[x] close
Bukan Cuma Kebaya dan Sanggul
Solopos.com|kolom

Bukan Cuma Kebaya dan Sanggul

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis, 22 April 2021. Esai ini karya Elly Jauharah Asriani, guru Matematika di MTsN 7 Klaten, Jawa Tengah.

Solopos.com, SOLO -- Perjuangan Kartini mendapatkan kesetaraan dengan kaum laki-laki sering kali dijadikan simbol oleh para feminis Indonesia. Seorang perempuan dengan profesi atau pekerjaan yang jamak menjadi domain para lelaki akan dijuluki sebagai Kartini masa kini. Perempuan di negeri ini pantas meneladani semangat dan pemikiran Kartini (1889-1904).

Pada biografi Kartini di buku Sisi Lain Kartini yang ditulis Nur Khozin dijelaskan sifat cerdas dan berani dengan rasa keingintahuan yang tinggi telah melekat pada pribadi Kartini sejak kecil. Kartini dengan gigih mengupayakan haknya untuk dapat melanjutkan sekolah dan tidak menjalani pingitan.

Kartini juga merupakan sosok yang peduli dengan lingkungan. Limpahan materi dan gelar bangsawan yang dia miliki tidak membuat Kartini tumbuh menjadi seseorang yang sombong dan manja. Dalam sebuah surat yang dikirimkan kepada salah seorang sahabatnya, Kartini menulis tentang rasa haru pada kesengsaraan seorang bocah  berumur enam tahun yang menjual rumput.

Penjual rumput itu sama sekali tidak tampak, seolah-olah ada dua ikat rumput berjalan di jalanan. Kartini semakin heran ketika anak itu diberi makan, tetapi tidak dia makan. Nasinya dibawa pulang karena si bocah dan dua adiknya yang berada di rumah hanya makan nasi sekali dalam sehari setelah ibunya pulang dari bekerja pada malam hari (Nur Khozin, 2016: 3).

Pemikiran Kartini yang dituangkan dalam surat-surat yang dikirimkan kepada sahabat-sahabatnya di Eropa, seperti Estelle H. Zeehandelaar atau Stella, Ny. Ovienk-Soer, Ny. H.G. de Booy-Boisevain, H.H. van Kol, Ny. N. van kol, Ny. R.M. Abendanon-Mandri, J.H. Abendanon, dan E.C. Abendanon menyimpan visi dan misi yang sangat kuat.

Ilmu dan wawasan yang dimiliki Kartini tidak hanya karena fasilitas istimewa sebagai seorang anak bupati pada era kolonial Belanda, sehingga Kartini mendapat kesempatan untuk menikmati sekolah di Europeshce Lagere School atau ELS. Sekolah dasar yang murid-muridnya adalah anak-anak keturunan Belanda, Eropa, dan rakyat Indonesia dari golongan terpandang itu menggunakan bahasa Belanda sebagai bahasa pengantar.

Anak R.M. Sosroningrat dan Mas Ajeng Ngasirah itu sangat rajin mengikuti pelajaran dan giat berlatih agar dapat berbahasa Belanda dengan baik. Keberanian Kartini dalam menggugat adat juga lebih dikarenakan ilmu, pengetahuan, dan wawasan yang dia miliki.

Ketika menjalani masa pingitan, Kartini banyak menggunakan waktu luang untuk membaca buku, majalah, dan koran dari dalam dan luar negeri. Bahan bacaan itu sengaja diberikan oleh ayahnya yang bernama Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, seorang Bupati di Jepara. Kartini memanfaatkan suasana malam yang hening untuk menuliskan gagasan-gagasannya dalam bahasa Belanda.(Nur Khozin, 2016: 14). Beberapa tulisan yang berupa esai dan surat dimuat di berbagai koran.

Buah Manis Emansipasi

Saat ini, emansipasi perempuan telah berkembang di hampir semua lini kehidupan. Tidak ada lagi perempuan yang dipingit dan tidak dapat mengenyam pendidikan mulai dari dasar hingga perguruan tinggi. Perempuan tidak lagi dipandang sebelah mata. Berbagai prestasi telah ditorehkan para perempuan Indonesia di dalam negeri maupun mancanegara.

Indonesia berbangga dengan kinerja para Kartini masa kini. Sebut saja Sri Mulyani, Menteri Keuangan saat ini, yang pernah menjabat sebagai Direktur Pelaksana Bank Dunia dan menjadi Menteri Keuangan terbaik di Asia Pasifik bagian timur, bahkan menteri terbaik di dunia. Pada era kepemimpinan Presiden Joko Widodo, Indonesia memiliki Retno Marsudi sebagai Menteri Luar Negeri.

Retno Marsudi merupakan perempuan pertama yang menduduki posisi tersebut. Prestasi dia patut diacungi jempol karena dapat membawa Indonesia menjadi Presiden Dewan Keamanan PBB pada dua tahun terakhir ini dan Retno Marsudi selalu sukses memimpin rapat di Dewan Keamanan PBB.

