top ear
Ardian Nur Rizki/Istimewa
  • SOLOPOS.COM
    Ardian Nur Rizki/Istimewa

Blusukan Sejarah

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (29/1/2020). Esai ini karya Ardian Nur Rizki, guru di Sekolah Indonesia Luar Negeri Johor Bahru, Malaysia. Alamat e-mail penulis adalah ardianurizki@gmail.com.
Diterbitkan Jumat, 7/02/2020 - 07:30 WIB
oleh Solopos.com/Ardian Nur Rizki
3 menit baca

Solopos.com, SOLO -- Paradigma pendidikan zaman kiwari tengah mengalami transformasi. Pertama, pembelajaran berpusat pada siswa. Kedua, guru tidak berperan sebagai penyampai informasi, melainkan mengajak siswa proaktif mencari dan bertukar informasi. Ketiga, siswa dituntut bekerja secara kolaboratif, tidak individual (Suyanto, 2013).

Pemerintah telah menyusun konsep kurikulum pembelajaran yang seirama dengan paradigma pendidikan baru, yakni dengan mengintegrasikan berpikir kreatif, kritis, komunikatif, kolaboratif; higher order thinking kills (HOTS); gerakan literasi sekolah; dan penguatan pendidikan karakter (PPK).

Guru–sebagai ujung tombak kegiatan pembelajaran—berperan sentral dalam menyusun formula agar substansi, konten, dan proses pembelajaran lurus dengan konsep kurikulum. Setiap mata pelajaran mengemban misi penting sesuai dengan esensi dan khitahnya masing-masing.

Peran strategis untuk menumbuhkan karakter positif–semacam sikap nasionalisme, patriotisme, toleransi, dan cinta tanah air—diemban oleh mata pelajaran sejarah. Melalui transmisi kisah keteladanan para pahlawan, mata pelajaran sejarah dapat mendiseminasi nilai-nilai luhur dan sikap patriotik.

Ikhtiar mentransmisikan kisah keteladanan pahlawan acap kali menuai kemuskilan. Pelajaran sejarah justru kerap disajikan dengan cara-cara konservatif sehingga mata pelajaran ini identik dengan predikat membosankan dan nihil guna.

Konten pelajaran sejarah yang kerap dipersempit menjadi sejarah peperangan dan silsilah kerajaan tidak membantu menemukan ”mutiara pesan moral” yang terpendam di lumpur sang waktu (Yudi, 2014).

Miskin Wahana

Degradasi mata pelajaran sejarah membuat kita miskin wahana untuk membumikan keteladanan pahlawan maupun keluhuran nilai hidup masa silam. Perlu upaya progresif menyajikan pembelajaran sejarah menjadi lebih inovatif dan atraktif, sekaligus mengimplementasikan paradigma baru pendidikan.

Peristiwa sejarah yang berlangsung pada masa silam seyogianya dihadirkan oleh guru di pelupuk mata siswa. Aktualisasi dan kontekstualisasi peristiwa sejarah dapat diupayakan dengan menghadirkan objek sejarah ke dalam pembelajaran. Salah satu upaya menghadirkan objek sejarah dalam pembelajaran adalah dengan ”blusukan sejarah”.

Blusukan secara etimologis berasal dari bahasa Jawa, dari kata dasar blusuk yang artinya masuk. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), blusukan mengandung definisi masuk ke suatu tempat dengan tujuan untuk mengetahui sesuatu.

Blusukan sejarah adalah memasuki dan menjelajahi tempat-tempat bersejarah dengan tujuan mempelajari dan mengetahui peristiwa sejarah. Implementasi ”blusukan sejarah” yakni dengan mengajak siswa mengunjungi dan menelusuri objek-objek bersejarah secara langsung.

Siswa dapat melihat, menjejak, dan merasakan degup-denyut suatu tempat lokasi terjadinya peristiwa bersejarah. Dengan demikian, pelajaran sejarah tidak lagi bertumpu pada narasi dan fantasi kosong. Blusukan sejarah adalah sebentuk upaya mengenalkan sejarah daerah setempat kepada siswa.

Konten pelajaran sejarah saat ini didominasi peristiwa-peristiwa besar berskala nasional, sementara lokalitas sejarah acap kali tidak diindahkan. Lokalitas sejarah dan kearifan budaya daerah merupakan fundamen yang harus dipahami siswa sebagai pemerkukuh sejarah nasional.

Oleh karena itu, guru sejarah seyogianya sudi memberikan suplemen pengetahuan dan pemahaman sejarah daerah setempat kepada siswa. Dengan blusukan sejarah, siswa dapat mengetahui dan memahami kultur dan nilai-nilai luhur daerah masing-masing.

Laksana Permata

Guru dapat memulai hal ini dengan riset terhadap objek sejarah, pelaku sejarah, saksi sejarah, dokumen sejarah, maupun sumber-sumber relevan lainnya.

Jika melakukan riset dianggap terlalu muskil dan menyita waktu, guru dapat berperan sebagai fasilitator pembelajaran, yakni mencari penjelasan dari sejarawan maupun orang-orang yang telah melakukan penelitian mengenai sejarah lokal daerah setempat.

Fakta-fakta yang terkumpul tersebut laksana permata yang akan didiseminasikan kepada para siswa sembari blusukan dan menyusuri objek sejarah terkait. Blusukan sejarah relatif membutuhkan waktu yang panjang, dapat dilaksanakan sepulang sekolah atau pada hari libur.

Pelaksanaan pembelajaran yang bersifat atraktif dan rekreatif semacam ini umumnya akan diikuti siswa dengan penuh antusias. Pemahaman dan pengetahuan siswa terhadap sejarah setempat menjadi utuh dan pepat. Hal ini menjadi fondasi kukuh untuk membingkai pemahaman sejarah nasional.

Setiap tempat memaktubkan kisah. Setiap daerah memiliki muruah sejarah. Blusukan sejarah dapat menjadi mode penggali potensi berupa kisah sejarah, kultur, dan nilai-nilai luhur.

Guru-guru sejarah di Kota Solo harusi bergegas mengimplementasikan blusukan sejarah sebelum monumen-monumen bersejarah di kota ini musnah dan diratakan dengan tanah oleh lembaga ”pelat merah”.


Editor : Profile Ichwan Prasetyo
LIKE di sini untuk lebih banyak informasi terbaru di Solopos.com

berita terkait

berita terpopuler

Iklan Baris

Properti Solo & Jogja

berita terkini