Budidaya Timun Baby di DIY Menggiurkan

Budidaya Timun Baby di DIY Menggiurkan
SOLOPOS.COM - Sejumlah petani melihat tanaman timun di lahan pertanian di Dusun Plombon, Desa Sardonoharjo, Kecamatan Ngaglik beberapa waktu lalu. (Istimewa)

Sardonoharjo kembangkan budidaya timun baby.

Harianjogja.com, SLEMAN–Potensi pertanian di Desa Sardonoharjo, Kecamatan Ngaglik bakal digenjot. Salah satu upaya pemerintah desa untuk meningkatkan produksi pertanian adalah dengan membentuk Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) yang bergerak di bidang pertanian.

Kepala Desa Sardonoharjo, Harjuno Wiwoho mengatakan untuk meningkatkan perekonomian warga pihaknya tidak hanya melakukan pembangunan fisik. Namun pembangunan sumberdaya manusia dan sumber daya ekonomi juga dilakukan. Salah satu yang dilakukan adalah dengan mendirikan BUMDes Bintang 18. BUMDes tersebut digelontor dana Rp120 juta untuk dapat menggerakkan perekonomian warga melalui sejumlah unit usaha.

“Karena potensi desa kami di bidang pertanian unit usaha yang dibentuk mayoritas di bidang pertanian,” kata dia kepada Harianjogja.com, beberapa waktu lalu. Diantaranya, unit usaha di bidang pertanian yang telah berjalan adalah budidaya timun baby, budidaya padi jenis super, dan juga persewaan alat pertanian. Untuk budidaya timun baby kata dia telah dimulai dengan melibatkan 20 petani yang masing-masing menam timun di lahan 2.000 meter persegi.

Harjuno yang menjabat sebagai kepala desa dua periode ini berharap sejumlah unit usaha pertanian bisa menjadi awal untuk pembangunan perekonomian desa. Sehingga selanjutnya unit usaha lain dapat juga tumbuh pada tahun-tahun yang akan datang.

Sementara itu Direktur, BUMDes Bintang 18, Hari Purwanto mengatakan unit usaha budidaya timun baby memang menjadi salah satu andalan. Pasalnya pangsa pasar timun ini dinilainya sangat potensial di wilayah DIY. Selain itu pemeliharaanya juga dinilainya sangat mudah.

“Kami memilih usaha budidaya timun karena harga timun lebih stabil. Selain itu juga resiko terkena hama penyakit juga relatif lebih rendah,” kata dia.

Pertimbangan lain  diantaranya adalah budidaya timun memiliki waktu panen yang relatif lebih cepat dibandingkan dengan tanaman lain.  Sehingga dengan harga rata-rata timun baby Rp4.000 per kilogram maka keuntungan yang didapat cukup lumayan, dan itu  diyakini dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Hari mengatakan, meskipun baru didirkan tahun ini, dia yakin pada akhir 2018 mendatang omzet BUMDes sudah mampu mendekati Rp1 miliar. “Dengan empat unit usaha yakni budidaya timun baby, budidaya padi jenis super, persewaan alat pertanian, dan pengelolaan limbah rumah tangga, kami targetkan omzet di akhir tahun bisa mendekati Rp1 miliar,” ujarnya.


Berita Terkait
    Promo & Events
    Honda Motor Jateng
    Berita Terkini
    Indeks Berita

    Apa yang ingin anda baca?

    :
    :
    Night Mode
    Notifications
    Support
    Privacy
    PasswordUpdated 15 days ago