Retno Marsudi aktif menyuarakan perdamaian serta perlindungan hak perempuan dan anak. Menteri yang pernah menempuh pendidikan dan menjadi duta besar di Kerajaan Belanda ini juga sangat peduli dengan pandemi Covid-19 dengan menolak penimbunan vaksin oleh negara maju dan menuntut pemerataan penyediaan vaksin di berbagai negara.

Tokoh perempuan lainnya yang tidak kalah tenar untuk menjadi Kartini masa kini adalah Khofifah Indar Parawansa. Kiprah Khofifah Indar Parawansa di bidang sosial dan pemberdayaan perempuan tidak perlu diragukan mengingat riwayat jabatan yang pernah dia emban, seperti Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan, Kepala BKKBN, dan Menteri Sosial.

Menurut laman Kominfo tanggal 4 April 2020, Gubernur Jawa Timur mengalokasikan APBD senilai Rp2,384 triliun untuk penanganan Covid-19. Khofifah Indar Parawansa juga mendapat peringkat pertama sebagai perempuan terpegah dan tervokal di tengah pandemi Covid-19 yang merupakan hasil riset Indonesia Indicator (Antaranews, 21 April 2020).

Perempuan yang pernah dinyatakan positif tertular Covid-19 itu tercatat paling banyak diberitakan di media daring terkait Covid-19 di Indonesia pada 1 Maret-17 April 2020. Khofifah aktif bersinergi dengan pemerintah pusat untuk menangani Covid-19 dan tak pernah bosan mengingatkan warga untuk menerapkan penjagaan jarak, pembatasal kegiatan sosial, mencegah persebaran pandemi, serta memastikan ketersediaan alat pelindung diri (APD) untuk tenaga medis di Jawa Timur.

Berpikiran Maju

Para perempuan inspiratif seperti Sri Mulyani, Retno Marsudi, dan Khofifah Indar Parawansa tidak akan meraih hasil seperti sekarang ini bila tidak memiliki pola pikir yang maju. Mereka tidak mengenal kata lelah atau menyerah. Mereka dengan gigih memperjuangkan karier mereka, Sri Mulyani, Retno Marsudi, dan Khofifah Indar Parawansa tidak melupakan kodrat sebagai seorang istri dan ibu saat memulai karier.

Saya ambil mereka sebagai contoh karena kita bisa mengetahui perjuangan mereka sejak kecil menuntut ilmu, menambah wawasan, dan mengembangkan pola pikir sehingga kini mereka menjadi perempuan-perempuan berpengaruh. Menjadi perempuan-perempuan yang memegang wewenang dan kekuasaan untuk merumuskan kebijakan yang menentukan nasib banyak orang.

Selain kompetensi keilmuan masing-masing, untuk dapat berperan di kancah internasional, mereka membekali diri dengan kemampuan berbahasa asing. Karakter mereka tidak jauh berbeda dengan etos Kartini. Sri Mulyani, Retno Marsudi, dan Khofifah Indar Parawansa yang sangat peduli dengan pandemi beserta kewenangan besar di sektor kebijakan yang mereka pegang layak menyandang gelar Kartini masa pandemi.

Peringatan Hari Kartini setiap tanggal 21 April seharusnya memanggil kaum perempuan tidak hanya memakai kebaya dan sanggul sebagai simbol identitas fisik Kartini. Berkaca pada sepak terjang Kartini yang hidup lebih dari 100 tahun yang lalu, selayaknya perempuan Indonesia malu bila tak berpikiran maju. Kartini mengajarkan bahwa perempuan harus cerdas, kritis, mandiri, dan melek literasi.

Memperingati Hari Kartini seharusnya adalah membangun kesadaran kaum perempuan tentang berpikiran maju, tentang rakyat sebagai tujuan, tentang pendidikan setinggi-tingginya, tentang kebebasan berpikir yang multidisiplin dan kosmopolitan untuk merumuskan kemajuan pribadi dengan tujuan besar mewujudkan kemajuan bersama rakyat. Jelas, memperingati Hari Kartini bukan sekadar memakai kebaya dan sanggul.

Kartini pada masa pandemi tentu saja bukan hanya para pejabat dan menteri, tetapi juga para perempuan dan para ibu di Indonesia. Masa depan negeri saat ini juga ditentukan oleh sikap para ibu yang mendampingi atau memantau anak-anak dalam belajar di rumah untuk menggapai prestasi.

Di samping menyelesaikan tugas atau pekerjaan lainnya, para ibu harus mampu menjadi guru untuk anak-anak mereka yang berusia sekolah serta menjaga asupan gizi dan asupan nurani mereka. Para ibu dalam posisi demikian tentu harus berpikiran maju, bahkan sangat maju, demi membantu anak-anak mereka menjalani pendidikan yang tidak normal pada masa pandemi ini. Selamat Hari Kartini untuk para perempuan dan ibu yang telah menjadi Kartini pada masa pandemi.


Berita Terkait
Indeks Berita
Promo & Events
Terpopuler
Berita Terkini
Indeks
Berita Video
View All

Apa yang ingin anda baca?

:
:
Night Mode
Notifications
Support
Privacy
PasswordUpdated 15 days ago