Berbeda dengan Solo, Sragen Tak Akan Tutup Pasar Tradisional Saat PPKM Darurat

Bila Pemkot Solo memilih menutup belasan pasar tradisional, Pemkab Sragen tidak akan menutup semua pasar tradisional saat pelaksanaan PPKM darurat.
Berbeda dengan Solo, Sragen Tak Akan Tutup Pasar Tradisional Saat PPKM Darurat
SOLOPOS.COM - Aktivitas jual beli terlihat di Pasar Bunder Sragen, Minggu (4/7/2021). (Solopos.com/Moh. Khodiq Duhri)

Solopos.com, SRAGEN — Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sragen mengambil sikap berbeda dengan Pemerintah Kota (Pemkot) Solo terkait pelaksanaan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) darurat. Bila Pemkot Solo memilih menutup belasan pasar tradisional, Pemkab Sragen tidak akan menutup semua pasar tradisional di Bumi Sukowati.

Pantauan Solopos.com, Minggu (4/7/2021), aktivitas jual beli berjalan normal di Pasar Bunder yang notabene menjadi pasar induk di Kabupaten Sragen. Nyaris tidak ada perbedaan sejak sebelum dan setelah PPKM darurat diberlakukan.

Kondisi Pasar Bunder tetap ramai seperti biasa. Sebagian pedagang beraktivitas dengan mengenakan masker. Sebagian memakai masker namun hanya menutup mulut, dagu maupun leher. Sebagian kecil yang tidak memakai masker. Justru para pengunjung pasar yang terlihat lebih tertib karena memakai masker.

Baca Juga: Inilah Teaser Model Baru Lamborghini, Rilis 7 Juli 2021

“Kalau pasar ditutup, kami bakal kelimpungan. Kami mau patuh pada protokol kesehatan asalkan pasar tetap buka. Kalau ada pedagang yang tidak memakai masker, biasanya kami saling mengingatkan,” papar Yati, 55, pedagang bumbon kala berbincang dengan Solopos.com.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag), Tedi Rosanto, menegaskan semua pasar tradisional di Sragen tidak akan ditutup selama diberlakukannya PPKM darurat. Dalam melaksanakan PPKM darurat, kata Tedi, Pemkab Sragen berpedoman pada peraturan pemerintah.

“Dalam PPKM darurat, pemerintah pusat tidak mengatur penutupan pasar tradisional. Kalau ditutup, masyarakat belanja di mana untuk bisa makan sehari-hari,” ujar Tedi kepada Solopos.com, Minggu (4/7/2021).

Pemkab Sragen pernah menutup Pasar Gemolong karena terdapat sejumlah pedagang yang positif corona selama lima hari pada tahun lalu. Beberapa pekan setelah dibuka kembali, kondisi pasar tetap sepi sehingga memengaruhi pendapatan mereka.

Baca Juga: Kabupaten Madiun Darurat Covid-19, Ini 13 Aturan yang Harus Dipatuhi!

Sejak terjadi wabah corona, Pemkab Sragen belum pernah menutup Pasar Bunder. Pasar ini pernah ditutup sehari pada H+1 Lebaran lalu. Namun, penutupan Pasar Bunder itu dilakukan karena pasar tengah disterilkan dengan disinfektan.

“Belum ada klaster pasar di Sragen. Semua pasar secara berkala disemprot disinfektan. Ketika pasar ditutup, yang jadi pertanyaan, siapa yang akan memenuhi kebutuhan makan pedagang. Pemerintah daerah belum mampu memberi makan satu hari untuk pedagang. Keuntungan mereka berdagang itu biasa dipakai untuk makan hari itu juga,” ujar Tedi.

Berita Terkait
    Promo & Events
    Berita Terkini
    Indeks Berita

    Apa yang ingin anda baca?

    :
    :
    Night Mode
    Notifications
    Support
    Privacy
    PasswordUpdated 15 days ago