top ear
Tutup Iklan
Rina Susi Cahyawati/Istimewa
  • SOLOPOS.COM
    Rina Susi Cahyawati/Istimewa

Ayo Membaca

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (9/10/2019). Esai ini karya Rina Susi Cahyawati, guru Bahasa Indonesia di MTsN 4 Boyolali, Jawa Tengah. Alamat e-mail penulis adalah rina.susicahyawati@gmail.com.
Diterbitkan Senin, 4/11/2019 - 03:00 WIB
oleh Solopos.com/Rina Susi Cahyawati
3 menit baca

Solopos.com, SOLO -- Literasi tidak akan pernah mati. Ini adalah program jangka panjang karena pada hakikatnya literasi bagian dari aktivitas pembelajaran. Bukankah long life education itu benar adanya?

Literasi akan berbanding lurus dengan bertualang menemukan serpihan-serpihan ilmu, wawasan, hingga pelajaran kehidupan. Bersama mengembangkan khazanah keilmuan dan mewujudkan cita-cita nasional.

Sayangnya indra pendengar kita mengakrabi kabar-kabar yang tidak melegakan berkaitan aktivitas literasi di Indonesia yang konon kabarnya terkurung pada dinding-dinding peringkat rendah di seluruh dunia.

Menurut Retnaningdyah et. al. (2016, hal. i) dalam PIRLS 2011 International Results in Reading, Indonesia menduduki peringkat ke-45 dari 48 negara peserta dengan skor 428 dari skor rata-rata 500 (IEA, 2012).

Dalam lembar yang sama dituliskan uji literasi membaca dalam PISA 2009 menunjukkan peserta didik Indonesia berada pada peringkat ke-57 dengan skor 396 (skor rata-rata OECD 493), sedangkan PISA 2012 menunjukkan peserta didik Indonesia berada pada peringkat ke-64 dengan skor 396 (skor rata-rata OECD 496) (OECD, 2013).

Menggugah Banyak Pihak

Kesadaran akan pentingnya literasi telah menggugah banyak pihak. Ada yang harus dibenahi dan ada pula yang harus diupayakan sedemikian rupa. Banyak jalan yang ditempuh untuk membangunkan Indonesia dari prestasi literasi yang mengkhawatirkan.

Kegiatan membaca lebih kurang 15 menit sebelum kegiatan pembelajaran dimulai adalah salah satu solusi yang dicanangkan pemerintah untuk dipatuhi. Sebagian besar jenjang pendidikan di Indonesia bersepakat untuk melaksanakan.

Tidak cukup sampai di sini, nyatanya masih banyak cara yang dilakukan untuk mendongkrak semangat berliterasi peserta didik di seluruh Indonesia. Sayembara kepenulisan banyak diselenggarakan sebagai pemancing minat menulis bagi guru dan masyarakat umum.

Sayembara tersebut berbentuk penulisan buku anak yang dilengkapi dengan ilustrasi. Penulis buku tidak hanya bekerja secara mandiri tetapi dituntut melakukan semacam kerja sama dengan ilustrator, penata letak, hingga percetakan.

Mereka juga dituntut melek literasi digital berkenaan dengan pengoperasian program Indesign sebagai salah satu program komputer tentang teknis penulisan buku. Upaya lainnya adalah dengan melakukan semacam terobosan baru.

Melebarkan sayap untuk menjalin kerja sama dengan pihak lain. Datangkanlah pelaku media cetak ke ruang pendidikan agar para pendidik dan peserta didik menyerap ilmu baru sekaligus menghimpun energi positif. Program Ayo Membaca bersama Solopos adalah sebuah kunjungan positif yang memperkenalkan media cetak ke dalam ruang-ruang pendidikan.

Aktivitas Membaca

Tujuannya sederhana, sebagai bagian dari penyokong kemajuan literasi bagi para peserta didik dengan mengajak mereka membaca bersama dan menceritakan kembali isi berita yang telah dibaca.

Program Ayo Membaca bersama Solopos menawarkan aktivitas membaca secara massal yang dilakukan oleh peserta didik didampingi kepala sekolah, guru, dan pegawai. Surat kabar yang telah diberikan sebelumnya oleh tim Harian Solopos harus dibaca.

Tidak ada batasan berita yang harus dicerna. Setelah membaca, kegiatan lanjutannya adalah menceritakan kembali isi berita yang telah dibaca. Yang menarik kegiatan ini juga membuka kelas sharing jurnalistik, yaitu kegiatan pengenalan kegiatan wartawan.

Melalui forum ini peserta didik dapat memuaskan dahaga mereka dengan melakukan kegiatan langka, yaitu tanya jawab bersama wartawan Solopos. Program Ayo Membaca bersama Solopos telah menjadi semacam fenomena baru di wilayah Soloraya.

Banyak sekolah dasar dan sekolah menengah yang mengadakan kegiatan semacam ini. Program ini memang tidak secara signifikan meningkatkan kemampuan literasi peserta didik.

Mencoba

Kunjungan selama lebih kurang dua jam dengan serangkaian acara lainnya tampaknya berat untuk menaikkan daya baca dan kemampuan menulis peserta didik dengan hasil yang optimal.

Terlalu naïf jika memasang target terlalu tinggi sementara tidak ada tindak lanjut dari kegiatan besar yang telah dilakukan. Setidaknya ini dapat dijadikan semacam pionir untuk melakukan upaya-upaya lainnya.

Membuka networking dengan media yang mengakrabi aktivitas membaca, menulis, dan berkaitan dengan kegiatan membuka cakrawala khazanah keilmuan merupakan suatu solusi positif yang tidak ada salahnya untuk dicoba.

Pendiri Instagram, Kevin Systrom, berkata,”Saya ingin mengatakan bahwa satu hal yang membuat semua orang yang berhasil mengubah dunia memiliki kesamaan adalah bahwa mereka setidaknya mencoba.” Intinya adalah mencoba.

Jadi, mari mencoba upaya baru dalam meningkatkan kemampuan berliterasi dan menunggu kebaikan yang akan datang menyertainya. Literasi butuh aksi, bukan sekadar janji untuk beraksi.

Editor : Profile Ichwan Prasetyo
LIKE di sini untuk lebih banyak informasi terbaru di Solopos.com
Kata Kunci : #gagasan #mimbar guru

berita terkini