top ear
Bengawan Solo dalam Foto
  • SOLOPOS.COM
    Andry Prasetyo/Istimewa

Bengawan Solo dalam Foto

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (27/9/2019). Esai ini karya Andry Prasetyo, pengajar di Program Studi Fotografi Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Alamat e-mail penulis adalah andrysolo@yahoo.com.
Diterbitkan Senin, 30/09/2019 - 04:00 WIB
oleh Solopos.com/Andry Prasetyo
4 mnt baca -

Solopos.com, SOLO -- ”…Pameran foto tentang bengawan ini telah mengingatkan pertemuan saya pertama kali dengan Bu Khofifah, kurang lebih lima tahun yang lalu. Beliau saat itu sedang mencalonkan diri sebagai Gubernur Jawa Timur. Bu Khofifah mengajak saya bersama-sama menangani persoalan di Sungai Bengawan Solo,” kata Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, dalam sambutan pembukaan pameran Air Mata Air Bengawan di Balai Soedjatmoko Bentara Budaya Solo, Selasa (10/9/2019).

Pameran seni fotografi Air Mata Air Bengawan pada 10-19 September 2019 di Balai Soedjatmoko Bentara Budaya Solo, telah berakhir. Jejak digital yang memenuhi ruang pameran mampu meninggalkan pesan mendalam bagi masyarakat tentang riwayat Bengawan Solo.

Fotografi telah membantu memori kita (mengingatkan pertemuan antara Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dengan koleganya Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa lima tahun lalu) untuk mengingat dan membantu kita mengurai kebesaran sungai terpanjang di Jawa itu.

Melalui foto-foto yang dihasilkan dengan beragam sudut pandang (baik dari sisi jurnalistik, human interest, sosial, budaya), dengan beragam gagasan yang dibawa oleh masing-masing fotografer, mampu menguatkan ingatan subjek yang memandang foto. Keterangan yang melekat pada foto menjadi ciri subjek yang memotret dan sejarah perkembangan seni tersebut.

Bengawan Solo yang dipilih sebagai subjek utama dalam pameran ini, dan keberadaan Balai Soedjatmoko Bentara Budaya Solo sebagai galeri tempat memajang karya-karya foto yang mengagungkan presisi dan bingkai ruang simetris, telah memacu adrenalin fotografer peserta pameran untuk melepaskan ego, menghentikan pandangan, dan membingkai ingatan untuk dilihat dan diingat oleh siapa saja dan kapan saja.

Kali ini seni fotografi menjadikan ruang sebagai hamparan cerita di balik foto dan menyatu sebagai bagian karya seni tersebut. Foto memiliki batas dalam merepresentasikan masa lalu.

Untuk itulah, seperti yang disampaikan filsuf Walter Benjamin, penemu teori aura dalam fotografi, foto membutuhkan keterangan untuk menghasilkan makna. Bingkai foto tidak lebih sebagai penanda batas, namun sekaligus merupakan satu kesatuan dengan karya tersebut.

Pengingat Masyarakat

Hal ini dapat dilihat pada foto karya Irwandi dengan judul Air Mengalir Sampai Ja...(t)uh... Foto yang dihasilkan dengan teknik cyanotype (salah satu teknik cetak old print yang memiliki karakter warna kebiruan) menggambarkan air Bengawan Solo yang terjatuh dan tumpah, keluar dari tempatnya. Foto ini menjadi pengingat masyarakat untuk menjaga lingkungan agar air Bengawan Solo tetap mengalir sampai jauh.

Pada sisi yang lain, upaya melepaskan sekat-sekat pembatas terus dilakukan oleh para pelaku seni dua dimensi ini. Hal itu seperti yang dilakukan Dwi Oblo ketika melawan konvensi kaku dalam pembingkaian foto melalui karya yang berjudul Artefak dari Bengawan.

