Bisnis Perhotelan Soloraya Optimistis Sambut 2022

Tingkat okupansi hotel serta kunjungan wisata ke Solo sempat pecah rekor tertinggi selama pandemi Covid-19 pada Oktober lalu.
Bisnis Perhotelan Soloraya Optimistis Sambut 2022
SOLOPOS.COM - Ilustrasi layanan di hotel sesuai protokol kesehatan. (Istimewa)

Solopos.com, SOLO — Tingkat okupansi hotel serta kunjungan wisata ke Solo sempat pecah rekor tertinggi selama pandemi Covid-19 pada Oktober lalu. Posisi Solo sebagai kota tujuan Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition (MICE) turut mendukung tren positif tersebut.

PromosiPemerintah Yakin Nasib Restrukturisasi Garuda akan Berakhir Baik

Pada Oktober lalu, pelonggaran Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) membuat wisatawan leisure maupun government berdatangan ke Solo.

Sejumlah stakeholder pariwisata tetap optimistis meskipun angka tersebut diprediksi menurun saat momen Natal dan Tahun Baru (Nataru). Keberhasilan Oktober bakal mereka kejar pasca pembatasan Nataru.

Wakil Ketua Association of The Indonesian Tours & Travel Agencies (Asita) Jawa Tengah (Jateng), Daryono, saat berbincang dengan para jurnalis, Kamis (2/12/2021), mengatakan pandemi Covid-19 mengubah tren kunjungan wisata di Solo. Kunjungan wisata tak lagi saat weekend maupun peak season. Melainkan rata di semua waktu.

Baca juga: Erick Thohir Ungkap 2 BUMN IPO dan 5 BUMN Rights Issue, Apa Saja?

Oleh karena itu, ia, merasa PPKM saat Nataru tak berdampak signifikan pada sektor pariwisata Solo. Kalau bicara soal revenue, mereka telah memanfaatkan momen sebelum pelaksanaan PPKM level 3. Sejumlah kegiatan berbasis MICE ramai digelar Oktober hingga awal Desember.

Begitu juga sebaliknya, ia berharap pasca PPKM level 3 nanti wisata MICE maupun leisure kembali tumbuh. Februari hingga Lebaran yang biasanya identik dengan low season diprediksi bakal ramai.

“Kami dari Asita Jawa Tengah mendukung penuh program pemerintah menggaungkan pembatasan saat Nataru. Selanjutnya, kami berharap justru setelah ini Januari sampai Maret yang biasanya low season bisa jadi ramai. Kami berharap lebih bagus, dan aktivitasnya bia kembali ditingkatkan lagi. Sebagai pengganti Nataru,” kata Daryono.

Tren wisata di luar peak season ini sebenarnya menguntungkan pengunjung. Perjalanan wisata bisa terasa lebih private dengan harga dan pelayanan hotel terbaik. Wisatawan juga bakal dibuat lebih aman dan nyaman. “Teman-teman travel agent harus mengemasnya jadi paket wisata safety,” tambah Daryono.

Baca Juga: Rebound Gaes! Cek Harga Emas Pegadaian Jumat 3 Desember 2021

Dampak Tol Trans Jawa

Tol Trans Jawa juga memberikan dampak positif bagi pengembangan wisata Solo. Daryono mengatakan, kedepan kolaborasi wisata antar wilayah harus makin digaungkan. Misalnya merencanakan paket wisata Solo, Yogyakarta, Surabaya, dan sebaliknya. Mengingat, perjalanan Solo – Surabaya bahkan bisa ditempuh hanya tiga jam via Tol Trans Jawa. “Paket wisata antar provinsi ini sekarang ini sudah dicoba oleh sejumlah travel agent. Peminatnya juga lumayan,” terangnya.

Kolaborasi antar wilayah juga harus makin dikuatkan di wilayah Soloraya. Jangan lagi ada ego sektoral karena semuanya berada di satu kawasan. Harapannya, para wisatawan Solo memiliki banyak referensi destinasi yang akan dikunjungi.

“Maka perlu juga diperbanyak atraksi wisata di Solo sekitarnya. Harapannya agar memperpanjang orang menginap di Solo,” terang Daryono.

Selebihnya, ia juga mendorong dibukanya lebih banyak lagi penerbangan dari Solo. Sebagai kota destinasi MICE, Solo butuh frekuensi penerbangan yang tinggi untuk menarik minat para wisatawan.

Baca Juga: Menteri Singapura Sebut Produk Perhiasan Indonesia Unik dan Indah

Sementara, Ketua Bidang Humas dan Promosi PHRI Solo, Sistho A Sreshtho, mengatakan selama pandemi Covid-19 ini mereka berjalan tanpa outlook. Begitu juga pada 2022 mendatang. Namun, dirinya memprediksi bakal terus tumbuh dan membaik seiring dengan akselerasi vaksinasi dan sejumlah inovasi yang dilakukan stakeholder pariwisata Kota Solo.

Program baru yang diyakini bakal terus berkembang yakni wellness tourism serta sport tourism. Potensi sport tourism bahkan sudah terlihat sejak awal tahun ini. Dimulai dari Piala Menpora 2021, disusul terpilihnya Solo sebagai tuan rumah Liga 2.

“Asalkan situasinya aman seperti ini terus, saya optimistis 2022 akan lebih baik. Semester dua bakal naik ke arah normal. Apalagi Solo mulai berbenah pada untuk wellness tourism dan sport tourism,” kata dia.

“Sektor pariwisata memang paling cepat terdampak [pembatasan aktivitas di masa pandemi]. Namun sektor pariwisata juga diyakini paling cepet recovery. Contohnya Tawangmangu yang gampang kembali ramai,” terangnya lagi.


Berita Terkait
    Berita Lainnya
    Promo & Events
    Honda Motor Jateng
    Berita Terkini
    Indeks Berita

    Apa yang ingin anda baca?

    :
    :
    Night Mode
    Notifications
    Support
    Privacy
    PasswordUpdated 15 days ago