Bisnis Monyet Tanaman Hias
Solopos.com|kolom

Bisnis Monyet Tanaman Hias

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa, 20 April 2021. Esai ini karya Nadia Aliya Azki, mahasiswa Program Studi Manajamen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Solopos.com, SOLO -- Pandemi Covid-19 dan kebiasaan baru warga di rumah saja untuk mencegah penularan peyakit tersebut memunculkan banyak hal yang dulu tak dilakukan di tengah masyarakat. Masyarakat yang tidak punya banyak pilihan selain berada di rumah saja kerap mencari kesibukan yang dapat dilakukan di dalam rumah.

Mengemukanya kanal masak-memasak atau berbagai kiat mengolah makanan secara sederhana di Youtube yang dapat ditiru dengan mudah adalah bukti banyak orang yang mulai jenuh dengan aktivitas di rumah yang hanya itu-itu saja. Sebagai salah satu pengisi waktu luang, banyak orang yang mencoba hobi baru, salah satunya bercocok tanam.

Kondisi demikian juga menyuburkan perilaku instan: ingin lekas mendapatkan keuntungan besar dengan usaha sedikit dan dari rumah saja. Figur publik Tantri Namirah dan Ayudia Bing Slamet kini kerap mengunggah di media sosial aktivitas bercocok tanam.

Tantri Namira memiliki lahan luas untuk bercocok tanam. Pemilik rumah minimalis yang tak punya lahan luas yang terbuka, seperti Ayudia Bing Slamet, memilih atap rumah untuk bercocok tanam. Mereka menanam aneka sayuran secara organik.

Tentu saja aneka tanaman sayuran organic memerlukan perawatan yang rumit dan biaya yang tidak sedikit. Budi daya sayuran organi tidak menggunakan pestisida dan rentan dimakan hama. Hal ini yang menyebabkan perawatan tanaman sayuran organik tergolong sukar.

Perlu ketelatenan dan ketelitian melakukan hal ini. Biaya awal atau modal juga tidak sedikit. Tidak bisa instan. Banyaknya figur publik yang mengekspos aktivitas bercocok tanam mereka di sosial media menginspirasi masyarakat  yang sudah jenuh di rumah saja. Menjadi semacam katarsis dari rasa bingung mau melakukan apa guna mengisi waktu luang.

Masyarakat yang awam tentang bercocok tanam ingin menanam tanaman yang bemanfaat namun dengan cara yang sederhana. Hal ini memunculkan ide baru untuk memelihara tanaman yang bisa dilakukan dengan mudah dan tak perlu banyak perawatan.

Kini muncul tren baru di tengah masyarakat, yaitu membudidatakan tanaman hias. Tanaman hias yang tengah digemari masyarakat adalah aglonema dan Monstera adansonii variegata yang kerap dikenal dengan sebutan janda bolong.

Sebenarnya tak ada yang istimewa dari tanaman tersebut, kecuali bolongan di daun yang katanya indah. Sebelum aglonema dan monstera menjadi tren, tanaman hias yang mendadak memiliki harga selangit pernah diraih oleh kamboja jepang, bougenvil, dan gelombang cinta yang sempat booming pada tahun 2006 sampai 2008.

Gejala yang sama adalah pada tahun 2015 ketika di Indonesia booming tren batu akik yang memiliki harga fantastis. Tidak ada yang tahu pasti siapa dan bagaimana tren tersebut berawal. Tanaman hias yang kerap kali dijumpai tumbuh bebas di pekarangan atau kebun kini berharga fantastis.

Patokan harga tanaman hias seperti janda bolong dan aglonema berdasarkan jumlah daun bahkan jumlah tunas dalam satu pot. Harga yang ditawarkan pun beragam, dari yang ratusan ribu rupiah hingga seharga sepeda motor dan mobil.

Ada yang janggal dari tren tanaman hias yang harganya irasional ini. Aglonema dan monstera bukanlah tanaman yang langka, bukan pula tanaman yang sulit dan memerlukan biaya besar untuk perawatan. Tentu lebih mahal budi daya aneka tanaman sayuran secara organik di atap rumah.

