Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca

Asale Desa Ngrombo Sukoharjo, Pernah jadi Persinggahan Kerabat Keraton

Masyarakat Desa Ngrombo, Sukoharjo hidup rukun dan saling bergandengan tangan walaupun dengan beragam latarbelakang pendidikan dan pekerjaan.
SHARE
Asale Desa Ngrombo Sukoharjo, Pernah jadi Persinggahan Kerabat Keraton
SOLOPOS.COM - Pengunjung berpose di tengah kampung gitar di Desa Ngrombo, Kecamatan Baki, Sukoharjo. Foto diambil belum lama ini. (Istimewa/Saryadi)

Solopos.com, SUKOHARJO — Desa Ngrombo terletak di wilayah Kecamatan Baki, Sukoharjo atau hanya sekitar lima kilometer dari kawasan Solo Baru.

Karakteristik masyarakat di Desa Ngrombo tak berbeda dengan desa lain di Kabupaten Sukoharjo. Masyarakat setempat hidup rukun dan saling bergandengan tangan walaupun dengan beragam latarbelakang pendidikan dan pekerjaan.

PromosiGelaran B20 di Jawa Timur Fokus pada Rantai Pasok UMKM

Selama ini, Desa Ngrombo dikenal sebagai kampung gitar. Ratusan perajin mulai skala kecil, menengah hingga besar memproduksi gitar sejak puluhan tahun lalu. Bahkan, beberapa produk gitar bisa menembus ke sejumlah negara di Asia dan Eropa.

Tak hanya gitar, banyak potensi desa lainnya seperti budaya, kuliner, serta wisata alam. Konon, cikal bakal Desa Ngrombo erat hubungannya dengan kerabat Keraton Solo yang kala itu dipimpin Paku Buwono (PB) VIII.

Baca Juga: Pesan Bupati Etik untuk Kepala OPD Sukoharjo: Jangan Tunda Pekerjaan!

Kala itu, rombongan kerabat Keraton Solo hendak mencari tanah yang kondisinya subur ke arah selatan. Mereka berjalan kaki menyeberangi Sungai Bengawan Solo.

“Rombongan kerabat keraton berjalan kaki selama berhari-hari demi mencari daerah bertanah subur. Mereka menyisir di pinggir hutan belantara,” kata seorang tokoh masyarakat setempat, Saryadi, saat berbincang dengan Solopos.com, Sabtu (1/1/2022).

Sesekali, rombongan kerabat Keraton Solo beristirahat untuk melepas lelah dan menyantap bekal makanan dan minuman yang dibawa.

Selepas menyantap makanan dan minuman, mereka kembali melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Biasanya, saat malam hari, rombongan kerabat Keraton Solo bermalam di tanah lapang yang kosong.

Mereka telah berjalan kaki selama berbulan-bulan namun tak kunjung menemukan daerah dengan tanah subur. “Sebagian rombongan kerabat keraton didera kelelahan fisik. Mereka telah berjalan kaki selama berhari hari,” ujar dia.

Baca Juga: 2 Terpidana Mati di Sukoharjo Belum Ajukan Grasi, Ini Catatan Kasusnya

Suatu hari, mereka beristirahat di tanah lapang yang dikelilingi pohon rindang. Mereka merasa nyaman dengan lokasi yang dikelilingi pohon rindang.Saking nyamannya, sebagian rombongan kerabat Keraton Solo enggan melanjutkan perjalanan untuk mencari tanah yang subur.

“Mereka membangun rumah dan menetap di tanah lapang yang dikelilingi pohon rindang. Letaknya tak begitu jauh dari sungai sehingga memudahkan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari,” papar dia.

Seorang warga Desa Ngrombo, Ahmad, mengatakan petilasan kerabat Keraton Solo masih ada di wilayah Desa Ngrombo. Petilasan tersebut menjadi salah satu potensi wisata sejarah yang harus dirawat dan dilestarikan. Tak sedikit masyarakat dari daerah lain berkunjung ke petilasan tersebut.



Berita Terkait
Indeks Berita
Berita Terpopular
Indeks Berita
Berita Lainnya
Indeks Berita
      Promo & Events
      Berita Terkini
      Indeks Berita
      Part of Solopos.com
      Punya akun? Silahkan login
      Daftar sekarang...
      Support - FaQ
      Privacy Policy
      Tentang Kami
      Kontak Kami
      Night Mode