Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca

Bisnis Cuan Budi Daya Jamur Tiram di Klaten, Omzet Rp28,8 Juta/Bulan

Warga Desa Candi Rejo, Kecamatan Ngawen, Kabupaten Klaten, Dayat, mengembangkan budi daya jamur tiram untuk meraup pundi-pundi rupiah.
SHARE
Bisnis Cuan Budi Daya Jamur Tiram di Klaten, Omzet Rp28,8 Juta/Bulan
SOLOPOS.COM - Pembudidaya sekaligus petani jamur tiram asal Desa Karang Rejo, Kecamatan Ngawen, Kabupaten Klaten, Dayat, menunjukkan budi daya jamur tiram miliknya, Sabtu (13/8/2022. (Solopos.com/Wildan Farih Kurniawan).

Solopos.com, KLATEN — Warga Desa Candi Rejo, Kecamatan Ngawen, Kabupaten Klaten, Dayat, mengembangkan budi daya jamur tiram untuk meraup pundi-pundi rupiah. Jamur tiram menurut Dayat cukup prospektif karena bisa panen dan mudah dipasarkan setiap hari.

Dayat kemudian menceritakan betapa usaha jamur tiram sangat prospektif. Modal yang dibutuhkan per media tanam atau baglog sekitar Rp1.500. Sebanyak 2.000 baglog menghasilkan 80 kilogram (kg) jamur tiram per panen.

PromosiDaihatsu Rocky, Mobil Harga Rp200 Jutaan Jadi Cuma Rp99.000

Panen bahkan bisa dilakukan tiap hari jika cuaca sedang mendukung.

“Lebih menaikkan ekonomi dan tambah ilmu. Dari budidaya jamur kalau punya kandang dengan asumsi satu kandang 2.000 baglog [media tanam]. Maka kalau punya empat kandang akan dapat 7.000-8.000 baglog. Bisa buat hidup yang berkecukupan bisa”, kata Dayat kepada Solopos.com, Sabtu (13/8/2022).

Sebanyak empat kandang jamur berisi 7.000 baglog mampu menghasilkan panen 80 kg jamur dengan harga jual ke tengkulak sekitar Rp12.000 hingga Rp16.000 per kilogram.

Baca juga: FOTO PERTANIAN SEMARANG : Budi Daya Jamur Didukung Baglog Bergas

Omzet yang dihasilkan dari 7.000 baglog yakni minimal Rp960.000 per hari. Jika cuaca mendukung dan stabil maka sebulan bisa mengantongi Rp28,8 juta.

“Peluang bisnis jamur ini sangat ramah lingkungan. Di sini [Desa Candi Rejo] penggunaan limbah semua limbah kayu dan limbah padi berupa katul tetapi kami masih tergantung juga pada plastik yang kurang ramah lingkungan untuk baglog,” ujar Dayat.

Kendala lain yang dia rasakan saat pandemi ini yakni tersendatnya penjualan karena Covid-19. Masyarakat dinilai lebih mementingkan membeli bahan makanan pokok ketimbang beli jamur.

Disusul bahan baku plastik yang naik terus dengan harga Rp35.000 per kg. Padahal dulu sekitar Rp27.000 per kg.

Hal itu menyebabkan biaya operasional budi daya jamur tiram ikut naik. Disusul kendala internal petani sendiri yang kurang disiplin soal manajemen keuangan agar bisnis tetap berjalan.

Baca juga: FOTO PANEN JAMUR TIRAM : Curah Hujan Meningkat, Produksi Jamur Tiram Naik 25%

Petani jamur lainnya, Tirto, mengakui mengalami kendala pada manajemen keuangan. Ia meraskan terkadang uang habis karena diambil sedikit-demi sedikit.

“Kendalanya iya itu misal kita sedang butuh terkadang ambil uang dari jamur ini, misal anak mau motor nanti kita ambil dari uang bisnis jamur. Nah seperti ini yang menghambat perkembangan bisnis jamur,” kata Tirto .



Berita Terkait
Indeks Berita
Berita Terpopular
Indeks Berita
Berita Lainnya
Indeks Berita
      Promo & Events
      Berita Terkini
      Indeks Berita
      Part of Solopos.com
      Punya akun? Silahkan login
      Daftar sekarang...
      Support - FaQ
      Privacy Policy
      Tentang Kami
      Kontak Kami
      Night Mode