Melalui penggabungkan beberapa foto tentang sampah dalam satu rangkaian, ia memberikan informasi kepada subjek yang memandang foto tentang sampah yang ditemui saat berjalan menyusuri bantaran Bengawan Solo pada 13 Agustus 2019. Rangkaian foto itu memberikan pemaknaan yang lugas terhadap pencemaran Begawan Solo.

Ketua pelaksana pameran, Risman Marah, mengatakan para fotografer dengan gaya masing-masing sudah memikirkan objek apa, di mana, kapan, bagaimana memotret, dan informasi apa yang akan disampaikan. Hal tersebut dapat terdeteksi melalui 64 foto karya 32 fotografer yang mengisahkan sungai yang membentang sepanjang 548,53 kilometer, dari Jawa Tengah hingga Jawa Timur itu.

Segala kemampuan fotografer dalam memetakan dan mengartikulasikan ruang, waktu, memori, sejarah, dan pengetahuan (tentang Bengawan Solo) tertuang dalam foto-foto yang dipajang. Penataan karya dengan memaksimalkan beberapa ruang dan bidang di sela-sela antar-ruang tidak mengurangi interaksi sesaat antara karya foto, konteks budaya, dan pemirsa.

Foto-foto itu menjadi arsip untuk memberi nilai simbolis dan menjadikannya sebagai objek klasifikasi dan studi sejarah seni fotografi. Karya fotografi menjadi sarana modern untuk berkomunikasi bagi seorang pemotret. Misi yang mereka bawa adalah untuk melihat adanya kemungkinan hubungan antara memori pribadi, sejarah, sosial, idealisme, politik, dan seni secara global.

Pemotret atau fotografer memanfaatkan sifat serial foto untuk mendorong pemirsa mempertanyakan bagaimana "membingkai" momen sehingga mampu memberikan informasi yang dapat membentuk pemahaman pemirsa. Dalam konteks pameran ini adalah pemahaman pemirsa tentang Bengawan Solo yang bisa jadi, terbantu oleh foto, merentang dari masa lalu hingga masa kini.

Sungaiku Halamanku

Melalui sifat foto yang ditampilkan secara serial pemirsa dapat menjadi kritis dalam membaca seni fotografi. Foto dan teks adalah suplemen yang telah membingkai karya-karya yang dipamerkan. Karya foto yang dipamerkan mampu menunjukkan  seni fotografi sebagai penanda sebuah perjalanan seni yang dapat dibaca dan dikritik.

Foto digunakan sebagai cara untuk mengumpulkan informasi. Hal ini berbeda dengan saat kali pertama fotografi diciptakan, yakni sebagai alat dokumentasi atau sebagai alat untuk melanggengkan kolonialisme, seperti yang dialami negeri ini pada pengujung abad ke-18.

Saat ini foto dapat digunakan untuk memenuhi berbagai kebutuhan, misalnya untuk keperluan pendidikan atau memanfaatkan fotografi sebagai seni. Fotografi cukup efektif untuk mengeksplorasi dunia secara visual. Secara ekstrem Roland Barthes menyatakan ketiadaan foto mengindikasikan datangnya kematian.

Foto menghentikan waktu, mempresentasikan kemungkinan sebuah catatan visual yang lengkap. Fotografi memperkenalkan kemungkinan pembuatan arsip yang mencakup gambar foto seluruh dunia yang memiliki status yang sama dengan koleksi ilmiah lainnya.

Foto menjadi bagian dari sebuah proyek yang diilhami oleh sebuah perasaan urgensi dalam menghadapi perubahan yang cepat pada abad ini. Foto dalam konteks pameran foto tentang Bengawan Solo adalah pembangunan ”kesadaran waktu” untuk memulihkan ingatan tentang sungaiku adalah halaman rumahku.

 

 

 

 

 

Editor : Ichwan Prasetyo ,
LIKE di sini untuk lebih banyak informasi terbaru di Solopos.com
Kata Kunci : # #

berita terkini