar yang tidak biasa. Presiden Jokowi, layaknya Chief Executive of Indonesia, terus berupaya memanfaatkan berbagai peluang di tengah situasi yang tidak mudah.

Kita semua tahu bahwa China, Jepang dan Korea Selatan adalah negara-negara “rumpun inovasi” yang kebetulan berlokasi geostrategis di Asia Timur.

Ketiganya memiliki keunggulan inovasi  dan teknologi, yang kini berada di depan, bahkan terhadap keunggulan Barat dan Amerika sekalipun.

Ditambah dengan perubahan konstelasi geopolitik dan geo-ekonomi global menyusul konflik Rusia dan Ukraina, posisi negara-negara Asia Timur itu semakin strategis dalam kancah ekonomi global.

Terlebih posisi China. Dan secara kebetulan, dalam situasi geostrategis itu, dunia usaha di Indonesia pun berkomitmen untuk memperkuat jalinan dengan ekonomi dan dunia usaha China.

Seperti kata Boy Thohir, Komite yang dipimpinnya akan terus berupaya untuk memastikan investor China menjalankan bisnis dengan baik dan memperoleh mitra terbaik dari Indonesia. Melalui mekanisme pertukaran UMKM, pertukaran budaya, entertainment hingga food diplomacy.

Boy bahkan berjanji akan membuka kantor KIKT di Pantai Indah Kapuk, untuk meningkatkan ekspor Indonesia ke China dan membantu memfasilitasi investor China ke Indonesia.

Bahkan Menko Luhut Binsar Panjaitan lebih meyakinkan lagi. Dia melukiskan posisi Indonesia dengan berbagai keberhasilan belakangan ini. Penanganan pandemi Indonesia, kata Luhut, lebih baik dari Singapura.

Hal itu mendasari pengelolaan berbagai tantangan terbaru lainnya yang menjanjikan. Risiko yang berbahaya, yakni krisis makanan dan energi, tampaknya dapat dikelola dengan lebih baik. Krisis minyak goreng juga sudah mulai teratasi.

Ancaman resesi seperti Srilangka, kata Luhut, kecil kemungkinan akan terjadi. Bahkan dengan sadis Luhut berkata lantang kepada para pengamat yang menyamaratakan Indonesia dengan Srilangka. “Kalian jangan membohongi rakyat,” katanya.

Sedikit ilustrasi, Luhut menceritakan pertemuannya dengan pangeran dari Arab Saudi, Mohammad bin Salman. MbS, kata Luhut, bilang tak mau kehilangan Indonesia sekarang ini, seperti kehilangan China di tahun 80-an. Kita tahu, awal kebangkitan China mulai terjadi di tahun 1980-an.

Barangkali, Luhut ingin menyampaikan bahwa inilah siklus kebangkitan yang akan dialami Indonesia. Maka, seperti MbS, Luhut pun menyerukan kepada para taipan agar pulang ke Indonesia. Termasuk para konglometrat yang masih tinggal di Singapura.

“Negara ini bukan negara ecek-ecek. Kalau masih ada yang kaya-kaya tinggal di Singapura, saya boleh kritik. Tinggallah di sini,” kata Luhut. Lantang.

Nah, bagaimana menurut Anda? (*)

Arif Budisusilo adalah wartawan senior Jaringan Bisnis Indonesia Group. Tulisan ini telah dimuat di Harian Solopos edisi Jumat (29/7/2022) hal. 2

Hanya Untuk Anda

Inspiratif & Informatif