Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca

BMKG: Perubahan Iklim di Indonesia Berada Pada Kondisi Kritis

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati menyatakan perubahan iklim di Indonesia pada batas kondisi kritis.
SHARE
BMKG: Perubahan Iklim di Indonesia Berada Pada Kondisi Kritis
SOLOPOS.COM - Ilustrasi. Perubahan iklim di kawasan perkotaan. (Antara)

Solopos.com, JAKARTA — Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati menyatakan perubahan iklim di Indonesia pada batas kondisi kritis.

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati dalam Rakornas BMKG 2022 awal pekan ini mengatakan hal itu menjadi tantangan besar bagi Indonesia

PromosiNimo Highland, Wisata Hits di Bandung yang Mirip Santorini Yunani

Selain itu BMKG juga memprediksi akhir abad 21 perkotaan di Indonesia akan mengalami kenaikan suhu hingga 3 derajat celcius atau lebih.

Proyeksi BMKG terhadap kenaikan suhu di perkotaan Indonesia ini berdasarkan analisis suhu udara terkait adanya perubahan iklim yang mengkhawatirkan.

Dikutip dari Hitekno.com, Kepala BMKG Dwikorita mengatakan hal itu dapat terjadi apabila Indonesia tidak berhasil melakukan mitigasi perubahan iklim.

Baca juga: Kini Hapus Pesan di Aplikasi WhatsApp Butuh Waktu Dua Hari

“BMKG menganalisis dan memproyeksikan suhu udara akhir abad 21 dapat mencapai 3 derajat Celsius atau lebih di seluruh kota besar di Indonesia, apabila tidak berhasil melakukan mitigasi perubahan iklim,” kata Dwikorita.

Dampak perubahan iklim semakin nyata dan serius, laju kenaikan suhu dalam 42 tahun terakhir telah mencapai rata-rata 0,02 derajat Celcius hingga 0,443 derajat Celcius per dekade di wilayah Indonesia.

“Tertinggi mencapai 0,4 derajat Celsius per dekade terjadi di Kalimantan Timur,” kata Dwikorita.

Sedangkan kenaikan suhu udara permukaan global telah mencapai 1,1 derajat Celcius dibandingkan masa praindustri pada tahun 1850 hingga 1900.

Baca juga: Awas Internet Eror! Badai Matahari Hantam Bumi 7-8 Agustus 2022

Selain itu Dwikorita mengungkapkan BMKG juga mencatat dampak perubahan iklim mengakibatkan semakin hangatnya suhu muka air laut di perairan Indonesia.

Susu muka air laut hingga mencapai suhu 29 derajat Celsius pada saat terjadi La Nina moderat dan Badai Tropis Seroja di Nusa Tenggara Timur.

Selain itu, gletser di Puncak Jayawijaya berdasarkan hasil riset BMKG saat ini tinggal kurang lebih 2 kilometer persegi atau 1 persen dari luas awalnya sekitar 200 kilometer persegi.

“BMKG juga memprediksi gletser tersebut akan punah, mencair pada sekitar tahun 2025-2026,” ujar Dwikorita.

Baca juga: Rekomendasi AC 1/2 PK Low Watt, Tetap Bikin Adem Ruangan

Ia menjelaskan, akibat perubahan iklim kenaikan rata-rata muka air laut global termonitor pula mencapai 4,4 mm per tahun pada periode 2010-2015, lebih tinggi lajunya jika dibandingkan periode sebelum 1900 yaitu sebesar 1,2 mm per tahun.

Periode ulang anomali iklim El Nino dan La Nina juga semakin pendek dari 5-7 tahun pada periode 1950-1980, menjadi hanya 2-3 tahun selama periode setelah 1980 hingga saat ini.

“Seluruh fenomena tersebut berakibat pada semakin meningkatnya frekuensi intensitas dan durasi cuaca ekstrem,” kata dia.

 

 



Berita Terkait
Indeks Berita
Berita Terpopular
Indeks Berita
Berita Lainnya
Indeks Berita
      Promo & Events
      Berita Terkini
      Indeks Berita
      Part of Solopos.com
      Punya akun? Silahkan login
      Daftar sekarang...
      Support - FaQ
      Privacy Policy
      Tentang Kami
      Kontak Kami
      Night Mode