Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca

BENDA KUNO KERATON KASUNANAN : Duh, Belasan Naskah Kuno di Keraton Tak Ditemukan

SHARE
BENDA KUNO KERATON KASUNANAN : Duh, Belasan Naskah Kuno di Keraton Tak Ditemukan
SOLOPOS.COM - Panduan Informasi dan Inspirasi

Benda kuno Keraton Kasunanan, ada belasan naskah kuno yang tak ditemukan saat dilakukan pendataan.

Solopos.com, SOLO–Petugas Sasana Pustaka Keraton Solo mendata ulang naskah kuno koleksi Sasana Pustaka selama dua hari, Kamis-Jumat (10-11/3/2016).

PromosiNimo Highland, Wisata Hits di Bandung yang Mirip Santorini Yunani

Petugas Sasana Pustaka Keraton Solo, Sargining Tyas Woro Marlangen, 57, mengatakan pendataan ulang koleksi naskah kuno tersebut dibantu tiga mahasiswa program studi (Prodi) Filologi Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo. Menurut dia, pendataan dilakukan untuk memastikan kembali ketersediaan atau keberadaan naskah kuno di lantai II Sasana Pustaka.

“Saya terpacu untuk mendata ulang naskah. Selama tiga tahun bertugas di Sasana Pustaka, saya belum pernah secara detail mencocokan keberadaan naskah di lantai II Sasana Pustaka dengan isi buku katalog,” kata Tyas Woro saat berbincang dengan Solopos.com di Sasana Pustaka, Selasa (15/3/2016).

Tyas Woro mengungkapkan pendataan ulang naskah kuno koleksi Sasana Pustaka baru menyasar isi dua buku katalog. Dia menyebut, dua buku katalog tersebut mencatat koleksi naskah seratan jawa dan terjemahan atau bacaan. Tyas Woro tidak menampik petugas Sasana Pustaka bakal melanjutkan pendataan sekaligus penataan ulang pada lain waktu.

“Saat pendataan, kami menemukan banyak buku sudah amburadul. Kami berhati-hati untuk mencatatat setiap koleksi mulai abjad A sampai Z dengan mengacu buku katalog. Satu abjad itu sampai terdiri atas 50 buku. Sedikitnya kami sudah mendata sekitar 500 naskah seratan jawa dan 600 naskah tentang terjemahan,” ujar Tyas Woro.

Ditanya hasil pendataan ulang koleksi Sasana Pustaka yang mengaju pada dua buku katalog, Tyas Woro mengungkapkan, terdapat 15 buku tidak bisa ditemukan. Dia tidak mengetahui secara pasti keberadaan belasan buku tersebut. Tyas Woro mengklaim, buku sudah tidak ada atau hilang sebelum dia bertugas di Sasana Pustaka pada 2013 lalu.

“Beberapa buku tahun 1830 tidak ditemukan. Total ada lebih dari 10 buku atau belasan buku yang tidak ditemukan saat pendataan. Saya tidak tahu, buku tersebut dipinjam atau hilang karena sesuatu hal. Kami jelas kesulitan menemukan buku-buku itu. Setidaknya mulai sekarang kami akan lebih ketat menjaga koleksi buku dan naskah kuno yang tersimpan di lantai II Sasana Pustaka,” papar Tyas Woro.

Disinggung jadwal kelanjutan pendataan ulang naskah kuno koleksi Sasana Pustaka, Tyas Woro belum bisa memastikan. Hanya, lanjut dia, petugas atau pengelola Sasana Pustaka berkomitmen segera melanjutkan proses pendataan. Tyas Woro mengungkapkan sedikitnya ada 15 buku katalog yang berisi daftar buku koleksi Sasana Pustaka.

“Kami memperketat prosedur peminjaman buku. Kanjeng Surya Wibawa [putra dari Plt. PB XIII Keraton Solo, K.G.P.H. Puger] saja saya minta untuk izin terlebih dahulu kepada Gusti Puger sebelum meminjam buku. Kalau sudah dapat izin, saya baru berani serahkan. Izin tersebut harus disertai tanda tangan dari Gusti Puger. Saya dan sang peminjam juga harus tanda tangan,” terang Tyas Woro.

Sebelumnya, Pelaksana Tugas (Plt) Paku Buwono (PB) XIII Keraton Solo, K.G.P.H. Puger, mengakui naskah kuno koleksi Sasana Pustaka belum dikelola secara optimal. Dia mengatakan Sasana Pustaka membutuhkan tenaga ahli khusus. Bukan hanya yang pandai mengelola perpustakaan, menurut Puger, Sasana Pustaka perlu tenaga ahli yang memahami sejarah, minal bisa membaca aksara pada naskah kuno untuk memandu pengunjung.

“Bukan hanya keraton, perpustakaan-perpustakaan sejenis lainnya di Indonesia, saya rasa juga tidak memiliki tenaga ahli khusus,” kata Puger. Soal ketidaksesuaian antara koleksi naskah di Sasana Pustaka dengan isi buku katalog, menurut Puger, sudah terjadi sejak dulu. Dia tidak menampik kehilangan naskah-naskah tersebut karena ulah dari kalangan dalam Keranton Solo.

“Kehilangan sejak dulu, banyak yang cicir [terpisah-pisah]. Dulu naskah dipinjam kantor sana-sini. Dari dulu naskah banyak yang tidak kembali. Ada naskah dipundut ngerso dalem, tapi bawahannya enggak berani baleke. Biarin saja ini sebuah urusan intern. Ke depan saya data ulang. Mungkin Maret mendatang saya mulai,” jelas Puger.



Berita Terkait
Indeks Berita
Berita Terpopular
Indeks Berita
Berita Lainnya
Indeks Berita
      Promo & Events
      Berita Terkini
      Indeks Berita
      Part of Solopos.com
      Punya akun? Silahkan login
      Daftar sekarang...
      Support - FaQ
      Privacy Policy
      Tentang Kami
      Kontak Kami
      Night Mode