top ear
Sebuah botol kecil berlabel “vaksin” di dekat jarum suntik medis di depan tulisan Coronavirus Covid-19. (Antara)
  • SOLOPOS.COM
    Sebuah botol kecil berlabel “vaksin” di dekat jarum suntik medis di depan tulisan Coronavirus Covid-19. (Antara)

Bio Farma: 7,6% Orang Tolak Vaksinasi Covid-19

Survei tentang persepsi masyarakat tentang vaksin Covid-19 oleh Kemenkes, WHO dan Unicef, mengungkap 7,6 orang mengaku tak mau divaksinasi.
Diterbitkan Senin, 26/10/2020 - 23:30 WIB
oleh Solopos.com/Mutiara Nabila
2 menit baca

Solopos.com, JAKARTA — Badan usaha milik negara (BUMN) produsen vaksin dan antisera, Bio Farma, mengungkap fakta adanya 7,6% orang yang tolak vaksinasi Covid-19. Fakta itu didasarkan pada survei menyongsong masa vaksinasi virus corona.

Project Senior Integration Manager Research and Development PT Bio Farma Neni Nuraini menyebutkan dari survei tentang persepsi masyarakat tentang vaksin Covid-19 yang diselenggarakan Kemenkes, WHO dan Unicef, 64,8% atau sebagian besar keluarga tak tolak vaksinasi tersebut.

“Sementara itu ada 27,6% yang mengatakan belum tahu. Sedangkan 7,6% tidak mau divaksin,” ungkap Neni pada Bincang Refleksi Satu Tahun Pemerintahan Jokowi-Amin, Senin (26/10/2020).

Boy Group Pentagon Raih Kemenangan Setelah 4 Tahun Debut

Neni mengungkapkan masih ada variasi yang terjadi di masyarakat yang tidak mau divaksin. Beberapa di antara orang tolak vaksinasi Covid-19 itu karena mereka tidak yakin dengan keamanan vaksin, tidak yakin dengan efektivitasnya, takut terhadap efek samping, sampai alasan kepercayaan agama dan alasan lainnya.

“Hal ini maka perlu kita dari semua unsur masyarakat untuk ikut terlibat dalam komunikasi advokasi terhadap masyarakat. Karena dalam waktu setidaknya tiga bulan yang akan datang vaksinasi akan segera dilaksanakan,” ujarnya.

Mestinya 6-15 Tahun

Neni menjelaskan dalam pengembangan vaksin terdapat beberapa cara, seperti mengembangkan virus yang dilemahkan, dimatikan, atau mengembangkan protein virus pada sel lain melalui rekayasa genetik.

Pada umumnya, pengembangan vaksin bisa berlangsung 6-15 tahun, lantaran perlu melewati berbagai tahap penelitian, uji praklinis, uji klinis tahap 1, 2, dan 3, sampai bisa didistribusikan dan dipasarkan kepada masyarakat. Kesadaran tinggi publik terkait risiko itulah yang picu sikap tolak vaksinasi Covid-19.

Anime Kimi No Nawa Diadaptasi Jadi Film Live Action Hollywood

“Pengembangan vaksin memang tidak mudah, ini proses yang kompleks agar aman, imunogenik, memberikan efikasi, dan harus diproduksi secara konsisten. Dokumen yang harus disampaikan ke BPOM juga banyak sekali sampai bisa diregistrasi di Indonesia. Ini yang harus kita lengkapi,” jelasnya.

Namun, dalam kondisi pandemi seperti sekarang ini, diperlukan kecepatan agar bisa menyelamatkan umat sehinga perlu mempersingkat waktu. Oleh karena itu, dilakukan kerja sama dengan berbagai pihak termasuk pengembang vaksin di luar negeri.

“Upaya ini tentu harus didukung dengan teknologi platform yang cepat, ada relaksasi regulasi dari emergency use of authority, kemudian dari kendala biaya juga perlu dibantu oleh konsorsium. Selanjutnya dari skalabilitas dan akses, bagaimana dapat memproduksi dalam jumlah besar dalam waktu singkat, karena produsennya sedikit,” ungkapnya.

KLIK dan LIKE untuk lebih banyak berita Solopos

 

 


Editor : Profile Rahmat Wibisono
LIKE di sini untuk lebih banyak informasi terbaru di Solopos.com


berita terkait

berita terpopuler

Iklan Baris

Properti Solo & Jogja

berita terkini