top ear
Sri Hartanti Sulistyaningsih (Istimewa/Dokumen prbadi)
  • SOLOPOS.COM
    Sri Hartanti Sulistyaningsih (Istimewa/Dokumen prbadi)

Bonus Demografi di Tengah Pandemi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu, 30 Januari 2021. Esai ini karya Sri Hartanti Sulistyaningsih, Statistisi Ahli Muda Badan Pusat Statistik Kabupaten Boyolali.
Diterbitkan Kamis, 18/02/2021 - 20:02 WIB
oleh Solopos.com/Sri Hartanti Sulistyaningsih
5 menit baca

Solopos.com, SOLO -- Pada tanggal  21 Januari 2021 Badan Pusat Statistik merilis hasil Sensus Penduduk 2020. Pertama kali dalam sejarah sensus penduduk di Indonesia pada 2020 sensus penduduk (SP 2020) menggunakan metode kombinasi.

SP 2020 memanfaatkan data administrasi kependudukan (adminduk) di Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kementerian Dalam Negeri sebagai data dasar pelaksanaan SP 2020. Hal ini dirancang dan dilaksanakan sebagai upaya untuk mewujudkan satu data kependudukan Indonesia.

Sensus kali ini dilaksanakan dalam suasana yang berbeda. Hantaman pandemi covid-19 sangat  memengaruhi setiap proses dan pelaksanaan kegiatan SP 2020 sehingga Badan Pusat Statistik menyesuaikan tata kelola setiap tahapan proses bisnis dengan tetap berpegang pada tujuan besar SP 2020 .

Beberapa penyesuaian dilakukan dimulai pada tahapan sensus penduduk  online yang semula dilaksanakan pada 15 Februari 2020 hingga 31 Maret 2020 diperpanjang hingga 29 Mei 2020. Pendataan penduduk yang semula direncanakan dilaksanakan pada Juli 2020 dimundurkan ke September 2020.

Metode pendataan penduduk yang semula direncanakan secara  wawancara dan wilayah dibagi menjadi dua zona dengan mempertimbangkan ketersediaan akses Internet, yaitu zona yang menggunakan kuesioner kertas (paper and pencil interviewing, PAPI) dan dan zona yang menggunakan sistem elektronik (computer assisted personal interviewing, CAPI), akhirnya dibagi menjadi tiga zona, yaitu zona 1 drop off and pick up (DOPU) kuesioner PAPI, zona 2 non-DOPU, dan zona 3 wawancara.

SP 2020 mencatat penduduk Indonesia pada September 2020 sebanyak 270,20 juta jiwa. Walaupun jumlah penduduk selalu meningkat  sejak Indonesia menyelenggarakan sensus penduduk yang pertama pada tahun 1961, dalam kurun waktu 10 tahun terakhir (2010-2020) terjadi perlambatan laju pertumbuhan penduduk Indonesia sebesar 0,24% jika dibanding pada periode 2000–2010 yang sebesar 1,49%.

Hasil SP 2020 mencatat mayoritas penduduk Indonesia adalah generasi Z (lahir pada tahun 1997-2012) dan generasi milenial (lahir pada tahun 1981-996). Proporsi generasi Z sebanyak 27,94% dari total populasi dan generasi milenial sebanyak 25,87%.

Dua generasi ini termasuk dalam usia produktif yang dapat menjadi peluang untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi. Sedangkan persentase penduduk usia produktif (usia 15 tahun-64 tahun) terhadap total populasi pada tahu 2020 sebesar 70,72%. Persentase penduduk usia nonproduktif (usia 0-14 tahun dan 65 tahun ke atas) sebesar 29,28% pada 2020.

Persentase penduduk usia produktif yang lebih besar dibandingkan penduduk usia nonproduktif tersebut menunjukkan Indonesia masih berada pada era bonus demografi. Jelas tampakbahwa saat ini Indonesia berada pada kondisi optimal menuju akselerasi percepatan pembangunan.

Dominasi generasi Z dan generasi milenial menjadi modal, peluang, dan tantangan agar capaian pembangunan bisa maksimal.  Enam sampai tujuh tahun ke depan generasi inilah yang menjadi aktor dalam pembangunan yang akan menentukan masa depan Indonesia.

Di tengah optimisme dari hasil SP 2020 ini realitas menunjukkan hal yang sebaliknya. Kualitas generasi Z, yaitu mereka yang masih duduk di bangku sekolah dalam rentang umur enam tahun hingga 24 tahun, dan generasi milenial, yang berumur 24 tahun hingga 39 tahun, saat ini sedang dipertaruhkan.

