Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca

Astrid Widayani Inisiasi Gerakan #SemuaMuridSemuaGuru di Jateng

Praktisi pendidikan di Soloraya, Astrid Widayani, didaulat menjadi inisiator Gerakan Semua Murid Semua Guru (SMSG) Provinsi Jawa Tengah.
SHARE
Astrid Widayani Inisiasi Gerakan #SemuaMuridSemuaGuru di Jateng
SOLOPOS.COM - Astrid Widayani. (Istimewa)

Solopos.com, SOLO -- Gerakan Semua Murid Semua Guru (SMSG) mendorong kolaborasi berbagai komunitas dan sukarelawan untuk mengembangkan pendidikan di Indonesia. Gerakan yang diawali dari Jakarta oleh seorang tokoh pendidikan, Najelaa Shihab itu sudah merambah ke berbagai provinsi lain, salah satunya Jawa Tengah.

Praktisi pendidikan di Soloraya, Astrid Widayani, didaulat menjadi inisiator SMSG Provinsi Jawa Tengah. Pendidikan memang menjadi panggilan jiwa bagi perempuan yang menjabat sebagai Ketua Yayasan Perguruan Tinggi Surakarta (YPTS) ini. Astrid juga aktif pada sejumlah kegiatan sosial mengajar dan membidani pembentukan program khusus penguatan soft skill dan practical skill bagi anak muda, Youth Reinforcement Program (YRP).

PromosiNimo Highland, Wisata Hits di Bandung yang Mirip Santorini Yunani

Karena itu saat diberi tanggung jawab mengembangkan pendidikan melalui program SMSG, Astrid sangat tertarik dan merasa tertantang.

"Latar belakang saya yang berkecimpung di dunia pendidikan sejak kecil sampai sekarang menjadi modal dalam menginisiasi gerakan SMSG. Dari pendidikan formal merambah ke nonformal. Saya melihat ada potensi besar [di bidang pendidikan] di Jawa Tengah secara umum dan Kota Solo khususnya. Banyak komunitas yang bergerak di bidang pendidikan," ujar Direktur Direct English Solo ini.

7 Klaster

Sayangnya potensi melimpah itu, menurut Astrid Widayani, belum dikelola dengan maksimal. Padahal mereka memiliki tujuan besar yang sama yaitu mengembangkan pendidikan. Untuk itu Astrid menyodorkan SMSG sebagai wadah komunitas yang peduli pendidikan untuk kerja barengan atau bersama-sama.

"SMSG merupakan jaringan publik berdaya yang belajar, bergerak, dan bermakna bersama karena pendidikan adalah tanggung jawab bersama. Gerakan dan jaringan komunitas pendidikan di luar sekolah dan lembaga kursus. SMSG digerakkan oleh publik, sukarelawan, dan orang-orang yang peduli terhadap pendidikan," ungkap dia.

Kandidat doktor Business Transformation and Entrepreneurship, Business School Lausanne, Swiss ini mengaku sedang gencar memperkenalkan SMSG kepada publik di Jawa Tengah. Astrid memiliki harapan bisa mengajak komunitas dan orang peduli pendidikan untuk bergerak dan bekerja bersama. SMSG tidak hanya fokus mengajar tetapi juga belajar bersama karena kondisi saat ini menuntut sektor pendidikan berkembang mengikuti kemajuan zaman.

SMSG menawarkan tujuh klaster, yakni:

  1. Literasi
  2. Pendidikan keluarga, home schooling dan PAUD
  3. Pendidikan karakter
  4. Pengembangan anak muda
  5. Teknologi pendidikan
  6. Pengembangan guru, dan
  7. Pendidikan untuk semua.

Astrid memulai SMSG dari salah satu klaster, yakni pengembangan anak muda melalui YRP. Ada sekitar 40 komunitas yang bergerak di bidang pengembangan anak muda. Jumlah ini belum termasuk komunitas lain yang bergerak di bidang masing-masing karena SMSG menyentuh seluruh lini pendidikan.

"Pendidikan itu dinamis dan butuh banyak pemikiran, ide, serta peran banyak pihak sehingga jaringan ini penting. Saya awali dengan edukasi. Kalau ada komunitas pendidikan ayo kita kerja bareng," tutur Astrid.

Kendala

Perempuan yang juga menjabat sebagai Sekretaris Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (Aptisi) Komisariat 2 Surakarta itu mengakui banyak kendala mengadang upaya mendorong kerja sama antarkomunitas. Beberapa di antaranya meliputi kendala budaya dan dana. Dia berharap komunitas mau lebih terbuka dan membuka diri terhadap peluang kerja sama. Nilai positif bekerja sama antarkomunitas adalah jaringan semakin luas, bisa saling memberi masukan program baru, dan lain-lain.

"Semua komunitas memiliki visi misi yang baik, tapi visi besar memajukan pendidikan harus diangkat bersama. Saya kira kalau kerja barengan akan lebih banyak peluang. Sayang sekali dengan potensi komunitas, organisasi pendidikan yang ada, jumlahnya banyak tapi belum mau kerja bareng. Ayo kerja barengan," ungkap dia.

Astrid Widayani memotret kondisi saat ini dimana pemerintah mewajibkan siswa belajar di rumah dengan pendampingan orangtua. Salah satu klaster SMSG memiliki program pendidikan di rumah atau home schooling. Di Solo dan sekitarnya terdapat komunitas yang peduli dengan pendidikan di rumah.

"Di Solo saja banyak komunitas yang peduli pendidikan karakter, home schooling, dan lain-lain. Silakan digandeng supaya esensi pendidikan saat belajar di rumah juga kena. Semua bisa kalau kerja barengan supaya lebih kena. Sampai sekarang pun saya masih belajar. Karena belajar tidak hanya berhenti untuk gelar. Saya ajak teman-teman untuk kerja barengan. Bagi komunitas dan organisasi pendidikan yang ingin berjuang bersama, bisa kontak saya untuk mewujudkan cita-cita mengembangkan pendidikan melalui SMSG."



Kata Kunci : Astrid Widayani
Berita Terkait
Indeks Berita
Berita Terpopular
Indeks Berita
Berita Lainnya
Indeks Berita
      Promo & Events
      Berita Terkini
      Indeks Berita
      Part of Solopos.com
      Punya akun? Silahkan login
      Daftar sekarang...
      Support - FaQ
      Privacy Policy
      Tentang Kami
      Kontak Kami
      Night Mode