Belasan Dokter di Solo Meninggal Dunia Karena Corona, IDI Kesulitan Cari Pengganti
Solopos.com|soloraya

Belasan Dokter di Solo Meninggal Dunia Karena Corona, IDI Kesulitan Cari Pengganti

Sebanyak 13 dokter di Kota Solo dinyatakan meninggal dunia karena virus Corona sejak pandemi hingga saat ini. IDI Solo kesulitan mencari penggantinya.

Solopos.com, SOLO – Sebanyak 13 dokter di Kota Solo dinyatakan meninggal dunia karena virus Corona sejak pandemi hingga saat ini. Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Solo kesulitan mencari pengganti para dokter yang gugur tersebut.

Ketua IDI Cabang Solo Adji Suwandono mengatakan perincian dokter yang meninggal karena Corona itu adalah sebanyak tujuh orang merupakan dokter umum dan lima lainnya ialah dokter spesialis, antara lain, spesialis radiologi, jiwa, saraf, obgyn, dan anestesi.

Baca Juga: Wisata Kedung Bening Pemalang, Suguhkan Pengalaman Seperti di Martvili Canyon Georgia

“Rata-rata berusia 50 tahun ke atas,” kata Adji kepada wartawan melalui Zoom, Senin (20/7/2021).

Adji menyebut IDI kesulitan mencari pengganti dokter tersebut, utamanya dokter penyakit dalam yang dibutuhkan sebagai panglima penanganan Covid-19 di RS.

“Dokter, terlebih dokter spesialis yang meninggal bukan sekadar statistika, hitung-hitungan. Kami kehilangan tenaga dan ilmu. Mereka enggak bisa langsung digantikan. Kami kehilangan sangat besar. Kompetensi mereka luar biasa,” bebernya.

Lebih lanjut dikatakan, kehadiran para dokter itu tak bisa digantikan oleh dokter sukarelawan mengingat kompetensi yang berbeda. Pihaknya bakal membahas profil dokter sukarelawan itu dengan IDI pusat.

“Apakah digantikan oleh sukarelawan dari dokter koas yang hampir selesai, atau dokter residen calon spesialis. Idealnya kalau kami kehilangan dokter spesialis penyakit dalam, penggantinya juga sesama spesialis dalam,” ucapnya.

Baca Juga: Penutupan Jalan Solo Untuk PPKM Darurat Berlanjut? Kasatlantas: Sepertinya Iya…

Di sisi lain, sebanyak 29 dokter di Kota Solo terpapar virus Corona saat ini. Menurut Adji, dari 29 dokter itu, sebanyak 20 orang menjalani isolasi mandiri. Sementara ada sembilan dokter yang dirawat di rumah sakit.

“Dokter yang dirawat di RS itu mengalami penurunan saturasi oksigen di bawah 95%, sehingga harus dirawat. Kalau yang menjalani isolasi mandiri, rata-rata tanpa gejala atau bergejala ringan,” jelasnya.



Berita Terkait
Indeks Berita
Promo & Events
Terpopuler
Berita Terkini
Indeks
Berita Video
View All

Apa yang ingin anda baca?

:
:
Night Mode
Notifications
Support
Privacy
PasswordUpdated 15 days ago