top ear
Kompleks pabrik PT Rayon Utama Makmur (RUM) di Desa Plesan, Kecamatan Nguter, Kabupaten Sukoharjo,  Jumat (23/2/2018). (Bisnis-Dok)
  • SOLOPOS.COM
    Kompleks pabrik PT Rayon Utama Makmur (RUM) di Desa Plesan, Kecamatan Nguter, Kabupaten Sukoharjo, Jumat (23/2/2018). (Bisnis-Dok)

Bau Limbah Masih Tercium, Ini Penyebabnya Versi Manajemen PT RUM Sukoharjo

PT RUM Sukoharjo menyatakan telah memasang beberapa mesin tambahan instalasi pengolahan limbah di pabrik untuk menghilangkan bau.
Diterbitkan Selasa, 18/08/2020 - 18:09 WIB
oleh Solopos.com/R Bony Eko Wicaksono
2 menit baca

Solopos.com, SUKOHARJO -- Sekretaris PT Rayon Utama Makmur atau RUM Sukoharjo, Bintoro Dibyoseputro, menyatakan telah memasang beberapa mesin tambahan instalasi pengolahan limbah di pabrik untuk menghilangkan bau.

Instalasi itu seperti NaHS creps Machines dan Heat Exchanger. Mesin NaHS creps Machines berfungsi untuk mengurai H2S yang dicampur dengan cairan NaOH seperti air sabun. Sedangkan mesin NaHS creps Machines berfungsi sebagai mesin pendingin.

Hal itu dikatakan Bintoro saat diminta tanggapannya mengenai warga sekitar pabrik di Nguter yang memukul kentungan tanda bahaya lantaran tak tahan dengan bau limbah dari perusahaan tekstil tersebut.

Hajatan Pernikahan Jadi Klaster Covid-19, Bupati Sukoharjo Minta Warga Tahan Diri Dulu

Bintoro menyebut saat melakukan pemeliharaan atau maintenance, petugas PT RUM Sukoharjo terpaksa membuka pipa pengolahan limbah. Kala itu, kadang-kadang limbah udara keluar dan tertiup angin sehingga baunya tercium sampai permukiman warga.

“Mohon maaf saat melakukan maintenance harus membuka pipa pengolahan limbah. Ke depan, kami upayakan dengan alat sedot dan pelindung pipa portabel,” kata dia, Selasa (18/8/2020).

Sebagaimana diberitakan, puluhan warga di RT 001 dan RT 002, RW 009, Dusun Ngrapah, Desa Gupit, Kecamatan Nguter, Sukoharjo, kembali memukul kentungan lantaran tak kuat menghirup bau busuk dari PT RUM.

Tak Kuat Hirup Bau Limbah PT RUM, Warga Nguter Sukoharjo Pukul Kentungan Tanda Bahaya!

Pemukulan kentungan sebagai simbol tanda bahaya saat masyarakat kembali menghirup limbah udara dari PT RUM Sukoharjo. Informasi yang dihimpun Solopos.com, Selasa (18/8/2020), warga di Dusun Ngrapah, Desa Gupit, Nguter, menghirup bau busuk saat malam hari.

Menyengat Hidung

Dusun itu jadi wilayah terparah terdampak limbah udara lantaran jarak rumah penduduk dengan tembok pembatas area pabrik hanya sekitar 50 meter. Ada 150 keluarga yang tinggal di wilayah RT 001 dan RT 002, Dusun Ngrapah, Desa Gupit.

Mereka hampir setiap hari menghirup bau busuk dari pabrik produsen serat rayon itu. “Tadi malam, bau busuk masih menyengat hidung. Kami tak bisa tidur nyenyak saat malam hari. Bayangkan saja jika harus menghirup bau busuk setiap hari,” kata Ketua RW 009, Dusun Ngrapah, Semin, saat berbincang dengan Solopos.com, Selasa.

Cegat Mobil Di Depan Markas, Polsek Banjarsari Solo Gagalkan Pengiriman Ratusan Liter Ciu

Warga telah melakukan berbagai upaya supaya terbebas dari persoalan limbah udara PT RUM Sukoharjo. Upaya itu mulai dari unjuk rasa, mengadu ke instansi terkait dan lembaga negara seperti Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Warga bahkan sudah mengadukan masalah itu ke Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM). Namun, hingga kini, penanganan limbah udara belum tuntas.

“Tuntutan warga hanya kembali menghirup udara segar yang diberikan Allah SWT. Kami tak mempermasalahkan suara bising dari mesin produksi. Kami hanya ingin menghirup udara segar setiap hari,” ujar dia.


Editor : Profile Suharsih
LIKE di sini untuk lebih banyak informasi terbaru di Solopos.com

berita terkait

berita terpopuler

Iklan Baris

Properti Solo & Jogja

berita terkini