[x] close
top ear
Agus Widanarko (kiri) mendongeng di hadapan puluhan anak di Dusun Bendo, Desa Bendosari, Kecamatan Sawit, dengan memakai kostum wayang, Minggu (16/2/2020). (Nadia Lutfiana Mawarni/Solopos)
  • SOLOPOS.COM
    Agus Widanarko (kiri) mendongeng di hadapan puluhan anak di Dusun Bendo, Desa Bendosari, Kecamatan Sawit, dengan memakai kostum wayang, Minggu (16/2/2020). (Nadia Lutfiana Mawarni/Solopos)

Avengers Bubar, Spider-Man Jadi Anak Durhaka di Boyolali

Danar, dengan kostum Gatotkaca, membawakan dongen Malin Kundang dengan gimik karakter superhero Spider-Man dan Batman.
Diterbitkan Senin, 17/02/2020 - 10:05 WIB
oleh Solopos.com/Nadia Lutfiana Mawarni
3 menit baca

Solopos.com, BOYOLALI - Dua tokoh superhero populer Spider-Man dan Batman menjadi sarana untuk menghantarkan dongeng anak-anak di Boyolali. Memakai tokoh yang familier tentu membuat anak-anak menjadi tertarik menyimak.

“Siapa yang tahu tentang cerita Malin Kundang?” ujar Agus Widanarko mengawali dongeng di pinggir Embung Bendosari di Dusun Bendo RT 007, RW 003 Desa Bendosari, Kecamatan Sawit, Boyolali, Minggu (16/2/2020).

”Karena di samping kita ada tokoh Spider-Man, kita ganti tokohnya menjadi Malin Spider-Man bagaimana?” lanjut Danar, yang disambut gelak tawa puluhan anak.

Ketemu Atau Tidak, Pencarian Kakek-Kakek Hilang di Dlingo Boyolali Dihentikan Senin

Malin Kundang adalah dongeng tentang anak yang dikutuk menjadi batu karena durhaka kepada ibunya. Cerita asal Sumatera Barat itu dibumbui dengan gimik tokoh Spider-Man, karakter komik Marvel yang terakhir kali muncul di film Spider-Man Far From Home. Di film terakhirnya, Spider-Man merasa kehilangan lantaran aliansi superheronya, Avengers, bubar.

Gimik ini rupanya sukses. Danar dapat dengan mudah menyisipkan pertanyaan-pertanyaan edukatif yang membuat interaksi dengan anak-anak semakin hidup.

Puluhan anak yang mendengar cerita laki-laki berkacamata ini pun tak ragu mengacungkan jari saat ditanya berbagai hal. Seperti saat dia mengatakan Malin Spider-Man akan pulang ke kampungnya menaiki kapal. Danar menyambung dengan pertanyaan disebut apakah orang yang bertugas mengemudikan kapal.

Harga Bawang Putih di Boyolali Turun Jadi Rp40.000/kg

Anak-anak itu menjawabnya dengan berteriak nahkoda bebarengan. Danar juga tak lupa menyisipkan pelajaran di akhir setiap cerita. Cerita Malin Kundang mengajarkan anak-anak agar tidak berperilaku sombong meskipun menjadi orang yang sukses.

Tak lupa Danar juga menyisipkan nasehat yang berhubungan dengan perilaku sehari-hari anak, misalnya beribadah tepat waktu dan tidak jajan sembarangan demi menjaga kesehatan.

Tak cuma tokoh Spider-Man, Danar juga menghadirkan tokoh pahlawan super, Batman. Danar sendiri pilih memakai kostum tokoh lokal, Gatotkaca.

Warga Boyolali Hanyut di Sungai, Sukarelawan Solo dan Karanganyar Siaga di Jembatan Mojo Jebres

Pemakaian kostum ini membuat cerita menjadi lebih menarik bagi anak-anak. Tokoh-tokoh itu memainkan peran dalam dongeng yang dibacakannya.

Penyuluh Anti-Narkoba

Dua tahun terakhir Danar banyak berkeliling daerah untuk mendongeng bagi anak-anak dengan kostum wayang yang menjadi ciri khasnya. Sebelumnya Danar merupakan penyuluh antinarkoba pada Badan Narkotika Kabupaten Sukoharjo sejak 2007 silam.

Pupuk Bersubsidi Langka, Petani Selo Boyolali Berburu Pupuk di Magelang

Aktivitas mendongeng dilakukannya karena aktivitas penyuluhan tak melulu menyasar orang dewasa. Ketika berhadapan dengan anak-anak, mendongeng dengan sisipan pesan mengenai kesehatan dan bahaya narkoba menjadi cara yang efektif dan menyenangkan.

Kegiatan mendongeng ini diinisiasi Kelompok Pemuda Dusun Bendo, Desa Bendosari. Kawasan embung desa yang sekaligus menjadi ruang publik dimanfaatkan anak-anak muda Dusun Bendo.

Polisi Gagalkan Pengiriman 270 Kg Daging Sapi Gelonggongan Dari Boyolali ke Wonogiri

“Kami ingin agar anak-anak punya waktu interaksi dengan teman-temannya karena makin kesini mereka lebih suka bermain ponsel,” ujar Ketua Pemuda, Bagas Satrioaji.

Kegiatan mendongeng ini juga merupakan kegiatan perdana pemuda Dusun Bendo di tahun ini.

Sementara itu, seorang warga Bendo, Cindi Novita Dewi, merasa sangat antusias dengan kegiatan mendongeng tersebut. Selain bermain bersama puluhan teman, Cindi yang duduk di bangku kelas IV SD Negeri Bendosari ini mendapatkan pelajaran dengan cara yang berbeda.

Instagramable! Jembatan Oranye Jadi Ikon Baru Desa Tawangsari Boyolali

“Jadi belajar itu enggak harus di sekolah,” ungkap dia.


Editor : Profile Jafar Sodiq Assegaf
LIKE di sini untuk lebih banyak informasi terbaru di Solopos.com


berita terkait

berita terpopuler

Iklan Baris

Properti Solo & Jogja

berita terkini