[ X ] CLOSE

Bilang Dingin di Gunung Sumbing, Tenda Fiersa Bersari Dihempas Angin

Fiersa mendokumentasikan kisah pendakiannya di Gunung Sumbing yang dia lakukan pada 2019 lalu.
Bilang Dingin di Gunung Sumbing, Tenda Fiersa Bersari Dihempas Angin
SOLOPOS.COM - Fiersa Bersari di salah satu puncak gunung yang dia daki (Instagram/@fiersabersari)

Solopos.com, WONOSOBO — Selain dikenal sebagai musisi dengan tembang-tembangnya yang digemari oleh para kaum milenial saat ini, Fiersa Bersari ternyata juga memiliki hobi mendaki gunung. Bahkan, pelantun lagu Waktu yang Salah ini sudah menaklukan tiga gunung di Jawa Tengah, yaitu Gunung Slamet, Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing.

Berdasarkan pantauan Solopos.com di kanal Youtube Fiersa Bersari berjudul Mengundang Bahaya part 1-3, Kamis (25/11/2021), Fiersa mendokumentasikan kisah pendakiannya di Gunung Sumbing yang dia lakukan pada 2019 lalu. Fiersa yang mendaki bersama 10 temannya ini berkumpul di basecamp pendakian Gunung Sumbing yang ada di Jalur Bowongso yang ada di Kabupaten Wonsosobo, Jawa Tengah.

Setibanya di basecamp, Fiersa dan 10 rekannya mendapatkan briefing terkait pantangan-pantangan yang harus ditaati saat mendaki Gunung Sumbing oleh ranger atau penjaga gunung dan hutan setempat. Pantangannya sangat umum bagi yang sudah terbiasa mendaki, seperti menjaga perilaku, perkataan dan perasaan, tidak boleh menyampah, tidak boleh kencing sembarangan, hingga tidak mandi di mata air.

Fiersa Bersari saat berada di puncak Gunung Agung
Fiersa Bersari saat berada di puncak Gunung Agung (Instagram/@fiersabersari)

Baca Juga: Ini Tempat Wisata di Semarang yang Menarik Dikunjungi, Ada Pantai Hlo!

Dari sekian pantangan yang ada, ada satu pantangan aneh, yaitu tidak boleh mengucapkan kata ‘dingin’ saat mendaki. Hal itu dirasa sulit dilakukan mengingat gunung pada umumnya memiliki suhu yang rendah sehingga kata ‘dingin’ ini secara sengaja dan tidak sengaja selalu terucap di kalangan pendaki. Namun bagaimanapun, pantangan ini harus ditaati oleh Fiersa dan kawan-kawan dan semaksimal mungkin benar-benar menjaga perkataan mereka.

Sampai di pos kedua, kondisi sudah sangat gelap dan fisik Fiersa dan kawan-kawannya cukup lelah. Untungnya, di pos dua tersebut ada sekelompok pendaki lain yang sedang berkemah dan menawarkan untuk beristirahat. Sebelumnya, rombongan Fiersa dan kawan-kawan ini sudah bertekad untuk berkemah di pos gajahan namun karena kondisi sudah tidak memungkinkan, akhirnya mereka memutuskan untuk berkemah di pos dua bersama rombongan lain.

Saat berkemah, salah satu rekan dari Fiersa tidak sengaja menguncapkan kata ‘dingin’ berkali-kali hingga akhirnya dia tersadar telah melanggar pantangan. Saat itu tidak ada kejadian aneh yang dialami namun Fiersa mengantisipasi kejadian aneh yang akan terjadi di perjalanannya bersama rekan-rekan ke depan.

Baca Juga: Gandatapa, Peninggalan Majapahit di Lereng Gunung Slamet

Pagi menjelang, Fiersa dan kawan-kawan melanjutkan pendakian hingga puncak sejati Gunung Sumbing. Di puncak tersebut medannya sangat rawan bahaya sehingga untuk mendaki harus menggunakan tali panjat agar tidak kehilangan keseimbangan. Sampai di puncak sejati, Fiersa dan rekan-rekannya menikmati panorama  keindahan puncak Sumbing di mana terlihat pemandangan Gunung Sindoro yang sebelumnya pernah dia daki.

Singkat cerita, mereka turun dan kondisi fisik benar-benar lemah sampai ada yang tidur saat istirahat. Hingga akhirnya mereka sampai pos kedua dan memutuskan untuk berkemah satu malam lagi. Pada malam mereka berkemah itulah, keanehan terjadi di mana tenda yang mereka dirikan dihembus angin kencang. Saat itu, salah satu rekan Fiersa yang seorang komikus, Wiranegara, memutuskan untuk keluar melihat kondisi luar dan anehnya, setelah melangkah beberapa meter dari kemah, tidak ada hembusan angin sama sekali.

Hembusan angin itu hanya menyerang tenda kemah yang didirikan Fiersa bersama rekan-rekannya. Fiersa menduga hembusan angin kencang ini adalah imbas dari keteledoran mereka yang sebelumnya mengucapkan kata ‘dingin’ yang merupakan pantangan dalam mendaki.

Baca Juga: Waspada Lur! Hujan, Petir, & Angin Kencang Terpa Jateng selama 3 Hari

Dari kisah pendakiannya ini, pria kelahiran Bandung, 37 tahun silam itu berpesan bahwa mendaki gunung itu seperti bertamu di rumah orang lain. Seperti layaknya rumah, selalu ada peraturan yang mau tidak mau harus ditaati meskipun hal itu bertentangan dengan keyakinan pribadi.

“Kita bisa saja tidak meyakini peraturan tersebut tapi tetap saja kita harus menghormati peraturan rumah (gunung) yang kita datangi.” tandas Fiersa



Berita Terkait
    Promo & Events
    Ekspedisi Ekonomi Digital 2021
    Berita Terkini
    Indeks Berita

    Apa yang ingin anda baca?

    :
    :
    Night Mode
    Notifications
    Support
    Privacy
    PasswordUpdated 15 days ago