Budaya Minum Jamu Muncul Sejak Zaman Kerajaan Mataram
Solopos.com|jateng

Budaya Minum Jamu Muncul Sejak Zaman Kerajaan Mataram

Masyarakat Indonesia rupanya sudah mengenal Jamu sebagai minuman obat sejak jaman kerajaan Mataram.

Solopos.com, WONOSOBO -- Kasus Covid-19 di Indonesia yang mengalami lonjakan yang signifikan mendorong masyarakat untuk menerapkan protokol kesehatan secara disiplin dan juga meningkatkan kekebalan tubuh. Seperti yang sudah dilaporkan oleh Solopos.com, Jumat (18/6/2021), Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, mengajak warga untuk minum jamu sebagai salah satu cara untuk meningkatkan kekebalan tubuh.

Gerakan minum jamu ini disampaikan Ganjar di halaman kantor Pemprov Jateng, Kota Semarang. Mengutip dari situs Indonesia.go.id, Sabtu (19/6/2021), masyarakat Indonesia rupanya sudah mengenal jamu sebagai minuman obat sejak jaman kerajaan Mataram.

Jamu yang merupakan minuman herbal berbahan dasar rempah-rempah seperti kunyit, temulawak, lengkuas, jahe, kencur dan kayu manis, serta gula jawa sebagai penambah rasa manis dulunya diproduksi oleh kaum perempuan dengan menggunakan alat tumbuk seperti cobek dan ulekan.

Baca Juga: Alasan Bupati Banjarnegara Gemar Pelihara Burung, Kicauannya Bikin Perasaan Tenang

Ilustrasi Minum Jamu @vonnyeyd
Ilustrasi minum Jamu Tradsional (Instagram/@vonnyeyd)

Hal ini diperkuat dengan temuan artefak berupa dua alat penumbuk tersebut yang bisa dilihat di situs arkeologi Liyangan yang berlokasi di lereng Gunung Sindoro, yang berada di antara Kabupaten Wonosobo dan Temanggung, Jawa Tengah.

Selain artefak cobek dan ulekan, ditemukan juga bukti-bukti lain seperti alat membuat jamu yang ditemukan di Candi Borobudur di  Kabupaten Magelang, Candi Prambanan di Yogyakarta dan Candi Brambang di Kabupaten Boyolali.

Saat  ilmu kesehatan modern masuk ke Indonesia, tradisi minum jamu sempat mengalami penurunan. Saat itu kampanye obat-obatan besertifikat sukses mengubah pola pikir masyarakat Indonesia sehingga minat terhadap jamu menurun.

Ilustrasi penjual Jamu gendong @aboutcirebonid
Ilustrasi penjual Jamu gendong (Instagram/@aboutcirebonid)

Baca Juga : Tingkatkan Imunitas, Gubernur Ganjar Ajak Warga Minum Jamu

Namun pada masa kolonial Jepang, tepatnya pada tahun 1940-an, tradisi minum jamu kembali populer karena telah dibentuknya Komite Jamu Indonesia. Dengan demikian, kepercayaan khasiat terhadap jamu kembali meningkat.

Seiring berjalannya waktu, penjualan Jamu ikut menyesuaikan dengan teknologi, di antaranya banyak produk jamu yang dikemas dalam bentuk pil, tablet atau bubuk instan yang mudah diseduh. Saat itu berbenturan dengan menurunya kondisi pertanian Indonesia yang mengakibatkan adanya industrialisasi, termasuk jamu (baca: industri Fitofarmaka)

Pada era 1974 hingga 1990, banyak perusahaan jamu yang bermunculan dan semakin berkembang. Pada era itu juga ramai diadakan pembinaan dan pemberian bantuan dari pemerintah agar pelaku industri jamu dapat meningkatkan aktivitas produksinya.

Baca Juga : Islam Aboge, Akulturasi Dakwah dengan Muatan Budaya Lokal

Karena sudah terindustrialisasi, pembuatan jamu secara  tradisional hampir jarang dilakukan dan penjual jamu yang biasanya berjualan dengan menggendong bakul keranjang (jamu gendong) juga sudah langka namun masih ditemukan juga penjual minuman Jamu tradisional yang berdagang dengan cara bersepeda.

Berdasarkan penelusuran Solopos.com melalui situs-situs dan jurnal kesehatan, jamu yang berbahan dasar rempah-rempah atau yang dikenal dengan sebutan empon-empon ini terbukti secara ilmiah dapat meningkatkan imunitas tubuh dan juga mengobati beberapa penyakit.

Di antaranya kunyit, berdasarkan situs Dinkes.jogjaprov.id, zat kurkumin yang terkandung dalam kunyit terbukti dapat meningkatkan daya tahan tubuh dan cocok dikonsumsi di masa pandemi seperti saat ini.

Kemudian ada beras kencur, berdasarkan penelitian dari International Sciences of Pharmacy and Pharmaceutical Sciences, jamu beras kencur terbukti dapat mengatasi gangguan pencernaan, seperti diare.

Perlu diketahui, jamu dipercaya berasal dari dua kata Jawa kuno, djampi yang bermakna penyembuhan dan oesodo yang bermakna kesehatan. Istilah Jamu diperkenalkan ke publik lewat orang-orang yang dipercaya punya ilmu pengobatan tradisional. Mesti tak besetifikat, khasiat jamu telah teruji oleh waktu secara turun-temurun digunakan sebagai obat tradisional.



Berita Terkait
Indeks Berita
Promo & Events
Terpopuler
Berita Terkini
Indeks
Berita Video
View All

Apa yang ingin anda baca?

:
:
Night Mode
Notifications
Support
Privacy
PasswordUpdated 15 days ago