Pandemi Covid-19 mengubah seluruh sistem dan tatanan kehidupan sampai pada akarnya, termasuk sistem pendidikan. Perubahan sistem pembelajaran mengakibatkan penurunan kualitas siswa dan mahasiswa. Sistem pembelajaran dominan dilakukan secara daring.  Penyerapan ilmu oleh siswa tidak lagi seoptimal pembelajaran tatap muka.

Laptop dan gadget mejadi pengganti guru. Tidak ada lagi  interaksi antara siswa dan guru seintensif pembelajaran tatap muka. Inilah pilihan terbaik demi menjaga kelangsungan pendidikan agar tidak terputus sama sekali karena pandemi.

Alasan utama tidak lain demi kesehatan dan keselamatan, terlepas dari permasalahan lain seperti kurangnya sarana karena orang tua tidak mampu membelikan laptop/gadget atau minimnya akses Internet. Kondisi saat ini menunjukkan pandemi covid-19 makin menjadi-jadi tanpa kejelasan kapan akan berakhir.

Kondisi pendidikan yang masih berada dalam tataran beradaptasi dan belum menemukan konsep yang pas agar mampu menghasilkan kualitas seperti sebelum pandemi. Terlintas pertanyaan akankah generasi Z dan generasi milenial siap menerima estafet pembangunan pada masa depan?

Tentu harapan besar disematkan agar generasi Z dan generasi milenial   tetap ”survive” dan tetap optimal dalam menyiapkan diri menjadi penerus bangsa ini. Jangan sampai bonus demografi yang saat ini kita dapatkan malah menjadi beban pada masa depan ketika tidak dipersiapkan dan dikelola  dengan baik sejak dini, apa pun yang terjadi.

Persiapan

Puncak bonus demografi menurut prediksi Badan Pusat Statistik akan tejadi pada tahun 2030-2040. Kala itu jumlah penduduk usia produktif  sekitar 64% dari total jumlah penduduk  yang diproyeksikan sekitar 297 juta jiwa. Itu artinya masih ada waktu untuk berbenah.

Masih ada waktu menyiapkan sumber daya manusia, generasi yang akan meneruskan dan menjalankan pembangunan negeri ini, agar siap dan mampu bersaing dengan negara lain. Dukungan pemerintah sangat dibutuhkan untuk mewujudkan,

Dukungan itu terutama di bidang pendidikan yang menjadi kunci penyiapan sumber daya manusia. Tentu juga di bidang ketenagakerjaan karena terkait dengan kesiapan  penciptaan lapangan kerja agar tidak terjadi peningkatan pengangguran karena sumber daya manusia usia produktif tidak terserap di dunia kerja.

Jika pengelolaan bonus demografi tidak dipersiapkan, sangat mungkin angka kemiskinan akan meningkat yang disebabkan penurunan pendapatan karena pengangguran bertambah. Hal ini terjadi ketika jumlah penduduk usia produktif yang secara kuantitas sudah optimal tidak memberikan kontribusi positif karena kualitasnya tidak bagus.

Mereka tidak mampu bersaing dan memenuhi tuntutan dunia kerja. Ketika lapangan kerja juga tidak dipersiapkan, akan sia-sia pula sumber daya manusia yang optimal kualitasnya. Mereka yang berkualitas baik tetapi tidak terserap dunia kerja karena lapangan usaha yang sangat terbatas akan menjadi masalah baru.

Butuh  kerja bersama yang lebih dan sangat keras tentunya, apalagi krisis yang diakibatkan pandemi Coviud-19 masih belum juga bisa diatasi secara maksimal oleh pemerintah.  Optimisme harus tetap dibangun terutama di kalangan generasi  Z dan generasi milenial.

Mereka harus menjadikan kondisi krisis ini sebagai potensi dengan mencari terobosan  dan inovasi dalam menimba ilmu maupun dalam mencari peluang  meningkatkan pendapatan. Kemampuan harus diasah terus-menerus agar mampu bertahan dan berkembang. Kehidupan harus tetap berjalan. Tekad dan semangat harus dikuatkan dan potensi diri harus dioptimalkan demi keberlangsungan dan kemajuan negeri.

Tentu semua dilakukan dengan tanpa meninggalkan kepedulian dalam  penanggulangan pandemi Covid-19. Harus tetap mengutamakan kesehatan dan keselamatan dengan berdisiplin menjalankan protokol kesehatan.  Tetaplah sehat, tetaplah bersemangat, dan jangan lupa berbahagia.


Editor : Profile Ichwan Prasetyo
LIKE di sini untuk lebih banyak informasi terbaru di Solopos.com

berita terpopuler

Iklan Baris

berita terkini


Cek Berita Lainnya