top ear
Ilustrasi hotel-hotel di Kota Semarang. (accorhotels.com)
  • SOLOPOS.COM
    Ilustrasi hotel-hotel di Kota Semarang. (accorhotels.com)

Banyak Hotel di Semarang Dilego Online

Pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia selama setahun terakhir memberi dampak negatif bagi hotel-hotel di Kota Semarang, Jateng.
Diterbitkan Jumat, 19/02/2021 - 22:45 WIB
oleh Solopos.com/Imam Yuda Saputra
2 menit baca

Solopos.com, SEMARANG — Pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia selama setahun terakhir memberi dampak negatif bagi industri perhotelan di Kota Semarang, Jawa Tengah. Banyak hotel di ibu kota Jateng itu yang sepi pengunjung hingga omzet pun turun drastis.

Buntutnya, ada sejumlah hotel di Semarang yang mulai dijual secara online melalui situs web jual-beli. Pantauan Semarangpos.com—grup Solopos.com dari laman jual beli online, olx.co.id, ada beberapa hotel di Kota Semarang hingga Bandungan di Kabupaten Semarang yang ditawarkan dengan harga miliaran rupiah.

Seperti hotel di wilayah Jl. Dr. Wahidin, Kota Semarang. Hotel dengan luas bangunan 1.000 m2 itu ditawarkan dengan harga Rp35 miliar sejak empat hari lalu, atau Selasa (16/2/2021). Pun demikian dengan hotel bintang 3 yang terletak di sekitar kawasan Bandara Internasional Jenderal Ahmad Yani, Kota Semarang. Bangunan tiga lantai dengan 40 kamar tersebut dijual dengan harga Rp50 miliar.

Baca Juga: Peluang Bisnis Bakso Waralaba

Sekretaris DPD Indonesia Hotel General Manager (IHGM) Jawa Tengah (Jateng), Heri Kristanto, mengakui jika saat ini kondisi bisnis perhotelan memang tengah terpuruk. Kondisi itu pun membuat sejumlah pemilik atau owner memutuskan untuk menjual hotelnya.

“Tidak menampik memang kondisi bisnis perhotelan saat ini sedang tidak bagus. Salah satunya dampak pandemi. Jadi ya tidak menutup kemungkinan jika ada owner yang sudah tidak kuat membayar kewajiban [operasional] hotel memilih untuk menjualnya,” tutur Heri kepada Solopos.com, Jumat (19/2/2021).

Okupansi

Heri menambahkan dalam industri perhotelan saat ini adalah masa low season. Masa di mana orang paling sedikit berkunjung karena minimnya waktu liburan.

Pada kondisi normal atau sebelum pandemi, rata-rata okupansi hotel di Semarang berkisar antara 40-45%. Namun, saat ini rata-rata okupansi hotel berada di angka 20-25% sudah cukup bagus.

Baca Juga: Peluang Bisnis Makanan Beku

“Sudah low season, ditambah lagi pandemi. Ibarat sudah jatuh tertimpa tangga. Sudah sepi, ditambah regulasinya membatasi orang berkunjung. Kalau tidak ada pembatasan, sebenarnya bisnis masih bisa bertahan. Ini jangankan okupansi, MICE [meetings, incentives, conferencing, and exhibitions] juga sepi,” keluhnya.

Heri pun berharap pemerintah turun tangan untuk membantu industri perhotelan pada masa pandemi seperti saat ini. Salah satunya dengan membebaskan pajak perhotelan.

“Kalau enggak ada campur tangan pemerintah, sulit bagi hotel bertahan. Terutama, hotel-hotel bintang 3 ke bawah,” imbuhnya.

KLIK dan LIKE untuk lebih banyak berita Solopos

 


Editor : Profile Rahmat Wibisono
LIKE di sini untuk lebih banyak informasi terbaru di Solopos.com

berita terpopuler

Iklan Baris

berita terkini


Cek Berita Lainnya