top ear
Rini Yustiningsih (Istimewa/Dokumen pribadi)
  • SOLOPOS.COM
    Rini Yustiningsih (Istimewa/Dokumen pribadi)

Bertemu Tanpa Bertatap Muka

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 21 Oktober 2020. Esai ini karya Rini Yustiningsih, jurnalis Solopos.
Diterbitkan Selasa, 27/10/2020 - 20:15 WIB
oleh Solopos.com/Rini Yustiningsih
4 menit baca

Solopos.com, SOLO -- Beberapa kali memandu acara webinar yang diselenggarakan Solopos, saya angkat topi dengan Djoko Kusnanto. Pria pensiunan pegawai negeri sipil (PNS) yang sehari-hari tinggal di Bekasi ini rajin bener ikut segala kegiatan webinar yang diadakan oleh Solopos, terutama bertema usaha mikro kecil dan menengah (UMKM).

Usia Djoko sudah tak muda. Pria berusia mendekati 60 tahun ini mempunyai usaha baru yakni bisnis kuliner. Lima kali webinar Solopos bekerja sama dengan Tiki—jasa ekspedisi, Djoko rajin mengikuti. Tak pernah absen maupun diwakili. Atas inisiatif sendiri, dia sukarela mendaftar. Usia bukan halangan bagi dia rajin mencatat penjelasan pemateri. Bahkan sangat sering dia bertanya kepada narasumber tentang usaha kuliner yang dia geluti.

Partisipasi aktifnya ikut webinar sangat masuk akal. Menurutnya, mumpung gratis, bisa belajar banyak soal tips dan trik UMKM bertahan di era pandemi. Apalagi banyak hal-hal baru yang bisa dipelajari.

Dia jadi tahu bagaimana mengelola media sosial untuk mendongkrak dagangan UMKM. Dia banyak belajar pengelolaan keuangan seperti pembukuan, mengetahui pasar UMKM dan informasi beragam ekspo yang digelar. Tak lupa, dia juga jadi tahu cara mengemas produk yang ciamik agar pembeli jatuh cinta. “Ini benar-benar ilmu baru. Saya merasa mendapat banyak hal baru. Sangat bermanfaat,” begitu katanya.

Djoko tak sendiri. Ada beberapa partisipan webinar Solopos yang sangat rajin mengikuti webinar demi webinar dengan beragam tema yang berbeda. Masa pandemi bagi mereka justru banyak dimanfaatkan untuk berburu ilmu. Para partisipan pemburu webinar ini berburu dari satu media ke media lain penyelenggara webinar yang tersebar di berbagai penjuru Nusantara.  Mereka saling bertemu tanpa saling betatap muka berburu hal-hal baru. Mereka dipertemukan lewat layar virtual.

Webinar di Indonesia booming saat pandemi. Jika mau dan memiliki kuota unlimited, sebenarnya ada puluhan webinar yang bisa diikuti setiap harinya. Di negara-negara maju, webinar sudah jamak digelar bertahun-tahun lalu. Bagi media massa, webinar juga menjadi salah satu model bisnis baru. Sejak Maret hingga Oktober ini, dalam sepekan saja Solopos bisa menyelenggarakan dua hingga tiga kali webinar.

Webinar merupakan kependekan dari web-seminar atau seminar yang dilangsungkan via website atau aplikasi yang menggunakan internet. Dalam webinar ini dihadirkan lebih dari satu pembicara atau narasumber. Mereka akan saling memaparkan, berdiskusi tentang tema-tema yang dibahas. Bisa tema politik, ekonomi, sosial budaya dan lainnya. Para pembicara ini juga akan membagikan materi paparannya lewat internet.

Webinar bisa diikuti gratis. Siapa saja sepanjang mempunyai kuota internet bisa mengikutinya. Bisa pula berbayar. Webinar berbayar biasanya bersifat eksklusif, terbatas, dan partisipan mendapat beragam fasilitas seperti sertifikat, seminar kit yang dikirim via jasa ekspedisi dan lainnya.

Maraknya webinar pada akhirnya mendongkrak pengguna aplikasi video conference. Sebenarnya ada beberapa.  Seperti Skype besutan Microsoft yang sudah dikenal lama sebelum pandemi, tapi kalah pamor dengan Zoom yang bermarkas di California. Ada pula Google Meet yang sejauh ini masih gratis diakses dan bakal dikenai tarif untuk penggunaan tertentu. Ada pula Cisco Webex Meeting yang belum se-ngehits Zoom.

Ajakan jaga jarak rupanya ampuh membuat masyarakat mengkonsumsi platform rapat online itu. Pada April lalu, Statqo Analytics menyebut peningkatan nyaris 200%. Tertinggi Zoom yang mencatatkan 257.853 pengguna, sebelumnya pada Maret ada 91.030 pengguna. Raihan pundi-pundinya pun melonjak tajam 170% menjadi US$328,2 juta. Tempat kedua yakni Skype dengan 71.155 pengguna yang sebelumnya 65.875 pengguna.

Di satu sisi ini menjadi kabar bagus. Makin banyak penduduk Indonesia yang makin melek teknologi. Makin banyak yang menjadikan teknologi sebagai alat untuk mempermudah pekerjaannya, mengembangkan keterampilannya dan meningkatkan kualitas hidupnya.

Sisi lainnya menjadi catatan dan pekerjaan rumah. Bahwa masih ada sejumlah masyarakat yang belum mengoptimalkan teknologi. Setidaknya ini tergambarkan dari data Dinas Koperasi Jawa Tengah.  Dari sekitar 800 UMKM yang sudah mempunyai alamat email, hanya sekitar 265 UMKM yang emailnya aktif, selebihnya email tidur. Lantaran pemilik UMKM jarang bahkan tak pernah mengecek email mereka. Jika begini kondisinya bagaimana UMKM bisa naik kelas dengan memanfaatkan teknologi?

Masa pandemi ini setidaknya menjadi perenungan. Mampukah Indonesia ambil bagian dalam revolusi industri 4.0? Sebagaimana kita tahu dalam tiga tahapan/gelombang revolusi industri (revolusi industri manufaktur pada 1712, revolusi industri teknologi pada 1870 dan revolusi industri informasi pada 1970), Indonesia tertinggal.

Harapannya pasti, setelah pandemi berakhir masyarakat Indonesia telah menyiapkan diri untuk menyongsong revolusi industri 4.0 atau era otomatisasi. Semua serba otomatis dilakukan mesin.

Pandemi masih berjalan, tak perlu lagi dikeluhkan. Justru dituntut makin kreatif dan produktif. Bukankah orang yang berbahagia yakni mereka yang menerima kenyataan bukan mengeluhkan keadaan.

 


Editor : Profile Ichwan Prasetyo
LIKE di sini untuk lebih banyak informasi terbaru di Solopos.com


berita terkait

berita terpopuler

Iklan Baris

Properti Solo & Jogja

berita terkini