top ear
Suami istri asal Sidorejo RT 001/RW 001 Mangkubumen, Banjarsari, Solo, Syarifudin Hidayatullah, 31, dan Ayu Endang Pujiati, 29, mendampingi putra kedua mereka, Muhammad Arkan Naufal Hidayatullah, Kamis (4/3/2021) siang. (Solopos/Kurniawan)
  • SOLOPOS.COM
    Suami istri asal Sidorejo RT 001/RW 001 Mangkubumen, Banjarsari, Solo, Syarifudin Hidayatullah, 31, dan Ayu Endang Pujiati, 29, mendampingi putra kedua mereka, Muhammad Arkan Naufal Hidayatullah, Kamis (4/3/2021) siang. (Solopos/Kurniawan)

Ayah Bayi Tanpa Tempurung Kepala Di Solo Pilih Tak Bekerja Demi Dampingi Anak

Ayah bayi yang lahir tanpa tempurung kepala di Mangkubumen, Banjarsari, Solo, akhirnya pilih tidak bekerja supaya bisa terus dekat sang anak.
Diterbitkan Kamis, 4/03/2021 - 17:39 WIB
oleh Solopos.com/Kurniawan
2 menit baca

Solopos.com, SOLO -- Warga Solo, Syarifudin Hidayatullah, 31, akhirnya harus memilih untuk tidak bekerja demi bisa terus menerus mendampingi bayinya yang lahir tanpa tempurung kepala.

Syarifudin dan Ayu Endang Pujiati, 29, adalah suami-istri dari keluarga tidak mampu asal Kampung Sidorejo RT 001/RW 001 Kelurahan Mangkubumen, Banjarsari, Solo.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Syarifudin harus bekerja serabutan dan menjadi buruh harian lepas. Tapi dua pekan terakhir laki-laki berperawakan kurus itu harus rela tak bekerja untuk mendampingi putra keduanya.

Baca Juga: Kelainan Bayi Tanpa Tempurung Kepala Di Solo Diketahui Sejak 4 Bulan Kandungan

Bayi kedua mereka yang diberi nama Muhammad Arkan Naufal Hidayatullah itu lahir di Solo pada 22 Februari 2021 dengan kelainan tanpa tempurung kepala.

Kondisi kelainan yang setahu Syarifudin tak bisa dilakukan tindakan medis. Dengan kondisi itu Syarifudin dan Ayu hanya bisa pasrah kepada Tuhan.

Mereka menyerahkan sepenuhnya nasib sang putra kepada Tuhan. Suami istri yang tinggal di perkampungan padat itu tidak akan melawan takdir.

Baca Juga: Bayi Tanpa Tempurung Kepala Di Solo Harus Dibantu Oksigen 24 Jam/Hari

Setelah dirawat di RS Brayat Minulya Solo selama tujuh hari, Arkan akhirnya dibawa pulang pada Senin (1/3/2021). Kendati kondisi bayi yang lahir tanpa tempurung kepala di Solo itu stabil, Arkan harus dibantu oksigen untuk pernapasan.

Bantuan Pencahayaan

Arkan juga mendapat bantuan pencahayaan di boks bayi untuk menjaga kondisi tubuhnya tetap hangat. Sedangkan untuk mencegah terjadinya infeksi pada kepala Arkan, orang tuanya memasang kain kasa dan cairan NaCl.

“Saya kerja serabutan, buruh harian lepas. Sekarang tidak bekerja karena ngurusi anak saya. Pikiran tidak tenang dua pekan ini. Daripada kepikiran saat bekerja, mending saya di rumah bareng anak,” katanya, Kamis (4/3/2021).

Baca Juga: Masjid Senilai Rp5,7 Triliun Dari Pangeran Arab Dibangun Mulai Sabtu Di Gilingan Solo

Sedangkan sang istri, Ayu mengaku tidak bekerja alias menjadi ibu rumah tangga. Mereka merasa sanat terbantu dengan tak adanya biaya yang harus dikeluarkan ketika persalinan dan perawatan Arkan di rumah sakit Solo.

Apalagi persalinan Arkan yang lahir tanpa tempurung kepala di RS Brayat Minulya Solo dilakukan secara sesar yang otomatis menambah beban biaya medis. “Kami dibantu BPJS KIS, sehingga tidak ada biaya sama sekali. Alhamdulillah. Proses persalinan Dik Arkan secara sesar,” imbuh Ayu.

Kendati merasa berat melihat kondisi sang putra, Ayu dan suami kompak merawatnya di rumah. Seperti dengan rutin memberikan minum susu formula menggunakan selang dan menjaga suhu tubuh agar tetap normal.


Editor : Profile Suharsih
LIKE di sini untuk lebih banyak informasi terbaru di Solopos.com

berita terpopuler

Iklan Baris

berita terkini


Cek Berita Lainnya