Bahaya! 5-10 Persen Pengidap HIV di Solo Tak Lagi Mengakses Obat ARV

Sekitar 5-10 persen pengidap HIV di Solo diketahui sudah tidak mengakses obat antiretroviral atau ARV, padahal itu penting untuk hambat virus.
Bahaya! 5-10 Persen Pengidap HIV di Solo Tak Lagi Mengakses Obat ARV
SOLOPOS.COM - Ilustrasi anak dengan HIV/AIDS. (Freepik)

Solopos.com, SOLO — Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Solo mendeteksi ada 5-10 persen pengidap HIV yang lolos pantau alias tidak lagi mengakses obat antiretroviral (ARV).

Hal itu memunculkan kekhawatiran lantaran ARV sangat dibutuhkan untuk memperlambat perkembangan virus HIV agar tak naik tingkat menjadi AIDS. Dengan terapi tersebut, pengidap virus HIV dapat bertahan hidup lebih lama dan beraktivitas normal seperti orang sehat pada umumnya.

Sementara itu, KPA Solo merilis jumlah pengidap HIV/AIDS yang terdeteksi di Kota Bengawan terus bertambah. Hanya dalam enam bulan yakni Januari-Juni 2021, temuan pengidap HIV/AIDS baru mencapai 46 orang.

Baca Juga: 36.000-An Warga Solo Belum Divaksin Covid-19, Alasannya Sibuk

Dari data tersebut secara kumulatif jumlah pengidap HIV /AIDS di Solo pada 2005 hingga Juni 2021 mencapai 946 orang. Perinciannya, kasus HIV sebanyak 417 orang dan AIDS 529 orang.

Sekretaris KPA Kota Solo, Widdi Srihanto, mengatakan 154 pengidap HIV/AIDS meninggal dunia. KPA terus melakukan sosialisasi pencegahan kepada masyarakat umum dan kelompok risiko tinggi.

“Kami memetakan lokasi-lokasi mana saja yang termasuk hotspot. Kami mendorong mereka mau melakukan pemeriksaan mandiri. Di Solo ada 25 fasilitas layanan kesehatan yang menyediakan voluntary counseling and test [VCT],” katanya, Selasa (12/10/2021).

Baca Juga: Mahamenteri Tedjowulan Akui Belasan Bangunan Keraton Solo Rusak Parah

8 Kasus Butuh Perhatian Khusus

Widdi mengatakan biasanya temuan kasus AIDS lebih tinggi dibandingkan HIV. Hal itu dikarenakan mereka yang mengidap HIV masih bisa beraktivitas dibandingkan pengidap AIDS.

Kehadiran WPA sangat penting menyokong temuan kasus baru. Di samping itu, mereka juga bergerak memberi dukungan kepada mereka untuk tetap mengakses ARV.

“Kesulitan WPA adalah menemukan alamat tempat tinggal yang kadang tak sesuai KTP. Biasanya mereka dapat data dari Puskesmas saat VCT dilakukan. WPA menindaklanjuti sebagai pendamping,” jelasnya.

Baca Juga: Bos Selat Vien’s Solo Buka-Bukaan Kiat Sukses sampai Punya 13 Cabang

Wakil Wali Kota Solo, Teguh Prakosa, mengatakan ada delapan kasus baru yang membutuhkan perhatian khusus. Peran WPA menjadi krusial untuk penanganan tersebut.

Ia meminta WPA bersama pemerintah bekerja sama meningkatkan kesadaran masyarakat untuk mencegah persebaran virus HIV/AIDS. “Mari sama-sama memerangi HIV/AIDS ini dengan edukasi, pendampingan, dan pendidikan karakter sejak dini,” katanya.

Berita Terkait
    Promo & Events
    Berita Terkini
    Indeks Berita

    Apa yang ingin anda baca?

    :
    :
    Night Mode
    Notifications
    Support
    Privacy
    PasswordUpdated 15 days ago