[x] close
top ear
Pesepeda di Wonogiri melaju saat melintas di traffic light di Wonogiri, Minggu (26/7/2020). (Solopos/Rudi Hartono)
  • SOLOPOS.COM
    Pesepeda di Wonogiri melaju saat melintas di traffic light di Wonogiri, Minggu (26/7/2020). (Solopos/Rudi Hartono)

Bikin Geleng-Geleng Kepala, Ini Perilaku Pesepeda di Wonogiri yang Bikin Waswas

Kepatuhan pesepeda saat melintas di jalan raya menjadi perhatian di Wonogiri.
Diterbitkan Sabtu, 1/08/2020 - 15:09 WIB
oleh Solopos.com/Rudi Hartono
3 menit baca

Solopos.com, WONOGIRI -- Kepatuhan pesepeda saat melintas di jalan raya menjadi perhatian di Wonogiri. Di Kabupaten Gaplek itu beberapa kali dijumpai perilaku pesepeda yang membikin waswas.

Pantauan Solopos.com di sejumlah traffic light di Wonogiri, Mingggu (26/7/2020), menunjukkan mayoritas pesepeda melanggar aturan. Mereka tetap melaju meski lampu menyala merah.

Pantauan saat dua kali traffic light di pertigaan depan Kantor Kecamatan Selogiri, Wonogiri misalnya, seluruh rombongan pesepeda yang melintas dari arah Sukoharjo tidak ada yang berhenti. Kondisi itu membuat salah satu pengendara sepeda motor geleng-geleng kepala.

Detail Baju Seragam Gibran dan Teguh, Ada Gambar Pasar Klewer Solo dan Banteng Hitam

Pantauan di traffic light perempatan Krisak dekat Terminal Giri Adipura, Krisak, Singodutan, Selogiri, Wonogiri menunjukkan fakta yang sama.

Bahkan, saat di lajur kiri jalur arah Sukoharjo ada truk berhenti karena lampu menyala merah, ada pesepeda perempuan yang justru menuntun sepedanya agar tetap bisa melintas di sebelah kiri truk.

Setelah bisa melewati truk pesepeda itu menunggangi sepedanya lagi dan melanjutkan perjalanan. Ironisnya, tindakan itu diikuti seorang anak yang bersepeda bersamanya.

Tegas, Presiden AS Donald Trump Segera Larang TikTok?

Beralasan Tak Bakal Kena Tilang

Saat mengamati di traffic light perempatan Wonokarto atau dekat RSUD dr. Soediran Mangun Sumarso Wonogiri, Solopos.com mendapat kondisi berbeda.

Ada satu rombongan pesepeda berseragam komunitas tertentu dari arah Selogiri, Wonogiri, yang berhenti saat lampu menyala merah. Selebihnya, para pesepeda lain menerobos lampu merah.

Bahkan, ada pesepeda yang melaju di lajur lawan agar bisa menghindari sepeda motor dan mobil yang berhenti ketika lampu merah menyala. Kondisi yang sama terjadi di traffic light Kerdukepik.

Operasi Patuh Candi, Sepekan Polisi Cuma Tilang 113 Pelanggar, Dulu Ribuan

Dalam satu rombongan, mayoritas pesepeda menerobos lampu merah meski pengguna jalan lainnya berhenti. Hanya dua pesepeda dari rombongan tersebut yang berhenti.

Setelah mewawancarai beberapa pesepeda setidaknya ada tiga alasan yang membuat mereka tenang-tenang saja meski melanggar lampu merah.

Ada pesepeda yang menganggap dirinya tak terikat aturan lalu lintas. Sebab, bagi dia aturan hanya mengikat pengguna sepeda motor, mobil, atau kendaraan bermotor lainnya. Atas pemahaman itu pesepeda beranggapan jika melanggar pun tidak akan dikenai tilang seperti yang diberikan kepada pengendara kendaraan bermotor.

Cerita di Balik Ratusan Korban Longsor di Tirtomoyo Wonogiri Tolak Relokasi

Berat di Kayuhan Pertama

Salah seorang pesepeda yang tinggal di Giripurwo, Kecamatan Wonogiri, Lukman, menyampaikan alasan lain. Dia melanggar lampu merah karena tak ingin berhenti. Jika berhenti dia merasa akan berat saat angkatan pertama melaju.

“Bersepeda itu enaknya konstan melajunya, jadi mengayuhnya enggak berat. Kalau berhenti di tengah perjalanan, angkatan pertama pasti berat saat mengayuh. Jadi lebih cepat capai,” kata pemuda itu.

Dia mengaku menerobos lampu merah tak sembarangan. Dia mengurangi kecepatan saat di persimpangan untuk memastikan dirinya aman ketika kendaraan bermotor lain melintas.

Batu Misterius Watu Sigong Klaten Mau Dijadikan Destinasi Wisata, Ini Gambarannya

Pesepada lainnya yang berhenti saat traffic light di persimpangan Kerdukepik, Wonogiri, menyala merah, Sutrisno, mengaku merasa ngeri saat melintas di persimpangan sehingga dia memilih selalu berhenti saat lampu merah.

“Saya sering bilang ke teman-teman di rombongan gowes kalau lampu merah lebih baik berhenti, biar aman. Tapi ini kan tergantung kesadaran masing-masing,” ucap warga Wonoboyo, Kecamatan Wonogiri itu.


Editor : Profile Tika Sekar Arum
LIKE di sini untuk lebih banyak informasi terbaru di Solopos.com

berita terkait

berita terpopuler

Iklan Baris

Properti Solo & Jogja

berita terkini