top ear
Begini Keseruan Grebeg Sewulan di Desa Bersejarah Madiun
  • SOLOPOS.COM
    Masyarakat berebut beragam sayuran dan buah-buahan di gunungan saat Grebeg Sewulan di halaman Masjid Kiai Ageng Basyariyah, Desa Sewulan, Kecamatan Dagangan, Kabupaten Madiun, Sabtu (14/9/2019) siang. (Madiunpos.com-Abdul Jalil)

Begini Keseruan Grebeg Sewulan di Desa Bersejarah Madiun

Sebanyak 14 gunungan atau buceng berisi hasil bumi dalam sekejap ludes diperebutkan ratusan warga yang memadati halaman Masjid Kiai Ageng Basyariyah, Desa Sewulan, Kecamatan Dagangan, Kabupaten Madiun, Sabtu (14/9/2019) siang.
Diterbitkan Minggu, 15/09/2019 - 17:15 WIB
oleh Solopos.com/Abdul Jalil,
2 mnt baca -

Madiunpos.com, MADIUN -- Sebanyak 14 gunungan atau buceng berisi hasil bumi dalam sekejap ludes diperebutkan ratusan warga yang memadati halaman Masjid Kiai Ageng Basyariyah, Desa Sewulan, Kecamatan Dagangan, Kabupaten Madiun, Sabtu (14/9/2019) siang.

Ratusan warga ini saling berebut untuk mendapatkan berbagai buah-buahan dan sayuran yang ditata di gunungan. Kegiatan berebut hasil bumi ini menjadi puncak Festival Grebeg Sewulan 2019.

Masing-masing warga mendapatkan sayuran dan buah-buahan sesuai dengan kemauan untuk berebut. Bagi yang kuat berebut akan mendapatkan banyak sayuran dan buah-buahan itu.

Sebelumnya, 14 gunungan ini dikirab bersama ratusan peserta keliling Kecamatan Dagangan. Ratusan peserta dari desa di Kecamatan Dagangan dan sejumlah lembaga sekolah ini menampilkan kreasi masing-masing.

Ada yang menampilkan mobil hias dengan beragam tema, tari-tarian dengan kostum unik, pertunjukan baris berbaris polisi cilik, hingga peragaan busana karnaval. Semua masyarakat tumpah ruah di jalanan menuju Majis Kiai Ageng Basyariyah.

Di halaman masjid bersejarah itu, belasan stan UMKM menawarkan berbagai produk asli dari Kecamatan Dagangan. Ada kerajinan batik, berbagai jajanan dan minumam khas, hingga kerajinan kaligrafi.

Bupati Madiun, Ahmad Dawami, yang ikut dalam kegiatan Grebeg Sewulan menuturkan Desa Sewulan merupakan desa bersejarah. Desa ini diyakini menjadi awal mula Islam beredar dan berkembang di Madiun oleh Kiai Ageng Basyariyah.

"Sejarah-sejarah seperti yang harusnya dikenalkan kepada masyarakat. Sejarah ini merupakan kearifan lokal yang harus dijadikan pelajaran bagi masyarakat," kata dia.

Kaji Mbing, sapaan akrab bupati, menyampaikan para peserta bebas mengusung tema dalam kirab tersebut. Ada pula yang mengusung tema Madiun Kampung Pesilat dan kesenian dongkrek.

"Kegiatan seperti ini juga diharapkan bisa meningkatkan perekonomian masyarakat di sekitar Sewulan. Saya berharap kegiatan seperti ini bisa diselenggarakan secara konsisten," kata dia.

Editor : Suharsih ,
LIKE di sini untuk lebih banyak informasi terbaru di Solopos.com
Kata Kunci :

berita terkini

%d blogger menyukai ini: