Banyumas Ternyata Punya Musik Khas Mirip Beat Box
Solopos.com|jateng

Banyumas Ternyata Punya Musik Khas Mirip Beat Box

sJemblung, musik tradisional asal Banyumas disebut mirip seperti beat box yang meniru berbagai alat musik dengan suara mulut.

Solopos.com, BANYUMAS-- Musik etno atau tradisional Indonesia akhir-akhir ini disorot tajam oleh media, baik dalam negeri maupun luar negeri semenjak gelombang lagu-lagu nelangsa dari Alm. Didi Kempot serta gebrakan Lathi yang dibuat oleh Weird Genius hingga menuai ratusan juta view di Youtube.

Etnomusikolog milenial, Luqmanul Chakim, mengatakan telah melakukan riset dengan mengunjungi berbagai daerah di Indonesia. Perjalanan etnomusikolognya yang dia lakukan saat masih belajar di Institut Seni Indonesia (ISI ) Surakarta dia awali di kota asalnya, yaitu Wonosobo.

Di Wonosobo, Luqman, panggilan akrabnya  melakukan riset dan dokumentasi mengenai alat musik Bundengan, sebuah alat musik berbasis kowangan. Kowangan sendiri adalah sebuah tudung yang lazim digunakan pengembala bebek atau yang dikenal oleh masyarakat setempat dengan sebutan Sontoloyo  untuk melindungi diri dari paparan matahari dan hujan.

Luqmanul Chakim, etnimuskolog
Luqmanul Chakim, etnimuskolog (Dokumentasi Luqmanul Chakim)

Baca Juga : Ini Dia 8 Curug di Desa Wisata Ketenger yang Mirip di Swiss

‘Bunyi Sembunyi’, karya yang dia buat juga dikatakan sebagai hasil inspirasi dari keberadaan alat musik tradisional yang semakin berkurang, baik pemainnya maupun peminatnya. Selain instrument Bundengan, Luqman juga memasukkan unsur kesenian khas Banyumas, bernama Jemblung.

Dalam kunjungannya di Banyumas saat itu, dia mencari kelompok pemain Jemblung dan diakui sangat sulit. Meskipun pada  akhirnya kelompok pemain Jemblung ditemukan, rata-rata pemainnya sudah lanjut usia

“Bagi saya, semua musik tradisional mempunyai keunikan, seperti Jemblung yang hampir mirip Kecak, di mana Gamelan atau Calung dimainkan menggunakan mulut. Bagi saya ini seperti beat box yang meniru berbagai alat musik dengan suara mulut, jangan sampai ini punah,” kata Luqman kepada Solopos.com.

Baca Juga : Telaga Kumpe di Banyumas Dipercaya Bekas Pijakan Kaki

Luqman yang juga pernah menempuh studi Journalism dan Mass Communication di Thammasat University, Bangkok–Thailand selama  1 tahun pada 2015 silam ini juga menelusuri Demak dengan melakukan riset pada alat musik  unik yang dibuat oleh masyarakat setempat bernama Terompet Ngomong, dan dia juga sampai pernah terbang ke Lombok untuk penelitian instrument Gule Gendhing.

Luqmanul Chakim, produser musik etno
Luqmanul Chakim, produser musik etno (Dokumentasi Luqmanul Chakim)

Luqman juga pernah berkolaborasi dengan komposer Australia dalam acara Mapping Melbourne  pada tahun 2018 dan juga tampil di acara The Sound of Shadows di Sidney dan Melbourne di tahun yang sama.

Sebagai seorang etnimusikolog, dia sering mengunggah karya-karyanya di kanal sosial medianya, baik di Instagram @luq_music, Twitter @luq_music dan kanal Youtube Luqmanul Chakim. Salah satu karyanya selain ‘Bunyi Sembunyi’ adalah mengarasemen lagu Jawa ‘Lir-Ilir’ dengan memadukan suara Bundengan, Gamelan Jawa, Beat Box dan juga EDM.

Saat ini, dirinya sedang menggarap sebuah karya musik yang memadukan bunyi khas Wonosobo menjadi sebuah satu kesatuan bunyi dalam karya musik digital. Musik ini dia dedikasikan kepada warga perantauan Wonosobo di manapun berada supaya rasa kangen terhadap kampung halaman bisa terobati.



Berita Terkait
Indeks Berita
Promo & Events
Terpopuler
Berita Terkini
Indeks
Berita Video
View All

Apa yang ingin anda baca?

:
:
Night Mode
Notifications
Support
Privacy
PasswordUpdated 15 days ago