Bukan Cuma di Solo, Ini Tradisi Makan Kuliner Anjing di Indonesia
Solopos.com|soloraya

Bukan Cuma di Solo, Ini Tradisi Makan Kuliner Anjing di Indonesia

Tradisi mengonsumsi kuliner anjing bukan hanya ada di masyarakat Solo, tetapi juga berbagai daerah lain di Indonesia.

Solopos.com, SOLO – Sajian olahan daging anjing di Kota Solo dan sekitarnya kembali menjadi perhatian. Dari dulu sampai sekarang, jumlah penikmat kuliner ekstrem ini terus meningkat dan menimbulkan kekhawatiran pada berbagai pihak.

Olahan daging anjing telah mengakar pada lidah warga Soloraya sejak dulu kala. Jika dulu daging anjing dianggap sebagai makanan orang miskin, kini anggapan tersebut sudah menghilang. Siapapun dari kalangan orang kaya maupun miskin bisa menikmati kuliner yang satu ini.

Bukan hanya di Solo, kuliner daging anjing juga terkenal di berbagai wilayah lain di Indonesia. Mulai dari Sumatra Utara, Nusa Tenggara Timur, Bali, hingga Sulawesi Utara.

Berdasarkan catatan sejarah yang dihimpun Solopos.com, Minggu ((18/4/2021), kebiasaan manusia mengonsumsi daging anjing terjadi di berbagai belahan dunia. Beberapa budaya memandang hal ini sebagai bagian dari tradisi.

Baca juga: Sengsu: Proses Seekor Anjing Jadi Olahan Kuliner di Kota Solo

Batak

Bahkan pada 2017 lalu lagu Sayur Kol dengan lirik makan daging anjing dengan sayur kol viral di media sosial. Lagu tersebut mungkin sudah tidak asing bagi warga Sumatra Utara. Lagu itu dipopulerkan Punxgoaran Band, salah satu band beraliran punk dari Pematangsiantar, Sumatra Utara.

Lagu tersebut menceritakan seorang pemuda yang menyantap daging anjing dengan sayur kol. Bagi sebagian orang termasuk pencinta binatang, kuliner daging anjing mungkin terasa menjijikan.

Baca juga: Sate Jamu: Kuliner Daging Anjing Populer di Solo yang Sempat Menipu

Namun ternyata hal ini sudah menjadi tradisi bagi masyarakat Manado, Bali, Batak, hingga Solo. Bagi orang Batak, babi dipelihara sebagai hewan ternak sementara anjing sebagai penjaga. Namun ketika sampai di meja makan, kedua binatang ini diperlakukan sama, yakni sebagai santapan.

Jika ditarik lebih jauh, makan daging anjing pada budaya Batak memiliki makna lebih dari sekadar kuliner pendamping saat minum tuak. Mengonsumsi daging anjing diyakini memberikan kekuatan kepada tondi (roh) manusia. Kepercayaan ini menghinggapi diri orang Batak zaman dulu yang gemar berperang.

Baca juga: Uenak! Keripik Gedebok Pisang Buatan Warga Kedawung Sragen Gurih-Gurih Nyoi

Soloraya

Sementara bagi masyarakat Soloraya, kebiasaan menyantap kuliner daging anjing dibawa oleh Belanda yang menjadi kemudian menjadi tradisi. Makanan ini biasa disantap pendatang Tionghoa yang kemudian menjadi peluang bisnis bagi warga Solo.

Daging anjing tersebut diolah menjadi aneka kuliner mulai dari sate, rica-rica, hingga tongseng asu atau sengsu. Ada juga yang menyantap daging anjing goreng sebagai pelengkap nasi goreng.



Berita Terkait
Indeks Berita
Promo & Events
Terpopuler

Espos Premium
Berita Terkini
Indeks

Apa yang ingin anda baca?

:
:
Night Mode
Notifications
Support
Privacy
PasswordUpdated 15 days ago