Berat Tinggalkan Kampung, 11 Keluarga Terdampak Tol Solo Jogja di Kapungan Klaten Pilih Bertahan
Solopos.com|soloraya

Berat Tinggalkan Kampung, 11 Keluarga Terdampak Tol Solo Jogja di Kapungan Klaten Pilih Bertahan

Sebanyak 11 keluarga di Desa Kapungan, Polanharjo, Klaten, yang terdampak proyek tol Solo Jogja berat meninggalkan kampung halaman.

Solopos.com, KLATEN – Warga terdampak proyek tol Solo Jogja di wilayah Desa Kapungan, Kecamatan Polanharjo, Klaten, mulai berburu tanah serta mencicil pembangunan rumah pengganti meski sebagian dari mereka belum mendapatkan uang ganti kerugian. Tetapi, sebanyak 11 keluarga memilih pindah di satu lokasi lahan yang sama yang masih berada di desa setempat.

Permukiman terdampak proyek tol di Kapungan berada di Dukuh Mendungan dengan total 22 rumah. Nantinya tol bakal membelah perkampungan di dukuh tersebut.

Salah satu warga terdampak, Kukuh, 45, mengatakan dia memilih pindah di lahan milik keluarganya seluas 2.900 meter persegi di Dukuh Kapungan. Saat ini lahan yang disiapkan masih dalam proses pengurukan yang sudah berlangsung selama sepekan terakhir.

Baca juga: Terima Uang Ganti Rugi Tol Solo Jogja Rp316,7 Miliar, Warga 6 Desa di Klaten Ini Jadi OKB?

Tak hanya keluarga Kukuh, lahan tersebut digunakan untuk membangun rumah baru bagi tetangganya. Rencananya, ada 11 rumah yang bakal berdiri di lahan tersebut.

“Ini sawah saya. Nanti tetap pindah ke sini. Warga yang terdampak luasannya tidak seberapa, saya ajak ke sini [menempati lahan yang bakal ditinggali keluarga Kukuh],” tutur Kukuh saat ditemui wartawan di Kapungan, Selasa (16/3/2021).

Untuk menempati lahan tersebut, tetangga Kukuh membeli tanah seharga Rp350.000-Rp400.000 per meter persegi. Sementara, proses pembangunan bakal dilakukan oleh masing-masing warga.

Baca juga: Top 5 Kuliner Enak & Murah di Boyolali, Cuma Rp10.000-an

Berat Tinggalkan Kampung

Kukuh menjelaskan pilihan tetap tinggal di wilayah Kapungan lantaran warga sudah tinggal di desa tersebut secara turun temurun, sehingga berat jika harus meninggalkan kampung. Selain itu, secara sosial warga tak perlu terlalu lama beradaptasi dengan lingkungan sekitar masih tinggal di wilayah Kapungan.

Selain dua faktor itu, nilai ganti kerugian yang diterima warga tak sesuai harapan. Kukuh menjelaskan rata-rata nilai ganti rugi lahan permukiman warga Rp1 juta per meter persegi. Sementara, harga tanah sudah kadung tinggi.

“Kalau harapan warga itu bisa Rp2 juta sampai Rp3 juta per meter persegi,” kata dia.

Baca juga: Tak Cuma Umbul, Klaten Punya Puluhan Objek Wisata Candi

Harga rata-rata tanah kering di wilayah Kapungan sudah mencapai Rp1 juta. Sementara itu, jika membeli tanah di luar desa harganya jauh lebih tinggi atau di atas Rp1 juta. Dengan harga itu, uang ganti kerugian yang diterima warga tak cukup jika harus digunakan untuk membeli tanah dan membangun rumah. Belum lagi ketika uang ganti rugi harus dibagi lagi dengan ahli waris pemilik rumah lantaran ada satu rumah yang ditempati lebih dari satu keluarga.

“Harga tanah kering di sini itu sama dengan harga ganti rugi Rp1 juta per meter persegi. Kalau hanya terdampak rumah saja, tidak mampu untuk membeli,” kata Kukuh.

Kukuh mengaku memilih tidak menaikkan harga tanah yang akan ditempati para tetangganya. Pasalnya, warga dilanda kebingungan mencari tempat baru untuk dibangun rumah.

“Tidak apa-apa saya hargai Rp350.000-Rp400.000 yang penting bisa menolong tetangga. Nanti untuk biaya pengurukan dan perbaikan jalan [yang rusak dilewati truk pengangkut uruk] yang menanggung saya,” kata dia.

Baca juga: Batal Beli Lovebirds Rp600.000, Pemuda Jumantono Babak Belur Dihajar 6 Orang

Uang Ganti Rugi

Soal nilai ganti kerugian yang dia terima, Kukuh menuturkan luas lahan tempat tinggal keluarganya sekitar 900 meter persegi dengan nominal ganti kerugian sekitar Rp2 miliar. “Jadi calon miliarder malah pusing terutama yang terdampak rumah,” jelas dia.

Hanya saja, dia mengaku hingga kini belum ada pencairan uang ganti kerugian. Untuk menyiapkan lahan guna membangun rumah baru, Kukuh mengaku mencari pinjaman.

“Saya hanya baru terima amplop. Baru tahu nilainya tok. Ya harusnya didahulukan untuk rumah yang terdampak agar bisa mencari tempat pengganti,” kata dia.

Baca juga: Iiih Gelay... Ratusan Bangkai Ayam di Truk Boks Gatak Sukoharjo Dikerubuti Belatung

Kepala Desa Kapungan, Rakhim Fauzi, mengatakan ada 22 rumah terdampak proyek tol di wilayah Dukuh Mendungan, Desa Kapungan. Dia mengatakan warga sudah mulai mencari lahan pengganti untuk membangun rumah baru di wilayah Kapungan maupun di luar desa.

“Rata-rata inginnya tetap tinggal di sini. Karena juga sudah tinggal di sini secara turun temurun. Sehingga agak repot ketika harus pindah ke wilayah baru. Tetapi memang harga tanah di sini sudah tinggi. Sudah ada dua warga yang transaksi tanah untuk rumah itu rata-rata Rp1 juta per meter persegi,” kata dia.

Soal ganti kerugian, Rakhim mengaku belum semua warga yang rumahnya terdampak proyek tol menerima ganti kerugian. Warga selama ini kerap mempertanyakan kapan uang ganti kerugian dicairkan agar segera bisa digunakan untuk mencari lahan serta rumah pengganti.



Berita Terkait
Indeks Berita
Promo & Events
Terpopuler
Berita Terkini
Indeks
Berita Video
View All

Apa yang ingin anda baca?

:
:
Night Mode
Notifications
Support
Privacy
PasswordUpdated 15 days ago