Lalu mengapa harga tanaman hias dapat melejit bahkan hingga puluhan juta rupiah? Ahli pemasaran Philip Kotler menyebut harga berhubungan dengan nilai dan manfaat. Fakta menunjukkan tren harga aglonema dan monstera tidak mengikuti konsep tersebut.

Fenomena Berulang

Akademikus ilmu pemasaran dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Mulawarman, Samarinda, Jusuf Kuleh, menyatakan sesuai teori Kotler dalam konsep bauran pemasaran (produk, harga, distribusi, dan promosi), monstera dan aglonema ini menggunakan promosi untuk meningkatkan harga jual.

Sesuai dengan teori pemasaran, harga akan berbanding lurus dengan permintaan. Ini berarti tingginya permintaan akan meninggikan harga pula. Harga tinggi dapat disebabkan oleh dua faktor. Pertama, ketika permintaan yang tinggi namun pasokan produk terbatas.

Kedua, ketika produk tersebut sedang diburu pembeli meskipun pasokan cenderung tetap. Faktanya harga jual janda bolong tidak mengikuti teori pemasaran tersebut. Nilai produk yang diperoleh konsumen dari janda bolong tidak sesuai dengan puluhan juta  rupiah yang dikeluarkan untuk membelinya.

Ini mengingatkan saya dengan sebuah strategi pemasaran bernama monkey bussines atau bisnis monyet. Barangkali banyak yang masih asing dengan istilah ini. Monkey bussines sudah berlangsung lama dan tak hanya terjadi di Indonesia.

Monkey bussines bukan bisnis yang secara harfiah berhubungan dengan jual beli monyet dan sejenisnya. Ini merupakan sebutan untuk bisnis kotor yang dilakukan oleh pengusaha. Istilah ini didapat dari perilaku monyet yang kabur atau lari ketika mendapat makanan. Sedangkan makanan di sini dianalogikan sebagai keuntungan.

Ada sebuah cerita yang dikaitkan dengan awal mula istilah monkey bussiness  ini. Cerita ini berawal dari inisiatif seorang pengusaha yang ingin mengambil keuntungan dari banyaknya populasi monyet di sebuah desa. Pengusaha itu bersama asistennya mengumumkan kepada warga agar mencari monyet dan menjual kepadanya.

Berawal dari hal itu, seluruh warga mencari monyet untuk dijual. Lama-kelamaan populasi monyet di hutan mulai menipis. Pengusaha tersebut menyuruh asistennya untuk menjual kembali monyet-monyet yang ia dapatkan dari warga dengan harga tinggi.

Tingginya permintaan membuat harga monyet kian tinggi. Setelah monyet dari pengusaha terjual habis dan dia mendapatkan keuntungan besar dari bisnis kotor ini, ia dan asistennya menghilang. Dari cerita tersebut terdapat korelasi anatara monkey bussines dengan fenomena tanaman hias yang tengah digemari masyarakat saat ini.

Tentu saja motif mengoleksi tanaman hias yang berkembang di masyarakat adalah investasi. Masyarakat berharap tanaman yang dibeli dengan harga tinggi dapat dijual kembali dengan harga yang lebih tinggi pula. Sesungguhnya budi daya janda bolong terbilang mudah dan bukan termasuk tanaman langka.

Produk yang tersedia di pasaran makin banyak dan permintaan menurun yang berdampak pada harga yang menurun pula. Fenomena yang merugikan ini terjadi karena masyarakat yang latah dan hanya ikut-ikutan tren tanpa melihat nilai barang tersebut.

Selain itu, kehidupan ekonomi yang morat-marit akibat pandemi Covid-19 membuat masyarakat menginginkan keuntungan yang instan serta berharap tanaman hias dapat dijadikan ladang investasi. Fenomena ini akan terus berulang dan terus merugikan apabila masyarakat kurang teredukasi mengenai monkey bussines ini. Masyarakat harus lebih cermat dan bijak dalam menanggapi tren yang sedang berlangsung. Jangan mudah ikut-ikutan pada yang sedang jadi tren.



Berita Terkait
Indeks Berita
Promo & Events
Terpopuler

Espos Premium
Berita Terkini
Indeks

Apa yang ingin anda baca?

:
:
Night Mode
Notifications
Support
Privacy
PasswordUpdated 15 days ago