top ear
Ilustrasi Doa (Solopos/Whisnupaksa)
  • SOLOPOS.COM
    Ilustrasi Doa (Solopos/Whisnupaksa)

Banyak Bencana, Sabar Nikmat Allah Lebih Banyak

Tentang Islam kali ini tentang hikmah di balik musibah.
Diterbitkan Sabtu, 11/01/2020 - 04:00 WIB
oleh Solopos.com/Ichsan Kholif Rahman
2 menit baca

Solopos.com, SOLO – Kehidupan manusia tak pernah lepas dari cobaan dan ujian yang seringkali datang tiba-tiba. Berbagai cobaan sejatinya sebagai pengingat agar manusia senantiasa meningkatkan ketakwaan.

Bukan berarti setiap bencana dan musibah itu merupakan azab kepada manusia karena berbuat zalim. Berprasangka baik kepada Allah bahwa setiap cobaan adalah wujud kasih sayang Allah untuk selalu menjaga keimanan.

Ustaz alumni program khusus Pondok Pesantren Al-Bukhari, Joko Prasetyo, saat dijumpai Solopos.com di sela-sela kegiatannya, Kamis (9/1/2020) mengatakan, banyak ayat Al-Qur’an dan hadis yang mengulas tentang bencana dan musibah.

Kesabaran semestinya menjadi hal mendasar bagi setiap muslim ketika menerima cobaan. Selanjutnya setiap muslim semestinya bermuhasabah, mengevaluasi kesalahan dan dosa untuk bertobat kepada Allah.

Allah berfirman, “hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.” (Q.S. Ali-Imran: 200).

Melalui ayat tersebut Allah memerintahkan hambanya untuk bersabar dan bertakwa. Ia menyebut tidak seluruhnya bencana sebagai pertanda dosa-dosa umatnya.

Hal itu mengacu pada umat Nabi Luth yang habis karena bencana. Menurut Ustaz Joko Prasetyo, musibah berarti ganda, yakni ujian keimanan dan akibat perilaku buruk manusia itu sendiri.

“Bencana dalam skala besar berupa banjir atau tanah longsor salah satunnya akibat manusia itu sendiri yang merusak alam. Tetapi manusia tidak tahu maksud dari Allah memberi bencana itu apa, sebagai muslim utamakan husnuzon pada Allah,” ujarnya.

Dia menambahkan bencana alam seperti banjir tentunya merugikan orang dalam skala besar tanpa memandang saleh maupun zalim. Namun, dua karakter orang itu menyikapi bencana alam dengan cara berbeda sesuai kualitas manusianya.

Ia mencontohkan rekan-rekannya banyak yang rugi besar karena sarung, kitab, dan sembako sebagai sumber penghidupannya hancur terbawa air. Bukannya bersedih, rekan-rekannya justru menjadi sukarelawan untuk membantu korban-korban lainnya yang lebih membutuhkan.

Menurutnya, kualitas orang saleh dan berserah diri justru berdoa setiap ujian yang berikan Allah sebagai penggugur dosa-dosa yang telah diperbuat. Ia menjelaskan kebanyakan manusia justru menghitung setiap musibah yang diberikan Allah, tetapi melupakan nikmat.

Padahal, nikmat Allah yang diberikan tidak pernah sebanding dengan sedikit ujian. Dalam Riwayat Nabi Ayub ada yang menyebutkan sakit kulit selama 7 atau 18 tahun lamannya. Istri Nabi Ayub selalu meminta Nabi Ayub meminta pada Allah untuk menyembuhkan sakit kulitnya.

“Jawaban Nabi Ayub justru sakit yang diberikan Allah hanya tujuh atau 18 tahun tetapi sudah diberi kenikmatan Allah sepanjang 70 tahun. Ini bagian dari muhasabah contoh yang sangat jelas ketika seseorang sedang sakit,” imbuhnya.

Ia menjelaskan Islam sangat menjunjung rasa persatuan muslim ibarat sebuah bangunan. Ketika melihat saudarnya sedang menjalani cobaan tentunya sebagai seorang muslim ber-tasliyah atau menghibur.

Hal yang paling kecil yakni mengingatkan kesabaran seperti firman Allah, namun apabila memiliki kelebihan rezeki bisa disalurkan.

 

Editor : Profile Chelin Indra Sushmita
LIKE di sini untuk lebih banyak informasi terbaru di Solopos.com
Kata Kunci : #islam #Tentang Islam

Properti Solo & Jogja

Iklan Baris

berita terkait